Sedang Membaca
Tafsir Surah an-Nisa Ayat 122: Jalan Menuju Surga
Ahmad Nurul Huda
Penulis Kolom

Alumni Pesantren Krapyak, Jogjakarta. Meminati dunia pendidikan dan kajian tafsir. Sekarang guru di Guru MTs Amal Muslimin Bantrung Jepara, Jawa Tengah.

Tafsir Surah an-Nisa Ayat 122: Jalan Menuju Surga

06

Surga menjadi dambaan sebagian besar umat beragama, sebagai balasan atas amal kebaikannya di dunia. Bahkan ada sebagaian umat beragama yang mengkapling surga hanya untuk kelompoknya sendiri. Selain itu, surga sering menjadi kontroversi, karena gambarannya yang sangat fisik, bahkan seksual.

Namun di “dunia lain”, kita juga mendapati kisah-kisah orang yang tidak butuh surga. Mereka bukan para atheis, melainkan para pencinta Allah, yaitu para sufi. Ya, mereka tidak mengharapkan surga sebagai balasan amal baiknya di dunia. Kita sebut satu contoh: sufi perempuan Rabiah Adawiyah.

Dalam munajatnya yang masyhur, Rabiah memanjatkan kalimah indah, “ Ya Allah jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam neraka; dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga. Campakkanlah aku dari dalam surga…”

Surga dalam kamus Lisan Arab disebut dengan Janna yang terusun dari huruf  jim dan nun. Ddalam kamus Al-Munawwir kata Janna diartikan suasana yang “gelap”, “menutupi”, “menyembunyikan”. Kita juga tahu ada makhluk dengan nama Jin. Makhluk tersebut tertutup dari mata kita, atau juga janna memiliki arti “gelapnya malam”. Makna ini merujuk pada Al-Qur’an surah al-An’am ayat 76 tentang kisah nabi Ibrahim, “Falamma janna alaihi al-lailu ra’a kaukaba.”

Merujuk pada kata janna, pada asal kata janna  artinya adalah pahala yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman dan pahala tersebut masih tertutup (janna). Ada sekian pahala yang diberikan kepada orang-orang beriman, adakalnya pahala dapat kita temui, kita rasakan di dunia, ada pula pahala yang sangat besar yang masih tertutup dari diri kita yaitu al-janna.

Jannah dari sisi bahasa memiliki arti lahan areal yang tertutup oleh dedaunan dan pepohonan, Ketika kata jannah ditambahi dengan “al”, menjadi al-jannah, maka deskripsi tentang kebun atau pahala yang diberikan kepada kita memiliki makna khusus, bukan semua kebun, bukan semua tanah, tapi sudah berarti taman yang memiliki arti khusus. Demikian surga atau al-janna dari sudut pandang bahasa.

Dari sisi istilah, al-jannah adalah sebuah taman yang ada di akhirat yang disiapkan oleh Allah Swt kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, atau siapa pun orangnya bisa masuk, jika dikehendaki oleh Allah Swt.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pembahasan al-jannah di dalam Al-Quran dapat dikategorikan dalam, setidaknya, lima subtema:

  1. Jalan menuju surga,
  2. Apakah surga sudah diciptakan sekarang ini,
  3. Nama nama surga,
  4. Sifat-sifat surga,
  5. Bagaimana keadaan surga

Dalam tulisan ini, saya akan membatasi tema: Jalan atau cara menuju surga: bagaimana Al-Quran menerangkan kepada kita apa itu jalan menuju surga, secara khusus ayat 122 dalam surah an-Nisa’:

(وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّـٰتࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۤ أَبَدࣰاۖ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقࣰّاۚ وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ قِیلࣰا)

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalam saleh, kelak akan kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.“

Jalan Menuju Surga

Apa jalan menuju surga? Jalan menuju surga disebutkan caranya adalah beriman dan beramal saleh. Ada dua syarat supaya kita bisa masuk surga yang pertama adalah “beriman” dan yang kedua adalah “beramal saleh”.

Syarat pertama jalan menuju surga adalah “iman”.

Iman artinya percaya akan adanya Allah Swt. Dalam akidah As’ariyah, Ahlussunah wal Jamaah. orang yang sekadar percaya adanya Allah Swt sudah cukup untuk bisa dikatakan beriman meskipun dia tidak mengikrarkan, tetapi dalam hati ada keimanan hal itu sudah bisa dikatakan beriman.

Dikisahkan pada zaman Nabi Musa AS, Al-Quran surah Ghofir ayat 28:

وَقَالَ رَجُلࣱ مُّؤۡمِنࣱ مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ یَكۡتُمُ إِیمَـٰنَهُۥۤ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن یَقُولَ رَبِّیَ ٱللَّهُ وَقَدۡ جَاۤءَكُم بِٱلۡبَیِّنَـٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ وَإِن یَكُ كَـٰذِبࣰا فَعَلَیۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن یَكُ صَادِقࣰا یُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِی یَعِدُكُمۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَهۡدِی مَنۡ هُوَ مُسۡرِفࣱ كَذَّابࣱ

“Dan seseorang yang beriman di antara keluarga Fir‘aun yang menyembunyikan imannya berkata, ‘Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, ‘Tuhanku adalah Allah,’ padahal sungguh, dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang akan menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika dia seorang yang benar, nis-caya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta.”

Baca juga:  Rasa Kesatuan dalam Identitas Hibrid

Dalam ayat di atas, Al-Qur’an sendiri sudah disebut sebagai orang yang berriman, meskipun orang tersebut menyembunyikan keimananannya.

Sudah jelas buat kita semua, ayat di atas meminta kita berhati-hati dalam melabeli seseorang beriman atau tidak. Kita tidak boleh dengan mudah dan sembarangan mengatakan: si A tidak beriman atau kafir karena selama hidupnya tidak pernah terlihat salat atau tidak pernah terlihat berbuat baik.

Iman ada di dalam hati, sedangkan amal perbuatan merupakan bukti yang kita tunjukkan kepada masyarakat tentang keimanan kita. Dalam akidah Aswaja, amal saleh atau amal ibadah itu berfungsi menambah keimanan atau mempertebal keimaman. Amal saleh atau amal ibadah bukan menjadi parameter atau tolok ukur iman seseorang.

Syarat yang kedua adalah “amal saleh”.

Kita tahu ada amal, perbuatan, tingkah laku, termasuk sikap pikiran, yang disebut dengan “ihsan” ada amal yang disebut sebagai ta’at, tapi syarat minimal terkait dengan janji Allah memasukkan orang-orang tersebut kedalam surga, yaitu beriman dan beramal saleh,

Pertanyaanya kemudian, apa itu amal saleh?

Amal saleh itu adalah amal yang salehun yang baik yang sesuai, sesuai dengan Allah Swt, juga sesuai dengan masyarakat. Pemilihan kata “saleh: di sini mengandung makna atau pengertian yang luas dan dalam, karena amal tidak semata-mata dikatakan “amal baik” yang disebut “amal saleh”.

Misalnya tentang amal perbuatan berupa jamaah tarawih, banyak hadis nabi yang membicarakan keutamaan salat tarawih. Namun jika salat tarawih berjamaah dilakukan di masjid pada wilayah yang masuk dalam zona merah saat pandemi Covid-19 kemungkinan jamaahnya ada yang terpapaar  virus Covid-19, maka salat tarawih berjamaah di masjid tidak bisa dikatakan sebagai amal saleh.

Dalam hadis disebutkan Innallaha toyyibun la yakbalu illa thayyiban. Apa itu hal yang thayyib (baik), hal yang baik atau amal baik?

Di dalam makanan kita kenal makanan yang halalan thayyiban tidak sekadar halal bukan hanya memenuhi hukum syar’i untuk boleh dimakan, tetapi levelnya harus meningkat lebih tinggi yaitu, thayyib. Begitu juga dengan amal tidak sekadar al-a’mal al-khoiriyyah, tetapi harus amal yang thayyib. Apa itu at-thayyib yang dimaksud dalam hadis:

Kata at-Thayyib adalah perbuatan itu adalah:

  1. Baik atau Thayyib
  2. Dilakukan dengan niat yang Thayyib,
  3. Dilakukan secara Thayyib
  4. Dilakukan di tempat situasi kondisi yang Thayyib.

Bagaimana amal dikatakan amal yang saleh atau thayyib. Amal itu amal toyib atau perbuatan yang baik. Semisal salat, sedekah, haji, silaturahim, menolong orang lain, dan lain sebagainya.

Namun ada perbuatan yang tidak baik dilakukan dengan baik dengan niat baik dalam situasi baik, tetapi tidak termasuk thayyib. Contoh sederhana: menyajikan untuk tamu dengan minuman keras niatnya baik karena menghormati tamu, caranya juga baik dengan sopan penuh etika dan etiket, pada situasi atau  kondisi yang baik, suasana persahabatan hangat, tetapi perbuatan itu bukan perbuatan baik. Maka, tidak masuk dalam kategori thayyib atau amal saleh.

Contoh lain: ada sesorang yang bersedekah dengan niat baik, karena menolong orang lain, tetapi cara melakukan tidak baik, yaitu dengan cara yang terkesan mernedahkan si penerima maka tidak bisa dikatakan sebagai amal saleh. Sia-sia perbuatan ini di depan Allah dan manusia.

Ada satu kasus penting dan sering mengemuka: orang yang dikatakan pejuang kemanusiaan, blusukan kesana kemari membantu orang lain, tetapi dia bukan orang mukmin, bukan orang Islam. Pertanyaannya kemudian:

Apakah dia bisa masuk surga atau tidak?

Mari kita perhatikan lagi penjelasan di atas bahwa surga adalah seuatu yang mastur, tertutup dari kita. Maksudnya, surga itu tetap “ada” atau “tidak ada” perlu keimanan. Allah Swt memberi kita atau tidak memberikan surga kepada kita hal tersebut butuh keimanan. Kalau mereka tidak punya syarat tidak yakin bahwa apa yang mereka lakukan akan mendapatkan surga dan mereka tidak yakin ada dzat yang membalas perbuatannya dalam bentuk kenikamtan abadi yang kita kenal dengan surga. Mengapa kita repot berikir bahwa orang itu masuk surga atau tidak?

Baca juga:  Lailatul Qadar dalam Al-Quran (3/3)

Kalaulah Allah Swt memasukkan dia ke surga ya terserah Allah Swt. Kita pun tidak rugi, kalau orang non-muslim masuk surga kita tidak rugi, kita tidak berkecil hati karena kelak surga yang kita dapatkan tidak berkurang sedikit pun.

Bahwasanya orang yang masuk surga itu la khoufun alaiahim walaahum yahzanun tidak ada rasa khawatir dan sedih di dalam surga. Jikalau kita masuk, surga kemudian tiba-tiba ada orang atau yang beragama non-muslim masuk surga kemudian kita sedih mutung hal itu tidak akan pernah terjadi.

Janji Allah Swt terhadap orang beriman

Mari kita baca surah at-Taubah ayat 72:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِ جَنَّـٰتࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَا وَمَسَـٰكِنَ طَیِّبَةࣰ فِی جَنَّـٰتِ عَدۡنࣲۚ وَرِضۡوَ ٰ⁠نࣱ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَ ٰ⁠لِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِیمُ

“Allah menjanjikan kepada orang-orang  mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapatkan) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal di dalamnya.” (QS at-Taubah : 72 )

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kita perhatikan bahwa ayat tersebut hanya mengatakan orang mukmin lelaki dan perempuan di sini tidak dijelaskan apakah orang-orang mukmin tersebut beramal saleh atau tidak beramal saleh.

Jika kita menganggap atau memaknai huruf “al” pada kata “al-mukminiina”  dalam ayat ini sebagi “al” yang berfungsi lil ahdizihni,  artinya yang dimaksud adalah orang mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan, berarti bukan sembarang orang mukmin dan perempuan. Tetapi orang mukmin yang sudah disifati dengan sifat-sifat sebelumnya dan sudah diketahui sebelumya yaitu orang yang beramal saleh melakukan kebajikan.

Namun kalau huruf “al” kita artikan sebagai al istigroq li afrodil jinsi yang menujukkan orang mukmin, siapa pun orang mukmin itu, maka betapapun minimnya keimanan sesorang, selama dia beriman, maka dia masuk ke dalam kelompok orang-orang yang dijanjikan oleh Allah Swt untuk masuk surga. Pemaknaan seperti ini bukan pemaknaan yang aneh atau bukan hal yang mustahil. Banyak sekali dalam kitab-kitab tafsir, baik karya ulama klasik ataupun kontemporer.

Di dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari: “Sesungguhnya Allah Swt menciptakan rahmat pada hari ia diciptakan  100 rahmat, maka Allah Swt menahan 99 Rahmat di sisi-Nya dan memberikan kepada seluruh makhluk-Nya satu rahmat.. ( HR. Imam Bukhori).

Hadis tersebut mengatakan satu rahmat diberikan Allah Swt dalam kehiupan dunia ini. Dengan hanya satu persen dari sifat kasih sayang Allah Swt merata ke seluruh penjuru dunia.  Sementara kehidupan di akhirat ada 99 % rahmat Allah  Swt akan dicurahkan. Dengan demikan orang yang meninggal membawa bekal keimanan kepada Allah Swt tanpa amal saleh sedikitpun, tidak mustahil bisa jadi orang tersebut akan masuk surga.

Surga adalah hak prerogatif Allah Swt, tertutup bagi kita, sebagai mana makna surga secara bahasa yang sudah dijelaskan di atas. Orang yang beirman dan beramal saleh masuk surga karena Allah Swt, la yukhliful miad, Allah tidak akan mengingkari janji. Bagi pendosa atau penjahat Allah Swt  memiliki sfat pengampun dan pemaaf, sejelek apapun dan sebesar apapun dosa seseorang, jikalau diampuni Allah Swt, surga akan diterimanya.

Dikisahkan pasa zaman Nabi Musa AS ada seorang yang meninggal dan oleh kaumnya, mayat tersebut dibuang di tempat sampah karena dimata masyarakat orang tersebut adalah sampah masyarakat, tidak pernah sedikit pun melakukan kebaikan. Namun, Allah Swt memberi wahyu kepada Nabi Musa AS untuk merawat dan memulasarai jenazah orang itu dengan baik dan menguburkannya secara semestinya. Kenapa?

Baca juga:  Mengenal Kiai Maftuh, Pejuang Al-Qur'an dari Lirboyo

Karena ternyata sebelum mati, dia  berdoa, “Ya Allah sekarang ini saya tidak punya siapa-siapa, tidak ada orang yang peduli kepadaku dan Engaku Ya Allah kalau tidak mengampuni dosaku maka aku benar-benar terbuang.” Dia berdoa dengan penuh rintihan dan pengharapan. Akhirnya Allah mengabulkan doa tersebut. Dan dimasukkan ke dalam surga.

Kisah Nabi Musa di atas mengkonfirmasi bahwa “al” pada kata “al-muknim wal mukminat” kita pahami kita maknai sebagai “al” istigroq li afrodil jinsi, mencakup keseluruhan orang mukmin, maka siapa pun dia selama dia beriman kepaa Allah Swt maka Allah Swt berjanji masuk surga. Sampai di sini clear yaa..

Dikisahkan pula kelak di akhirat kita semua masuk surga. Allah Swt mengutus malaikat Jibril untuk mencari barangkali ada orang yang masih tersisa, yang belum masuk surga. Malaikat Jibril menemui malaikat Malik dan meminta untuk menyisir neraka: adakah orang yang di dalam hatinya tersisa setitik keimanan untk diangkat dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga?”

Dengan susah payah Malaikat Malik menyisir neraka. Dalam kisah tersebut masih banyak oang yang disiksa karena sama sekali tdak ada keimanan dalam hatinya. Setelah disisir ada sebuah cahaya lemah yang menempel di dinding jurang neraka. Lantas malikat Malik memungutnya kemudian diserahakan kepada malaikat Jibril. Oleh Jibril orang tersebut dicuci dimandikan dibersihkan, kemudian disowankan kepada Allah Swt.

Terjadi dialog antara Allah dengan orang tersebut, “Wahai hambaku, Aku akan memasukkanmu ke dalam surga, si hamba berkata, ‘Ya Allah apakah masih tersisa surga buatku, bukankah surga sudah diisi penghuni-penghuninya?’ Allah Swt berfirman: ‘Apakah kamu tidak rela, tidak rida kalau kamu Aku beri surga yang luaasnya seluas bumi?’

Orang itu kaget dan berkata, “aku sangat rida Ya Allah, aku sangat mau mendiami surga seluas itu.”

Maka surga yang diperuntukkan bagi penghuni terakhir itu surga sebesar bumi. Itulah gambaran tentang  atoriq ila jannah jalan menuju surga.

Memang jalan menuju surga tampaknya sangat berat syaratnya, yatu iman dan amal saleh, tapi ternyata iman dan amal saleh itu juga ada batas minmal yang memungkinkan siapapun untuk masuk kedalamnya. Oleh karena itu, kita harus memperkuat keimanan kita memperbanyak amal ibadah kita supaya kita masuk dalam kelompok dimana Allah Swt berfirman “innallaha la yuhkliful miad”. Allah Swt telah berjanji. Allah Swt maha menepati janji.

Jalan menuju surga, kalau dia termasuk orang yang bertakwa maka dengan sighot pasti, yaitu “inna allah”, “sesungguhnya Allah” berjanji akan memasukkan orang-orang yang bertakwa ke dalam surga. Tetapi, meskipun orang itu tidak termasuk golongan orang-orang yang bertakwa, masih ada cara dan ada jalan lain masuk surga. Misal dengan modal yang sangat minim, yaitu “cuma” beriman kepada Allah Swt, yang oleh masyarakattidak dianggap sebagai muslim, KTP pun tidak tertera Islam. Namun, dia suatu ketika melewati sebuah surau atau masjid, dan dia mendengar alunan azan tergerak hatinya ada keimanan di sana meskipun sangat kecil lembut, hal itu bisa menjadi modal bagi dia utk masuk surga.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kelak, karena surga adalah hak prerogatif Allah Swt. Gambaranya adalah orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan sampai tingkatan takwa dan ihsan. Allah Swt berjanji memasukkannya ke dalam surga, tapi orang yang beriman tanpa amal saleh, beriman tetapi dipenuhi dengan dosa-dosa dan kesalahan, Allah Swt  masih memiliki sifat, yaitu  pemaaf dan pengampun. Dosa-dosa  itu diampuni oleh Allah Swt dan dimasukkan surga.

Sumber bacaan:

1. Al-Qur’anul Karim
2. Al-Ahadits an-Nabawiyah
3. Tanwirul Qulub karya Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi
4. Al-Bidayah fit-Tafsir Al-Maudhui, karya Dr. Abd Hay Al-farmawi.
5. Al-Iqtishad fil I’tiqad karya Imam Ghazali

6. Tafsir Ruhul Ma’ani karya Al-Alusi
7. Tafsir Al-Kabir karya Ar-Razi

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
2
Senang
2
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Scroll To Top