Sedang Membaca
Kritik Agama di Ruang Publik
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Kritik Agama di Ruang Publik

Arif Saifudin Yudistira
Hijrah sebagai Proses Transformasi

Agama tidak lahir dalam ruang hampa. Ia hadir bersama manusia, objek sekaligus subjeknya. Manusia adalah subjek agama, sebab ia yang ikut menggerakkan agama menjadi hidup dan hadir dalam laku keseharian. Tuhan sendiri menciptakan agama melalui sebab musabab. Melalui nabi dan rasul, risalah agama dihadirkan. Perilaku dan tingkah manusia pulalah yang menyebabkan Tuhan menurunkan ayat dan kitabnya.

Para pendiri bangsa Indonesia memahami, bahwa pilar dari bernegara adalah agama. Meski bukan negara agama, Indonesia mengakui kebebasan beragama para pemeluknya. Tercatat semenjak kemerdekaan hingga kini, ada enam agama yang diakui di Indonesia. Banyaknya agama yang dianut oleh penduduk Indonesia tak jarang kemudian menimbulkan konflik. Konflik agama tak hanya lahir antar sesama pemeluk agama, tapi juga antar pemeluk agama. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Judul Buku : Beragama Bertoleransi Penulis : Muhammad Milkhan        Penerbit : Bilik Literasi                    Halaman : 98  Tahun : 2019                  ISBN : 978-623-7258-18-6

Salah satu yang menjadi sebab konflik agama adalah kurangnya toleransi. Toleransi bukan berarti harus ikut aturan atau memeluk agama lain. Toleransi adalah mengakui bahwa para pemeluk agama lain memiliki hak dan kebebasan yang sama dalam menjalankan agama mereka. Untuk itulah, saling menjaga, saling menghormati dan menghindari konflik antar umat beragama menjadi penting.

Artinya, setiap umat beragama sebenarnya dituntut untuk menjaga perdamaian. Sebenarnya, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam merawat toleransi. Semenjak masa sebelum kemerdekaan, Indonesia sudah tumbuh dengan beragam adat, agama, dan kepercayaan. Akan tetapi masyarakatnya hidup dalam aman, tenteram dan damai. 

Dalam derap zaman yang semakin runyam seperti sekarang, mewujudkan masyarakat damai, menjadi tantangan kita bersama. Agama menjadi semakin garang, dan seram hari-hari ini. Fenomena inilah yang menjadi amatan Muhammad Milkhan menuangkan kritiknya dalam buku Beragama:Bertoleransi (2019).

Sepuluh esai dihadirkan menyoroti masalah-masalah agama di ruang publik. Milkhan menjadikan koran sebagai pijakan untuk mengamati masalah-masalah aktual dalam masyarakat kita. Masalah-masalah itu diresapi, direnungkan dan dihadirkan kembali dalam tulisan-tulisannya. Pembaca bisa merasakan saat menyimak esai bertajuk Bekal Literasi ke Tanah Suci.

Milkhan menilai ibadah haji akan dirasa hampa bila tanpa bekal literer. Milkhan membayangkan semua jamaah haji adalah jamaah haji yang tercerahkan dan melahap referensi berhaji sebelum melakukannya. Kritik itu ia hadirkan dengan dalih bahwa beribadah tanpa adanya penghayatan dan bekal referensial menjadi sekadar praktik semata. Ia pun melontarkan kritiknya melalui kalimat-kalimat pedas berikut : “Kita lupa bahwa bekal literasi juga menjadi persoalan penting agar ibadah tak melenceng dari jalur kekhusyukan yang telah dicontohkan para orang suci.” 

Suatu kali, ada ulama mesir Mahmoud al-Moghazi diskors lantaran menyerukan azan subuh di Masjid Sayed Ghazi, al-Moghazi bukannya mengucapkan Asshalatu khairum minan naum, yang berarti “Shalat itu lebih utama ketimbang tidur”, melainkan ia menggantinya dengan kalimat “Shalat itu lebih utama ketimbang menghabiskan waktu dengan Facebook” (Suara Merdeka, 1/9/2015).

Fakta ini ternyata memikat Milkhan menghadirkan esainya berjudul Azan di Zaman Modern. Menurutnya, ada pergeseran yang kentara saat manusia modern mendengarkan azan. Bukan hanya konflik dan perselisihan yang muncul, tapi juga sikap para pemeluk agama yang berubah dalam menyikapi azan (seruan) Tuhan.

“ Seruan untuk menyegerakan ibadah salat ketika azan berkumandang, seakan masih kalah dengan urusan duniawi.” (h.20) Bila ditarik dengan fenomena masyarakat kita sekarang, panggilan untuk kembali ke jalan Tuhan, jalan kedamaian seolah tak didengar oleh para pemeluk agama. Mereka cenderung tuli, tak mendengar seruan untuk kembali kepada hakikat agama yang membawa dan menyeru pada rohmat. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Agama sebagai sebuah kepercayaan paling privat pada kenyataannya akan menimbulkan masalah ketika tampil dengan simbolisasi di ruang publik. Jurgen Habermas melihat ruang publik tak hanya ruang kosong, ada kontestasi di dalamnya. Di Surakarta, ruang publik menjadi rebutan bagi ormas agama tertentu untuk merebut perhatian.

Kota, menjadi medium untuk tampil dan mendominasi kelompok (muslim) tertentu untuk memberi warna islami dan merespon isu-isu aktual. Yang menarik, beberapa kelompok radikal kemudian sering memicu perhatian publik terhadap kota ini.

Munculnya bom, teror, dan kasus terorisme di Solo kemudian memberikan stigmatisasi negatif terhadap kota ini. Para kelompok islam radikal ini, telah merusak kenyamanan, dan sikap masyarakat Solo yang adaptif terhadap semua kelompok kepercayaan. 

Beragama: Bertoleransi (2019) memberi renungan sekaligus kritik ketika agama hadir di ruang publik. Selain menimbulkan konflik dan singgungan antar kelompok agama, ada saja fenomena unik yang menarik untuk kita amati dan renungkan. Pada akhirnya, agama tak sebatas sebuah tampilan yang nampak melalui simbol-simbol maupun bendera semata. Namun kita dituntut untuk menempatkan agama sebagai sebuah visi besar yang membawa pada kenyamanan, ketenteraman dan kedamaian. (SI)

Baca juga:  Wajah yang Haram Ditampakkan
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top