Sedang Membaca
Kifayatul Mubtadi’in: Kitab Sunda Ditulis di Makkah, Diterbitkan di Kairo (1924)
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Kifayatul Mubtadi’in: Kitab Sunda Ditulis di Makkah, Diterbitkan di Kairo (1924)

Ahmad Ginanjar Sya'ban

Ini adalah kitab Kifayatul Mubtadi’in ila ‘Ibadah Rabbil ‘Alamin karangan seorang ulama besar Nusantara asal Bogor (Jawa Barat) yang mengajar di Masjidil Haram di Makkah pada paruh pertama abad ke-20 M, yaitu Syaikh Mukhtar b. ‘Atharid al-Bughuri al-Makki (dikenal dengan Syaikh Mukhtar Bogor, w. 1930 M).

Kifayatul Mubtadi’in ditulis dalam bahasa Sunda aksara Arab. Karya ini diselesaikan penulisannya di Makkah lalu dicetak di Kairo oleh percetakan Musthafa al-Babi al-Halabi pada 1342 H (1924 M), lalu dicetak lagi untuk kedua kalinya pada 1374 H (1954 M). Dalam versi cetakan al-Halabi, terdapat nama pentashih kitab ini, yaitu Syaikh Muhammad Shalih b. Rayyani Banten.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kandungan kitab ini mengkaji bidang dasar-dasar ilmu keislaman mencakup teologi (ilmu tauhid), yurisprudensi (ilmu fikih), dan tasawuf. Dasar-dasar dari tiga ilmu tersebut, menurut Syaikh Mukhtar Bogor, adalah wajib hukumnya untuk dipelajari dan diketahui oleh setiap orang Muslim yang mukallaf. Syaikh Mukhtar menulis:

أيا دجرونا تيلو علم أنو فرض عين أنو كود دكيهوكن كوسابن2 جلم نو عاقل باليغ كود دففاتهكن كابرودك انو كس عمر توجه تاؤن سرت مميز جع كا فماجكن يا ايت (1) سهج علم أصول الدين جغ أصول الأحكام (2) كدوا علم فقه (3) كتلو علم تصوف

Aya dijerona tilu elmu anu fardhu ‘ain anu kudu dikanyahokeun ku saban-saban jalma nu ‘aqil baleg kudu dipapatahkeun ka barudak anu geus umur tujuh taun serta mumayyiz jeung ka pamajikan nyaeta (1) sahiji elmu ushuluddin jeung ushulul ahkam, (2) kadua elmu fikih, (3) katilu elmu tasawuf/Ada di dalam kitab ini tiga ilmu yang fardhu ‘ain yang harus diketahui oleh setiap orang yang berakal dan balig, yang harus diajarkan kepada anak-anak yang sudah berumur tujuh tahun dan beranjak dewasa juga kepada para istri, yaitu ilmu ushuluddin dan ushulul ahkam, ilmu fikih, dan ilmu tasawuf.

 

Baca juga:  Sowan Mbah Maimun Zubair

Karya ini unik, karena penulisannya yang menggunakan bahasa Sunda beraksara Arab Pegon dan dilakukan di Makkah, lalu dicetak di Kairo (wilayah yang secara geografis sangat jauh sekali dari kawasan Sunda di Jawa Barat). Hal lainnya yang menarik dari karya ini adalah proses persebarannya juga. Dua kota tempat dicetaknya karya ini, yaitu Makkah dan Kairo, mengindikasikan jika karya ini tersebar di sana.

Kemungkinan besar karya ini digunakan oleh Syaikh Mukhtar Bogor sebagai bahan acuan ajar dasar-dasar ilmu keislaman kepada murid-murid pemula yang berasal dari Sunda dan sedang belajar di Makkah.

Kifayatul Mubtadi’in adalah satu dari lima buah karya Syaikh Mukhtar Bogor yang ditulis dalam bahasa Sunda. Keempat karya lainnya adalah (1) Hidayatul Mubtadi’in fi Salak Maslakil Muttaqin, dalam bidang kajian tasawuf (2) ‘Aqa’id Ahlis Sunnah wal Jama’ah dalam bidang kajian teologi, (3) Hidayatul Za’irin wa Ghayatul Ma’mul fi Ziyaratir Rasul dalam menjelaskan tata cara menziarahi kuburan Nabi Muhammad di Madinah, dan (4) Manasikul Hajj dalam bidang kajian manasik haji. Dua karya pertama dicetak oleh al-Halabi di Kairo dengan tahun cetak 1920-an dengan format cetak tipografi (cetak huruf baris). Sementara dua karya terakhir dicetak oleh Mathba’ah al-Taraqqi al-Majidiyyah di Makkah pada 1331 H/1911 M dengan format cetak litografi (cetak batu).

Selain menulis dalam bahasa Sunda, Syaikh Mukhtar juga memiliki karya lainnya yang ditulis dalam bahasa Melayu (aksara Jawi) dan bahasa Arab. Syaikh Mukhtar Bogor sendiri tercatat sebagai poros utama dalam sanad ulama-ulama Sunda di awal abad ke-20 M karena kedudukannya sebagai mahaguru ulama Sunda di Makkah pada kurun masa tersebut. Hampir semua ulama Jawa Barat yang belajar dan bermukim di Makkah pada fatrah waktu tersebut menjadi murid daripada Syaikh Mukhtar Bogor.

Uniknya, dalam semua karya berbahasa Sunda yang beliau tulis, Syaikh Mukhtar Bogor menggunakan identitas nama Sunda-nya, yaitu Raden Muhammad Mukhtar bin Raden Natanagara. Seperti pada halaman sampul dalam kitab Kifayatul Mubtadi’in, Syaikh Mukhtar menulis:

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Sabilus Salikin (98): Tarekat Histiyah

كرغن همب الله أنو لويه هنا رادين حج محمد مختار بن رادين نتنكارا أراغ نكري جاوا بوكور أنو مقيم دمكة مشرفة أنو سوك مورك دي مسجد الحرام

Karangan hamba Allah anu leuwih hina Raden Haji Muhammad Mukhtar bin Raden Natanagara urang negeri Jawa Bogor anu mukim di Makkah Musyarrafah anus ok muruk di Masjidil Haram/ Karangan hamba Allah yang sangat hina Raden Haji Muhammad Mukhtar anak Raden Natanagara orang negeri Jawa Bogor yang bermukim di Makkah Musyarrafah yang mengajar di Masjidil Haram.

Meski demikian, dalam memberi kata pengantar atas tashih-an kitab Kifayah ini, Syaikh Muhammad Shalih b. Rayyani Banten menuliskannya dalam bahasa Arab. Tertulis di halaman tashih kitab ini:

يقول مصححه الراجي غفران المساوي محمد صالح بن الحاج محمد رياني بنتن

أما بعد فقد تم بحمده تعالى طبع كتاب (كفاية المبتدئين في عبادة رب العالمين) وهو كتاب قد احتوى على زبدة ما يجب على العباد ويوصلهم الى رحمة ذوي الفضل والامداد فقد جمع فيه مؤلفه ثلاثة علوم هي خلاصة الشريعة المصطفوية وهي علم (التوحيد والفقه والتصوف) التي اشتملت على السعادة الدنيوية والأخروية

Berkata pentashih kitab ini, seseorang yang mengharapkan ampunan Allah Sang Maha Pengampun Dosa, yaitu Muhammad Shalih anak Haji Muhammad Rayyani Banten. Amma ba’du. Telah selesai dengan memuji Allah, usaha mencetak kitab “Kifayatul Mubtadi’in ila ‘Ibadah Rabbil ‘Alamin” yang mana kitab ini mencakup inti sari ilmu-ilmu yang harus diketahui oleh para hamba dan mengantarkan mereka pada kasih sayang Allah Sang Pemilik Keutamaan dan Pertolongan. Pengarang kitab ini telah menghimpunkan di dalamnya tiga buah ilmu yang merupakan ringkasan dari ajaran Nabi Muhammad, yaitu ilmu tauhid, fikih, dan tasawuf, yang meliputi kebahagaan dunia dan akhirat.

Saya sendiri memiliki dua versi naskah kitab Kifayatul Mubtadi’in ini. Pertama adalah versi cetakan kedua dari Maktabah Musthafa al-Babi al-Halabi di Kairo dengan tahun cetak 1347 H/1954 M, dan kedua adalah versi cetakan Penerbit al-Ma’arif Bandung (tanpa tahun cetak). Yang pertama saya dapatkan di gudang percetakan al-Halabi di Kairo sekitar bulan April tahun 2016, sementara yang kedua saya dapatkan di sebuah tokoh kitab kecil di Pasar Parung, Bogor, sekira Agustus 2017.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  ​Jelang Munas Alim Ulama (3): Selintas Maulana Syeikh

Bogor, April 2018

Lihat Komentar (1)
  • Punten kang maksad kalimat ini:
    “anus ok muruk di Masjidil ” harusnya adalah:ANU-SOK-MURUK-DI-MASJIDIL HARAM.
    BERIBU PUNTEN BIAR GAK SALAH PENGERTIAN PEMBACA SELAIN ORANG SUNDA.

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top