Sedang Membaca
Sabilus Salikin (131): Sepuluh Ajaran Tarekat Dasuqiyah

Sabilus Salikin (131): Sepuluh Ajaran Tarekat Dasuqiyah

Redaksi

Pertama, memelihara adab dan aturan syariat, yang didasarkan atas Alquran dan sunnah Nabi Saw. Mengenai hal ini, al-Dasuqi berkata, “Syariat adalah pohon dan hakikat adalah buahnya. Barangsiapa yang ingin menjadi anakku (maksudnya: pengikut tarekatnya) hendaklah ia mengekang nafsunya di dalam botol syariat, yang ditutupnya dengan tutup hakikat, dan dilemahkannya dengan mujahadah”.

Selain itu ia berkata pula, “Wahai buah hatiku, kuatkan cita-citamu untuk mengenal makna tarekat melalui ilmu, bukan hanya dengan sebutan bibir. Setiap makam yang engkau tempati akan mendindingimu dari Tuhan, jika tidak didasarkan atas petunjuk Allah, Rasul-Nya, para sahabat, para tabi’in, dan Kitab Suci-Nya.”

Di tempat lain ia berkata, “Wahai anakku, lakukanlah cara ibadah menurut Kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw. yang diridhai, karena hal demikian akan mendatangkan cahaya terang dan menghilangkan kegelapan.”

Kedua, menjauhi segala yang haram dan syubhat. Mengenai hal ini al-Dasuqi berkata, “Makanan yang haram menghambat amal dan merendahkan agama; Perkataan yang haram merusak amal orang mubtadi’ (pemula dalam mengamalkan tasawuf). Selama alat perasaanmu merasakan yang haram, jangan engkau berharap akan dapat merasakan kelezatan hikmat dan ma’rifat.”

Dia juga berkata, “Pengikut ajaran Alquran tidak boleh mengisi rongganya dengan yang haram dan tidak boleh memakai pakaian yang haram. Karena jika ia berbuat demikian, niscaya ia akan dikutuk oleh Alquran”.

Ketiga, senantiasa waspada dalam menghadapi godaan hawa nafsu. Al-Dasuqi berkata, “Minuman ‘kaum ini’ (pengikut tarekatnya) tidak akan diminum oleh orang yang di dalam hatinya terdapat kekeruhan karena kotoran rohani, sisa-sisa kegelapan, gelora nafsu, godaan setan, kesombongan, dan dahaga jiwa kepada kebejatan”.

Baca juga:  Sufi Perempuan: Umm Abdullah Putri Khalid ibnu Ma’dan

Keempat, senantiasa ingat akan Allah swt. Dalam keadaan bagaimanapun. Untuk itu, al-Dasuqi berkata, “Sang murid harus membersihkan dirinya dari kelalaian dan kelemahan dalam berzikir kepada Allah swt., sebagaimana ia harus membersihkan dirinya dari maksiat.

Wahai anakku, kalau kamu ingin dipanggil pada hari kiamat dengan panggilan ‘Wahai jiwa yang tenteram’, hendaklah kamu jadikan zikir sebagai makananmu, berpikir sebagai wacanamu, uns (keintiman dengan Tuhan) sebagai khalwat-mu, dan kamu harus menumpahkan perhatianmu kepada Allah”.

Kelima, membiasakan lapar karena lapar mempermudah pelaksanaan ibadah dan menghilangkan rasa malas. Al-Dasuqi berkata, “Bekal pemula tarekat ialah kesanggupannya menahan lapar sementara matanya basah oleh air mata, niatnya senantiasa kembali kepada Tuhan; ia memperbanyak puasa. Karena puasa dapat memperlembut tabiatnya sehingga hatinya menjadi sumber kasih sayang; puasa membuka pendengaran batinnya dan menghilangkan ketulian, maka dengan itu ia dapat mendengar kandungan terdalam dari Alquran secara lahir batin”.

Keenam, tidak terpesona oleh bunga-bunga dunia yang menyebabkan diri seseorang jatuh menjadi budaknya. Al-Dasuqi memperingatkan, “Wahai anakku, janganlah kamu terpesona oleh hiasan duniawi, alat transportasinya, busananya, perabotannya, aksesorisnya, dan keuntungannya, tetapi ikutilah cara hidup Nabimu. Kalau kamu tidak sanggup, ikutilah cara hidup gurumu. Jika tidak kamu ikuti, niscaya kamu menjadi binasa”.

Ketujuh, bergaul dengan orang yang berakhlak luhur. Mengenai hal ini al-Dasuqi berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kamu bergaul dengan penipu, pembohong dan orang panjang lidah, tetapi bergaullah dengan orang yang memperkenankan imbauan Tuhannya, sehingga kamu pun bisa mendapat petunjuk dari padanya, dapat meneladani kedisiplinan diri, dan suatu saat kamu akan berpisah dengannya secara benar”.

Baca juga:  Sabilus Salikin (128): Tarekat Maulawiyah, Tarekatnya Rumi

Kedelapan, ikhlas dalam melakukan segala amal. Al-Dasuqi berkata, “Jika engkau anakku dan pengikutku yang sebenarnya, maka ikhlaskanlah ibadahmu karena Allah swt., minta nasihatlah kepada kalbumu, dan jangan engkau campurkan amalmu dengan dirham. Sesungguhnya inilah tarekatku. Barangsiapa yang mencintaiku, dia akan berjalan di jalan ini bersamaku”.

Kesembilan, patuh terhadap perintah dan larangan syaikh mursyid (pimpinan tarekat). Al-Dasuqi berkata, “Sesungguhnya seorang Syaikh adalah bapak rohani, maka anak tidak boleh membantah terhadap orang tuanya. Adalah suatu hal yang tidak dapat kami mengerti jika ada yang masih membandel, padahal perintah demikian bersifat umum dalam segala hal. Dalam hal ini, hendaklah murid menjadikan dirinya laksana mayat di hadapan orang yang memandikannya. Oleh sebab itu, wahai anakku, taatlah kepada bapak rohanimu”.

Kesepuluh, tujuan akhir yang hendak dicapai dalam tarekat ini ialah fana’ dalam penyaksian wujud. Ini terkesan dari ucapan al-Dasuqi yang mengatakan bahwa tobat golongan istimewa (al-khawwash) merupakan penghapusan segala sesuatu selain Allah swt.

Baca Juga

Adapun amalan yang dilakukan oleh penganut Tarekat Dasuqiyah ini mencakup, 1) shalat, baik yang fardhu maupun yang sunnah; 2) puasa, baik yang fardhu maupun yang sunnah; 3) zikir, doa, dan hizib.

Baca juga:  Sabilus Salikin (49): Tarekat Junaidiyah: Kisah al-Junaid (2)

Zikir dan doa yang dilaksanakan meliputi zikir dan doa yang ma’tsur (berasal dari sabda Nabi Saw.) dan yang bebas. Zikir yang ma’tsur meliputi tahlil, tahmid, takbir, tasbih, dan taqdis. Sedangkan yang bebas ialah zikir yang dirumuskan oleh syaikh, dan dalam hal ini yang paling banyak diucapkan ialah zikir Ya Da’im (Wahai Tuhanku Yang Maha Kekal).

Syaikh ‘Abd al-Wahab al-Sya’rani, seorang sufi asal Mesir, menceritakan pengalamannya sebagai berikut, “Suatu kali aku melihat Syaikh Khalil al-Majdzûb (seorang sufi asal Mesir) naik ke sebuah bukit kecil, lantas aku berseru, ‘Siapakah orang itu, apakah dia seorang Ahmadi (penganut Tarekat Ahmadiyah) atau Burhani (penganut Tarekat Dasuqiyah)?’ Kudengar ia mengucapkan Ya Da’im, Ya Da’im sebagai isyarat bahwa ia adalah penganut Tarekat Dasuqiyah”.

Adapun hizib yang diamalkan dalam tarekat ini ialah hizib yang dikarang oleh Ibrahim al-Dasuqi sendiri, yang dinamai ‘Hizib Ibrahim’”. Kepada murid penganut Tarekat Dasuqiyah yang telah dipandang matang oleh syaikh mursyid untuk dapat mengembangkan ajaran tarekatnya, diberikan sehelai sobekan kain atau jubah, yang disebut khirqah.

Biasanya khirqah dalam Tarekat Dasuqiyah ini berwarna hijau. Dengan mendapat khirqah, seorang murid telah berhak menjadi khalîfah (wakil, pengganti) Syaikh mursyid, dan ia telah berhak mengajar di tempat lain secara mandiri tentang ajaran tarekatnya.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top