Joko Priyono
Penulis Kolom

Menempuh Studi di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret Surakarta sejak 2014. Menulis Buku Manifesto Cinta (2017) dan Bola Fisika (2018).

Pancasila, Buku, dan Fisika

Apa yang terlintas dalam bayangan Anda ketika harus memikirkan sebuah buku yang memuat ilmu fisika dan terhubung dengan Pancasila? Saya juga sempat mengalami kesusahan. Tujuh tahun bergelut dalam ilmu fisika kemudian menemui karier yang bisa dibilang masih linier. Menjadi penulis dan editor terkait dengan buku-buku pelajaran sekolah. Saya selalu merenung bahwa keilmuan yang dulu amat saya benci, ternyata menjadi salah satu jalan hidup saya.

Saya bertemu orang-orang baru. Bersiap diri menjalankan tugas. Disiplin dalam berangkat ke kantor. Kehidupan saya semakin hari terus berubah, mulai membiasakan diri akan rutinitas tersebut. Suatu waktu, tersebabkan saya belum begitu mengikuti perkembangan buku-buku pelajaran bagi anak sekolah, saya terkejut saat menemui sebuah konsep muatan buku pelajaran di zaman ini.

Satu hal di antaranya adalah melakukan akselarasi akan keberadaan Pancasila yang kemudian hadirnya mengisi halaman buku dengan menjalankan tugas terminologi: Profil Pelajar Pancasila. Tentu saja, upaya itu mulia dan bagus, bagaimana pemerintah berkepentingan dalam merawat dan memperkenalkan nilai, semangat, dan prinsip yang tersimpan dalam Pancasila.

Hanya saja, kita perlu berbicara tafsir ternyata saat konsep Pancasila yang secara sekilas muatannya ke arah sosial humaniora. Pertanyaan yang kemudian muncul bagaimana ketika ia dihadapkan pada mata pelajaran yang berbasis sains teknologi. Ini tugas bersama agar Pancasila bisa benar-benar kontekstual dalam mengiringi sarana maupun upaya berpikir ilmiah. Pranala itu sebagai langkah dalam membaca dan menyelidiki gejala maupun peristiwa yang ada di alam sekitar.

Baca juga:  Berlaku Adil terhadap Lawan Politik

Saya kemudian teringat dengan salah satu karya Romo Mangunwijaya, Pasal-pasal Penghantar Fisika Bangunan (Gramedia, 1980). Romo Mangun tak menggunakan bahasa “sulit” buku penunjang sekolah—yang pada umumnya banyak orang ketika menulis buku berkait sains dan teknologi penuh dengan istilah yang membingungkan dan menyulitkan. Ia memperhatikan kaidah pembahasaan umum dengan pendekatan terhadap bahasa sains populer.

Di pembukaan, Romo Mangun memberikan kalimat demi kalimat yang engandung petuah bagi sidang pembaca. Kita menemukan kutipan: “Seorang murid yang baik dan seorang pembina yang serius selalu mencari inti soal dari dalam. Ia melihat bahwa setiap orang maupun benda punya watak dan bakat masing-masing. Kayu pun misalnya punya watak dan bakatnya sendiri, punya kekuatan dan kelemahannya yang tidak dipunyai oleh batu.”

Pancasila sebagai Metode

Pernyataan Romo Mangun sekilas mungkin biasa saja. Tak istimewa. Namun, kalau diresapi lebih mendalam ia telah melibatkan aspek Pancasila dalam pengajaran mengenai fisika bangunan. Memahami sesuatu dengan pendasaran semangat memecahkan persoalan, mau bekerja keras, dan senantiasa terus memupuk minat dan bakat yang dimiliki tiap diri. Mungkin itulah yang dibutuhkan sebagai kerangka dalam menyusun buku bermuatan sains dan teknologi.

Saya ingin menyebutnya keberadaan Pancasila sebagai metode. Narasi pengetahuan yang kemudian terbangun tidak lain merupakan kolaborasi antara intisari dari Pancasila dengan ilmu pengetahuan. Hingga kemudian, kombinasi itu kemudian sebagai teba telaah dala memancing gairah berpengetahuan dengan spirit memupuk semangat bernegara dan berbangsa. Artinya Pancasila diposisikan sebagai hal yang kontekstual dan penuh teba telaah.

Baca juga:  Antara Taubat, Hijrah, dan Egoisme

Jangan sampai yang kemudian terjadi adalah seakan-akan dengan dalih menghadirkan Pancasila dalam muatan buku cenderung tekstual. Hal lain yang mesti diperhatikan lagi adalah masalah yang kerap hadir dalam pendidikan di ranah ilmu pengetauan alam. Masalah itu berupa pembelajaran yang dogmatis. Metode pengajaran yang tidak mengutamakan proses pencarian yang didasarkan akan kemampuan meragui dan skeptisisme.

Termasuk di dalamnya adalah pemaksaan tafsir akan sebuah kebenaran. Dalam proses ilmiah, tentu kita sepakat bawa kebenaran tidak bersifat mutlak. Keberaran masih bisa terus diperdebatkan selama masih ada sanggahan maupun bantahan yang didasari dengan pembuktian yang lebih sempurna. Alih-alih konsep dalam ilmu alam diharapkan kesetiaan terhadap metodologi ilmiah, yang terjadi sebaliknya.

Kebersahajaan Ilmiah

Hal itu pula yang banyakdiresahkan oleh ahli matematika, Iwan Pranoto dalam salah satu bukunya, Kasmaran Berilmu Pengetahuan (2019). Sebutnya, para pengajar perlu mendisiplinkan diri dalam mengedepankan kebiasaan berakal dan kecakapan bernalar. Langkah tersebut dicontohkan seperti; engajak diskusi dengan jalan yang berbeda dalam enyelesaikan masalah hingga mengkaji cara pandang terhadap sebuah isu yang menjadi bahasan.

Sampailah kemudian buah dari proses itu baik itu percakapan dalam ruang belajarhingga interaksi dengan buku membantu peserta didik baik secara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Peserta didik memiliki prinsip dalam kejujuran dalam ilmu pengetahuan, kesetiaan terhadap fakta dan proses ilmiah, keterbukaan terhadap pengetahuan baru, dan mampu berpikir kritis serta mendalam terhadap hal yang dihadapi.

Baca juga:  Harmoni dalam Bingkai Muktamar NU

Dengan demikian Pancasila tersublim lewat karakter atas penafsiran lanjut dalam konteks wacana sains dan teknologi. Ia perlu ditafsir dan dihadapkan dengan berbagai realitas. Jangan sampai keberadaannya hanya sebatas dimaknai secara tekstual yang berujung sebuah kebenaran tunggal yang tidak lain itu menjadi dogma tersendiri. Penyusunan buku di ranah pelajaran ilmu-ilmu alam perlu kedewasaan berpikir agar sarana itu benar mencapai tujuan mulia dalam membentuk sebuah generasi.[]

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top