Sedang Membaca
Nuzulul Quran: Pesona Kaligrafi Pameran Alquran di Iran
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Nuzulul Quran: Pesona Kaligrafi Pameran Alquran di Iran

Afifah Ahmad
Kaligrafi dengan media pinus

“Qurannya orang Iran itu sama gak sih?” Pertanyaan itu seringkali terlontar dari teman-teman begitu tahu saya tinggal di Iran. Tentu saja jawabannya sama. Mengapa sama? Loh, katanya berbeda?

Alquran yang sampai ke tanah Persia merupakan salah satu mushaf Utsmani yang dikirim ke berbagai tempat. Mau bukti? Tanyakan saja pada para peserta Musabaqah Quran asal Indonesia yang sering diundang ke Iran. Atau mari ikut saya menjelajah pameran Alquran yang diadakan tiap bulan Ramadan. Pameran yang telah memasuki tahun ke-26 ini, setiap harinya dibuka untuk umum dari jam 6 sore sampai jam 12 malam.

Tepat pertengahan Ramadan, dihantar rintik hujan musim semi saya meluncur ke arah metro Eram Sabz menuju kompleks “Mushalla Imam Khomeini”. Musala?

Jangan bayangkan musala dalam terma Indonesia. Pengertian Mushalla di sini jauh lebih luas dari masjid. Sebuah kompleks bangunan, yang tidak hanya menyediakan ruangan utama salat, tapi juga terdapat berbagai ruangan yang digunakan untuk kegiatan sosial keagamaan, seperti ruang pameran.

Kompleks “Mushalla Imam” sendiri luasnya sekitar 450 hektar. Begitu keluar dari stasiun metro Imam Khomeini (ada banyak tempat bernama Imam Khomeini), masih harus menempuh jarak sekitar 1 KM ke tempat lokasi pameran Alquran. Untunglah ada mobil antar-jemput gratis yang memudahkan pengunjung (adakah kemewahan begini di Indonesia?).

Di sinilah tempat warga Teheran ngabuburit selama bulan Ramadan. Ada banyak stand yang bisa dijadikan hiburan sekaligus edukasi untuk keluarga. Ruang yang tidak pernah absen adalah ruang anak dan remaja yang selalu ramai dipadati pengunjung, dari lomba mewarnai, animasi, hafalan, sampai bercerita kandungan Alquran.

Jika kita ingin mengintip dunia penerbitan Alquran terbaru, bisa langsung mengunjungi deretan ruang di lorong penerbitan. Mereka yang masih penasaran dengan isi Alquran terbitan Iran juga bisa melakukan ricek satu persatu di ruang ini.

Di sudut lain, para pakar Alquran terlihat sedang sibuk memberikan konsultasi gratis kepada para pengunjung dari mulai masalah keluarga sampai peneliti dan mahasiswa yang akan mengambil tugas akhir.

Baca Juga:  Pengalaman Orang Madura Buka Bersama

Menurut keterangan, ada lebih dari 21 ribu makalah digital tentang Alquran yang bisa diakses oleh pengunjung. Mereka yang sedang melakukan penelitian ilmiah dalam bidang ini, bisa betah berlama-lama berada di sini (adakah kemewahan begini di Indonesia, negeri muslim terbesar di dunia?).

Kalau saya sendiri sangat terkesan di bagian lorong kaligrafi. Di tempat inilah berkumpul para seniman kriya dengan berbagai kemahiran mereka. Maskipun semua bertolak dari seni kaligrafi, namun setiap ruang (booth) memiliki ciri khas tersendiri. Perbedaan media yang mereka gunakan, menambah kekayaan serta keindahan tampilan kaligrafi. Mungkin kita sering melihat kaligrafi yang ditulis di atas lembaran keras, kulit, kayu, bahkan keramik.

Tapi, barangkali kita belum terbiasa melihat bagaimana ayat-ayat Alquran itu dirajut dalam karpet buatan tangan. Atau lafaz-lafaz bahasa Arab itu diukir dalam media yang tidak biasa seperti beras, bunga pinus, atau batu garam.

Berada di tempat ini, waktu seperti bergerak cepat. Bahkan saya tidak menyadari sedang menahan lapar lebih dari 16 jam. Mata ini dimanjakan oleh huruf-huruf Alquran yang diimplementasikan ke dalam keindahan karya seni.

Baca Juga
Tak Perlu Takut Kearab-Araban

Rasanya sulit untuk mendeskripsikan secara detail satu persatu, untunglah saya bisa mengabadikan sebagian karya itu dalam bentuk foto.

Di Indonesia, seharusnya seni kaligrafi dengan menggunakan beragam media seperti ini, bisa melahirkan inovasi yang lebih baik, mengingat potensi sumber daya manusia serta alam yang kaya. Toh, beberapa kali kita pernah sukses menggelar perhelatan Festival Istiqlal.

Sayangnya, masih ada sebagian umat Islam yang menomerduakan seni dan memisahkannya dari aspek ibadah. Gus Dur secara gemilang memberikan solusi terhadap persoalan ini. Menurutnya:

“Menempatkan ekspresi seni dalam kedudukan untuk diperlakukan sama dengan ketaatan pada sendi-sendi keimanan dan kepatuhan kepada agama, semata-mata guna memungkinkan tercapainya ketuntasan pengalaman spiritual yang pada akhirnya toh akan memantulkan keagungan Allah”

Ya, memberikan apresiasi sepenuhnya pada karya seni yang bersumber dari dimensi-dimensi spiritual, pada akhirnya akan mendekatkan kita pada Dia yang Maha Indah. Selamat ngabuburit sambil melihat-lihat galeri foto kaligrafi yang sempat saya abadikan.

Lihat Komentar (0)

Komentari