Sedang Membaca
Di Antara Jokowi dan Probowo, Siapa yang Berani Bangun Hubungan Diplomatik dengan Israel?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Di Antara Jokowi dan Probowo, Siapa yang Berani Bangun Hubungan Diplomatik dengan Israel?

Amrullah Hakim

Berawal dari postingan tentang lagu Let It Rain, ada komentar tentang teleprompter, yang sepertinya dipakai oleh Bon Jovi di konser amal Pavarotti tahun 1998 untuk Liberia (di Afrika). Ada guyonan kalau kita tertinggal teknologi tentang teleprompter sejauh 21 tahun, karena sampai sekarang pun, banyak orang Indonesia tidak mengenal teleprompter, sehingga mengira tokoh yang dikaguminya bisa berbicara, berdebat atau berpidato tanpa teks di depan umum. Padahal mereka sedang membaca sambil bicara melalui teleprompter yang bening, sehingga memang terlihat samar.

Tidak hanya teleprompter, oven masakan yang kita gunakan sehari-hari juga masih menggunakan teknologi jaman dulu, begitu komentar lainnya. Teknologi pangan yang paling maju saat ini adalah dari Israel. Kalau hanya oven masakan, itu masalah kecil.

Kok bisa Israel yang kecil bisa jago pertaniannya?

Israel ini sebagai satu negara, hidupnya kepepet terus. Iklimnya kering dan mau berdagang dengan negara sekitarnya juga terbatas ruangnya (Israel terletak di sebelah timur Laut Mediterania, berbatasan dengan Lebanon di sebelah utara, Suriah di sebelah timur laut, Yordania di sebelah timur, dan Mesir di sebelah barat daya).

Sementara penduduknya yang saat ini sekitar 7,5 juta jiwa butuh makan. Dari 7,5 juta ini, 16%-nya adalah orang Muslim dan merupakan agama minoritas terbesar di Israel. Sekitar 2%-nya beragama Kristen.

Dengan keterbatasan alam dan jumlah penduduk yang makin besar, Israel mau tidak mau harus terus berinovasi di bidang pertanian. Tidak tanggung-tanggung, di Israel sekarang terdapat lebih dari 500 perusahaan yang khusus meneliti tentang pertanian dan teknologi pangan. Modal yang dijalankan sangat besar, hampir 200 juta US$. Intensifnya penelitian pangan di Israel hanya bisa dikalahkan oleh Amerika Serikat saat ini.

Baca juga:  Albert Einstein dan Lain-lain

Tidak mengherankan jika Wapres China, Wang Qishan, bulan Oktober tahun lalu berkunjung ke Israel untuk belajar teknologi pangan (ingat tulisan sebelumnya, China dan Israel ini cocok satu sama lain). India dan beberapa negara di Afrika yang memiliki iklim mirip dengan Israel juga rajin berkunjung ke Israel untuk mencari inspirasi tentang teknologi pangan (sumber: The Economist, 12 Januari 2019).

Pertanian di Israel sebagian besar dilakukan di tempat yang dinamai Kibbutz, atau Kibbutzim dalam bentuk jamak, merupakan tempat-tempat pemukiman kolektif di Israel dengan sistem kepemilikan bersama dan dengan struktur-struktur dasar demokrasi (sayang sekali, sikap demokratis ini justru dikhianati saat Israel menghadapi Palestina).

Untuk mengatasi kekeringan karena sedikitnya air, Israel, dipelopori oleh Simcha Blass dan anaknya Yeshayahu sejak tahun 1950 sudah mulai mengembangkan teknologi yang disebut dengan irigasi tetes modern. Irigasi tetes adalah metode irigasi yang menghemat air dan pupuk dengan membiarkan air menetes pelan-pelan ke akar tanaman, baik melalui permukaan tanah atau langsung ke akar, melalui jaringan katup, pipa dan emitor. Keterangan demikian saya intip dari Wikipedia.

Teknologi ini sekarang dikuasai oleh perusahaan bernama Netafim dengan asset hingga 2 milyar US$, seperti dilansir https://www.netafim.com/

Teknologi pertanian dan pangan penting apa saja yang saat ini dikembangkan di Israel?

Baca juga:  Cara Mudah Jadi Dai di Era Dakwah 2.0

1. Pemusnah hama/serangga tanaman, dipelopori oleh perusahaan, namanya Taranis, menciptakan pemindai gambar dengan resolusi tinggi yang diambil dari drone, pesawat, dan satelit (iya, hingga satelit) untuk men-diagnosis serangan hama/serangga hingga serangga yang paling kecil sekalipun, yang biasanya memakan benih tanaman di waktu Subuh, di lahan pertanian mereka. Mereka memantau level air, ulat, hingga ke nutrisi tanamannya.

2. Pengawetan buah dan sayuran, dipelopori oleh perusahaan, namanya Sufresca, yang menciptakan lapisan tipis pada buah-buahan dan sayuran yang aman untuk dimakan sekaligus memperpanjang umur simpan buah dan sayuran.

3. Produksi madu, yang menggunakan Artificial Intelligence untuk pemeliharaan sarang lebah dan mengurangi penggunaan pestisida kimia.

4. Produksi susu sapi, dengan menemukan terapi khusus untuk merawat sapi perah yang sakit.

5. Tanaman obat-obatan dan penemuan protein baru.

Mengapa teknologi ini begitu maju di Israel, berikut beberapa faktor pendukungnya:

Pertama, dana penelitianya besar. Pemerintah memberikan dana dan fasilitas lain untuk perguruan tinggi dan laboratorium-laboratorium, yang juga langsung terhubung ke petani, peternak, dan distribusi pasca panen.

Baca Juga
Persekutuan al-Idrisi dan Raja Kafir

Kedua, keinginan mencari untung yang besar dari ide-ide cemerlang anak bangsanya, sehingga paten dari perguruan tinggi di Israel tidak kalah banyak dengan MIT di Amerika.

Baca juga:  Ibnu Khordadbeh, Ahli Geografi Arab Pertama

Ketiga, wajib militer yang lama hingga sembilan tahun bahkan hingga usia 40 tahun. Di unit 8200 dan unit 9900, mereka terus belajar keterkaitan teknologi dan militer yang juga digunakan untuk membangun perusahaan-perusahaan start-up teknologi.

Tanah di Israel terbatas sehingga bukan tidak mungkin Israel membutuhkan lahan-lahan baru untuk mengembangkan teknologi ini. Mereka sedang mengincar Amerika Selatan, misalnya Brazil, yang menjadi tantangan baru, karena iklimnya berbeda.

Bagaimana dengan kita?

Tirto pernah menulis demikian:

Surat kabar Haaretz di Israel menyematkan julukan pada Abdurrahman Wahid sebagai “A Friend of Israel in the Islamic World” lewat judul sebuah wawancara pada 2004. Micha Odenheimer, si wartawan, membuka wawancara dengan pernyataan begini:

“Anda di Israel dikenal sebagai teman. Ini cukup tidak lazim untuk seorang pemimpin Islam.”

Dengan tulisan di atas, mungkin pasangan Capres-Cawapres ada yang berani beride seperti Gus Dur: membuka hubungan diplomatik dengan Israel? Supaya kita bisa leluasa belajar dari Israel, sehingga teknologi pangan tadi bisa kita serap semaksimal mungkin. Kita punya lahan, kita punya petani, kita punya peternak, dan kita punya hujan.

Lihat Komentar (2)

Komentari

Scroll To Top