Sedang Membaca
Tower of Silence, Peristirahatan Terakhir Penganut Majusi

Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ulummudin
Penulis Kolom

Mahasiswa Studi al-Qur'an dan Hadis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tower of Silence, Peristirahatan Terakhir Penganut Majusi

1 A Lubang Peletakan Jenazah Di Atas Bukit

Mentari sudah mulai menampakkan diri di ufuk timur. Cahayanya mampu menghangatkan udara yang masih diselimuti dingin. Saya bergegas untuk menyambut hari yang cerah ini. Pagi ini, saya berencana untuk mengunjungi Tower of Silence atau Dakhmeh dalam istilah setempat.  

Dakhmeh adalah suatu situs kuno peninggalan orang-orang Zoroaster atau Majusi. Letaknya berada di pinggir kota Yazd, sekitar 45 menit perjalanan dari terminal. Pengunjung tidak perlu khawatir, ada banyak bus kota yang akan mengantarkan kita kesana. Untuk mencapai dakhmeh dibutuhkan 3 kali pergantian bus dari terminal Yazd. Tarifnya cukup dengan membayar 5000 riyal untuk sekali jalan. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada saat menunggu bus, saya berkenalan dengan salah satu turis lokal yang sama akan mengunjungi dakhmeh. Namanya Omar, ia berasal dari Zahedan di provinsi Sistan-Balochistan yang berbatasan langsung dengan Pakistan. Dari namanya aku bisa menebak bahwa ia seorang Sunni. Bukan rahasia umum, jika provinsi tersebut memang mayoritas penduduknya adalah Sunni. 

Sejak berkenalan, Omar menjadi partner perjalanan saya selama menyusuri dakhmeh. Penampilan Omar sangat berbeda dengan kebanyakan masyarakat Iran yang lebih kasual dalam berpakaian. Ia masih mengenakan shalwar khomis, pakaian tradisional yang menyerupai gamis lengkap dengan celana longgarnya. pakaian tersebut lazim dikenakan oleh penduduk Pakistan dan Afghanistan. 

Setelah cukup lama, kami tiba di halte dimana dakhmeh berada. Dari sana, kami sudah melihat dua bangunan kuno di puncak bukit yang berbeda. Sebetulnya, untuk memasuki kawasan ini dikenakan tarif, tetapi berhubung di sekelilingnya belum ada pagar yang membatasi, kami dapat masuk ke sana dengan gratis. 

Kami langsung mendaki bukit pertama yang letaknya paling dekat. Pendakiannya cukup menguras tenaga ditambah dengan teriknya matahari. Bukit ini agak sepi, tidak banyak pengunjung yang datang ke sini. Kami hanya menemui dua atau tiga orang di atas sana. Kemudian, kami menuju ke bukit yang berada di seberangnya. Bukit ini lebih ramai daripada yang satunya. Bangunan ini adalah bangunan terbuka yang biasa dipakai untuk meletakkan jenazah oleh penganut Zoroaster.

Dakhmeh ini adalah bangunan terbuka yang biasa dipakai untuk meletakkan jenazah oleh penganut Zoroaster. Bangunannya tidak beratap dan berbentuk menyerupai lingkaran. Dindingnya terbuat dari lumpur dan beralaskan batu. Di bagian tengah bangunan terdapat lubang yang tidak terlalu besar dan dangkal. Lubang itu berfungsi sebagai tempat untuk meletakan jenazah. 

Akan tetapi, dakhmeh ini sudah tidak digunakan lagi. Pemerintah Iran melarang aktivitas peletakan jenazah seperti itu sejak tahun 1970. Sekarang, Ia berubah fungsi menjadi sebuah situs yang menarik wisatawan. 

Penganut Zoroastrianisme tidak menguburkan jasad orang yang sudah meninggal. Sebaliknya, Pada hari keempat setelah kematiannya, jasad akan dibawa ke atas bukit dan dibiarkan tersengat matahari atau dimakan burung pemakan bangkai.

Dalam ajaran Zoroastrianisme, jasad tidak boleh dikubur atau dibakar karena itu akan menodai kesucian alam. Mereka beranggapan orang yang meninggal akan menyatu kembali dengan semesta. Membiarkan jenazah apa adanya di atas bukit dipandang sebagai bentuk penyerahan diri terhadap alam untuk yang terakhir kalinya.

Dari puncak bukit, kota Yazd dan situs-situs zoroaster lainnya terlihat jelas. Pemandangannya cukup unik. Walaupun berada di kawasan gersang, tetapi mampu membius kami dengan kekhasan bangunannya. Dakhmeh yang berada di atas bukit dan bangunan yang ada di bawahnya saling terkait satu sama lain. Bangunan yang di bawah dahulu digunakan dalam upacara kematian sebelum jenazah dibawa ke atas bukit dan diletakkan di sana. 

Di bawah anak tangga, kami istirahat sejenak. Saya penasaran dengan sosok Omar sebagai seorang Sunni dari Balochistan. Saya menanyakan apa yang dia rasakan sebagai warga negara Iran sekaligus penganut Sunni. Ia dengan santai menjawab bahwa ia tidak menemukan kesulitan dalam menjalankan keyakinannya. “Sebagai warga negara Iran, saya bangga dengan negara kami yang walaupun diisolasi Barat, tapi tetap bertahan dan mandiri” ucapnya mengakhiri. 

Omar kemudian lebih lanjut menimpali “Dakhmeh ini mengajarkan kita bahwa sekuat apapun manusia pada akhirnya ia akan kembali kepada Sang Pencipta”. Kita tak perlu congkak dan bangga dengan apa yang dimiliki karena hakikatnya semua milik Tuhan. Tugas seorang manusia adalah menyembah-Nya dan berbuat baik terhadap sesama tanpa memandang suku, bangsa, dan agamanya.  

Baca juga:  Ekoteologi dan Keadaan Bumi Kita
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top