Sedang Membaca
Buku, Masjid, dan Mahasiswa
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Buku, Masjid, dan Mahasiswa

M. Azwan Anas

Masjid menjadi pusat peradaban kaum Muslim dalam mendapatkan pengetahuan. Berbagai kajian dilakukan oleh para pencinta keilmuan dengan menghadirkan buku-buku tertentu yang bisa menambah khazanah keilmuan orang-orang Islam.

Tidak hanya fokus dengan kajian keislaman, para pemikir Islam juga menghadirkan buku-buku Yunani untuk diterjemahkan dan dipahami umat Islam untuk memperluas pandangan dalam berilmu, juga menjadikan diri sebagai seorang cendekiawan yang menguasai berbagai bidang keilmuan untuk memberikan sumbangsih pemikiran dalam peradaban manusia.

Berkaitan dengan penerjemahan buku-buku Yunani yang mengantarkan Islam dalam masa kejayaan, M. Taufik Kustiawan dalam buku ini yang merupakan kumpulan esainya yang pernah terbit di media masa, cetak maupun online, berjumlah sepuluh esai.

Dengan judul Berbuku Bermasjid yang diterbitkan Bilik Literasi, ia menyatakan “Khalifah Al-Ma’mun (813-833) dari Bani Abbasiyah berhasil menciptakan ruang akademis bernama “Bay Al-Hikmah” (Gedung Hikmah) di samping perpustakaan.

Ibn Al-Nadhim pernah mencatat kisah Khalifah Al-Ma’mun saat bermimpi bertemu Aristoteles. Pertemuan lewat mimpi itu membuat Al-Ma’mun memperoleh ilham untuk mempromosikan literatur Yunani dalam akademiknya. Usai memperoleh mimpi itu. Al-Ma’mun bergegas mengutus orang kepercayaannya agar segera pergi ke Yunani dengan membawa buku-buku untuk ditejemakan. Keberhasilan untuk menerjemahkan buku-buku dari Yunani itu menambah ilmu pengetahuan yang sedang digeluti oleh ilmuan Islam.” (hlm. 18-9)

Baca juga:  Pada Mulanya adalah Surat: dari Imam asy-Syafi'i hingga RA Kartini

Zamakhsyari Dhofier juga menyebutkan tentang penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dalam buku Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya mengenai masa depan Indonesia (2015). Dhofier menyatakan “Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan semasa berkembangnya Imperium Bani Umayyah dan Abbasiyah itu tumbuh pula pemikir-pemikir agung dalam ilmu-ilmu keislaman. Kholifah Harun Al-Rasyid pada 785 mengeluaran dana tidak kurang dari 5 juta dinar untuk memperoleh buku-buku ilmu pengetahuan yang pernah terbit di pusat-pusat peradaban dunia.

Penerjemahan selesai pada 985 dan masa itu Imperium Abbasiyah telah mampu membangun pabrik kertas dan tinta di Bagdad untuk meperlancar program penulisan ilmu pengetahuan yang sedang berkembang” (hlm. 1-2)

Pengkajian keilmuan yang dilakukan oleh Kholifah Harun Ar-rasyid dan Al-Ma’mun berdampak besar pada pengetahuan kaum Muslim dunia yang belajar ke Timur Tengah. Penyebaran keilmuan pun terasa sampai ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri maupun Abdurrouf Singkel yang pernah menuntut ilmu di sana. Bahkan atas pengaruh dari khazanah keilmuan yang di dapat dari Makkah.

Pada abad 19 Indonesia memiliki dua organisasi masyarakat yang menjadi tiang penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memberikan pemahaman tentang Islam Rahmatan lil’alamin. Dengan dua pemuka agama yang tersohor di bumi Indonesia, KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah dan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dengan Nahdlatul ulama (NU).

Baca juga:  Masjid Wapauwe, Saksi Tua Sejarah Islam di Maluku

Selain pendiri Muhammadiyah dan NU yang berpengaruh atas keberagaman Islam Indonesia. Pada 1980-an pemuda Indonesia mulai aktif dalam kajian keislaman. Penerjemahan buku-buku untuk kebutuhan intelektual dilakukan oleh sekolmpok mahasiswa yang diplopori oleh Bang Imad di Masjid ITB. Seperti diungkapkan oleh Taufik dalam esai berjudul Aksi Demontrsi Mahasiswa.

“Tak hanya buku Kuliah Tauhid (kumpulan ceramah bang Imad) saja melalui gerakan pemikiran mahasiswa yang berdiskusi di Masjid Salman ITB, para mahasiswa mencetak buku-buku keislaman atas nama penerbit “Pustaka”. Buku-buku menjadi sumbangsi keilmuan terhadap bangsa Indonesia sebagai bacan bermutu bagi mahasiswa.” (hlm. 34)

Namun perjuangan Bang Imad dan kawan-kawan harus terhenti akibat pergeseran pemikiran mahasiswa yang tidak lagi menganggap pentingnya keilmuan disaat masih menjadi mahasiswa karena orientasi mahasiswa dalam melaksakan kuliah bukan untuk mendapatkan pengetahuan, tapi untuk mempermudah dalam mencari pekerjaan. Jadi sudah tidak mengherankan lagi kalau mahasiswa tidak membaca buku apalagi membeli buku.

Melihat permasalahan ini, Taufik mengkritik dalam esai berjudul Melurukan Niat Kuliah. Taufik menyatakan “Bila itu hanya terjadi saat ini di kampus, kita merasa melupakan keutamaan dalam perkuliahan disadari atau tidak, kita seakan lebih memprioritaskan masalah harapan pekerjaan di masa depan ketimbang menikmati jalannya waktu dalam mempelajari ilmu. Semestinya yang perlu dipikirkan ulang oleh mahasiswa adalah etos dalam menuntut ilmu secara bersungguh-sungguh. Bukan malah mempersoalkan pekerjaan”. (hlm. 24)

Baca juga:  Satu Anjuran Ringan dari Shahih Bukhori: Mentraktir

 

Baca Juga

 

Judul Buku : Berbuku dan Bermasjid

Penulis : M. Taufik Kustiawan

Penerbit : Bilik Literasi

Cetakan : I, 2018

Tebal : 81 halaman

ISBN : 978-602-52506-7-5

Lihat Komentar (0)

Komentari