Sedang Membaca
Imam al-Qusyairi, Sufi yang Prihatin atas Penyimpangan Tasawuf
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Imam al-Qusyairi, Sufi yang Prihatin atas Penyimpangan Tasawuf

Nur Hasan

Imam al-Qusyairi adalah salah satu ulama besar dunia tasawuf yang pemikiran dan karya-karyanya menjadi rujukan dalam kajian tasawuf di dunia. Ia bernama lengkap  Abul Qasim ‘Abdul Karim bin Hawazin bin ‘Abdul Malik bin Talhah bin Muhammad al-Qusyairi an-Naisaburi asy-Syaf’i, lahir di kota Ustuwa, Naisabur pada 376 H/986 M.

Karir intelektual Al-Qusyairi dimulai dengan belajar kepada para ulama Naisabur, yang mana kota tersebut pada waktu itu menjadi pusat keilmuwan dan kebudayaan di kawasannya. Beberapa ulama besar yang pernah menjadi guru Al-Qusyairi adalah Abul Qasim al-Yamani, Abu Bakar Muhammad at-Thusi, al-Asfarayini, Abu Bakar al-Baqilani, Abu Ali ad-Daqqaq dan lain sebagainya.

Dari gurunya yang bernama Abu Ali ad-Daqqaq lah, Al-Qusyairi banyak mempelajari ilmu yang berkaitan dengan tasawuf. Tetapi, Al-Qusyairi tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu yang hanya berkaitan dengan urusan batin manusia, beliau juga mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan zahir manusia. Dan kemudian apa yang beliau pelajari, membawanya untuk menyatukan dua kutub besar dalam Islam yaitu syariat dan hakikat, yang mana pada masa Al-Qusyairi banyak para sufi yang menyimpang dalam pengamalan ajaran tasawuf.

Al-Qusyairi adalah ulama besar tasawuf, yang mengembalikan tasawuf kepada landasan doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal ini sebagaimana pernyataannya yang ada dalam kitab Risalatul Qusyairih fi Ilmit Tasawuf. Beliau mengatakan; “Ketahuilah! Para tokoh aliran ini (para sufi) membina prinsip-prinsip tasawuf atas landasan tauhid yang benar, sehingga doktrin mereka terpelihara dari penyimpangan”.

Banyaknya amalan-amalan tasawuf yang dipraktikkan secara berlebihan, menjadikan Al-Qusyairi sedih terhadap apa yang menimpa jalan tasawuf pada waktu itu. Al-Qusyairi mengecam para sufi yang melakukan zuhud berlebihan, yang membuat mereka keluar dari arti zuhud yang sebenarnya. Mereka mengamalkan zuhud dengan meninggalkan total hal-hal yang berbau dunia, karena bagi mereka berhubungan dengan hal-hal yang bersifat duniawi akan menghambat jalan untuk menuju sang pencipta.

Baca juga:  Sabilus Salikin (116): Zikir dan Doa Tarekat Alawiyah

Al-Qusyairi mengkritik para sufi yang mengamalkan zuhud secara totalitas, seperti perbuatan puasa terus menerus dan tidak berbuka. Memakai pakaian yang kotor, dan tidak memperhatikan kebersihan. Al-Qusyairi mengkritik para sufi yang mengamalkan tasawuf, tetapi meninggalkan aspek-aspek yang ada di lain tasawuf, seperti fikih dan lain sebagainya. Al-Qusyairi juga mengecam para sufi yang menggunakan pakaian selayaknya orang miskin, tetapi tindakan mereka bertentangan dengan pakaian mereka. Karena hal-hal tersebut akan membawa pada riya’ dalam diri manusia.

Dari kegalauannya terhadap para sufi yang berlebihan itulah, ia mengarang kitab yang bernama Ar-Risalatul Qusyairiyah. Salah satu alasan beliau mengarang kitab tersebut adalah untuk meluruskan jalan tasawuf telah menyimpang, yang pada waktu itu tercemari dengan perbuatan-peruatan yang mengandung kurafat.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai ulama pembela paham Asy’ariyah dari serangan Mu’tazilah, bahkan pernah dipenjara karena membela paham Asy’ariyah, dan melawan ulama-ulama Mu’tazilah, yang waktu itu dekat dengan pemerintah.

Sebagai ulama besar tasawuf, Al-Qusyairi mempunyai pengaruh penting terhadap perkembangan dan pemahaman tasawuf setelahnya. Bahkan Abu Wafa al-Ganimi at-Taftazani, menempatkan al-Qusyairi dalam posisi penting di dunia tasawuf abad ke-5 Hijriah. Peran penting al-Qusyairi dalam dunia tasawuf ditunjukkan dengan berbagai macam karyanya tentang tasawuf, salah satunya adalah Ar-Risalatul Qusyairiyah yang menjadi kitab induk dalam kajian-kajian tasawuf di dunia.

Baca Juga

Beberapa murid Al-Qusyairi yang terkenal diantaranya adalah Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdady, Abu Muhammad Ismail bin Abul Qasim al-Ghazy an-Naisaburi, Abu Abdullah Muhammad ibnu Fadhl bin Ahmad al-Farawy. Adapun karya-karyanya yang terkenal adalah tafsir Latha’if al-Isyarat, ar-Risalah al-Qusyairiyah fi Ilmi Tasawuf, al-Fatawa, Syikayah Ahlus Sunnah, at-Taisir fi Ilmi Tafsir, Adab Shufiyyah dan lain sebagainya.

Ia wafat di Naisabur pada 465 H/1072 M, dengan meninggalkan berbagai deretan khazanah keilmuwan Islam khususnya dalam bidang tasawuf.

 

 

Lihat Komentar (1)

Komentari