Sedang Membaca
Seni Kaligrafi Kiai Robert Nasrullah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Seni Kaligrafi Kiai Robert Nasrullah

Hajriansyah

Saya mengenal Kiai Robert jauh sebelum pameran ini sebagai orang yang tak banyak bicara. Saya lupa, apakah waktu kali pertama kami berkenalan ia mengenalkan dirinya dengan nama Robert atau Nasrullah. Yang jelas ketika itu, sebagai sesama perantau dari Kalimantan Selatan atau dari Banjar, kami mudah akrab. Apalagi ketika saya tahu dia orang Nagara, kampung Banjar di hulu sungai (Barito, dengan anak sungai Nagaranya) yang juga kampung ayah saya, makin senanglah hati saya ketika itu.

Nagara dulu dikenal sebagai kampung tuan guru. Istilah langgar atau masjid barangkap (berlantai dua), yang merupakan model pesantren gaya lama di Kalimantan Selatan, datangnya dari Nagara.

Di kota kecamatan yang merupakan bagian dari kabupaten Hulu Sungai Selatan ini mengalir darah ulama keturunan Syekh Arsyad al-Banjari, ulama karismatik abad ke-18/19 yang masih dikenang namanya hingga kini melalui kitabnya Sabilal Muhtadin, yang dijadikan nama masjid raya di kota Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan.

Di tengah-tengah kota kecamatan (Nagara) ini juga berdiri Masjid Jami (dan makam) Ibrahim al-Habsy, murid langsung dari penulis riwayat dan syair Simthuddurar, al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsy.

Saya sendiri baru tahu kemudian, Robert atau yang nama aslinya Nasrullah ini anak dari salah satu tuan guru di Nagara. Maka lengkaplah sudah, ketika saya mendengar Kiai Robert (berikutnya saya sebut Robert saja) jadi Imam tetap di Masjid UIN Antasari ia memang pantas untuk itu. Kampung ulama, anak tuan guru, hafiz dan qari Alquran, serta ahli kaligrafi. Bahkan melampaui itu semua, Robert seorang pelukis. Saya lalu ingat sebuah riwayat, terlepas dari benar tidaknya riwayat ini, bahwa Syekh Arsyad juga punya kemampuan melukis, dan konon katanya pernah membuat lukisan potret dirinya.

***Pameran kali ini membentangkan eksplorasi terkini dari kreativitas seni rupa Robert yang memadukan seni kaligrafi, multi-media, dan buah renungannya tentang kondisi sosial politik terkini dan kenangan akan kampung halaman. Setidaknya demikian yang dapat saya tangkap melalui karya-karyanya.

Adapun multi-media yang saya maksud, adalah yang terkait penggunaan media apa saja yang teraba secara visual (tidak terbatas pada kanvas, dengan dimensi panjang-lebarnya) yang dirasanya dapat mengekspresikan pengalaman estetisnya.

Baca Juga:  Maulid Nabi dan Kedermawanan Kita

Kaligrafi sendiri adalah titik berangkat Robert memasuki dunia seni rupa. Dia seorang khaththath (kaligrafer) tentu saja. Qawa’idul khaththtil ‘arabiy tentu sudah dikuasainya sejak dini. Kaidah yang dipopulerkan Ibnu Muqlah (w. 940 M) dan disempurnakan para kaligrafer sesudahnya hingga metode Hasyim Baghdadi, tentu saja dia khatam. Dan tampaknya Robert tak ingin beranjak dari bentuk-bentuk yang sudah mapan itu: Naskhi, Tsulutsi, Farisi, Riq’i, dst.

Eksplorasinya diarahkan pada media dan motif perupaan yang menampung khazanah seni Islam ini.Robert memakai “barang-jadi” macam kertas koran, lembar plastik, batu marmer dan granit, potongan kayu dan ranting, logam stainless, aquarium, yang di”instal” sedemikian rupa jadi mozaik-mozaik renungan. Pemanfaatan multi-media semacam ini tentu saja bukan hal baru bagi para seniman.

Jauh sebelum ini di Indonesia, GSRB (gerakan seni rupa baru) di tahun 70an sudah mempopulerkannya. Dan makin massif jadi “barang” seni, sejak seni rupa kontemporer jadi perbincangan yang makin hangat di awal 2000an. Sejak seni di”pop”ulerkan dan dihadirkan untuk menantang stabilitas atau kemapanan “seni murni” (fine art). Dalam hal ini saya kira, Robert berusaha memantapkan dirinya sebagai salah seorang seniman kontemporer Indonesia.

Adapun pembacaan terhadap karya-karyanya, bisa diarahkan pada dua sisi koin estetik: seni sebagai barang jadi yang bersifat artistik, dan sebagai buah refleksi atas persoalan-persoalan kekinian di sekitar kemanusiaan yang menjadi konsep visual.

Karya “Rumah Batu” (dimensi variabel 4 buah, 2017), misalnya, memanfaatkan potongan batu marmer dan granit yang dipotong simetris merujuk pada penyederhanaan (simplifikasi) bentuk rumah, disusun berjajar empat buah. Beberapa bagian permukaannya dibiarkan rompal dan berlobang secara artistik. Penyusunan sedemikian rupa dan bentuk permukaannya yang dipotong tajam mengingatkan pada prinsip tarikan garis khat naskhi yang sederhana.

Di sisi lain ia bisa juga dimaknai dalam konteks artefak alamiah, hasil dari bentukan atau sayatan angin atau cucuran air yang berterusan. Warna alamiah granit atau marmer pun dipertahankan seperti asalnya. Dalam hal ini Robert hanya “menyusun”nya, sesederhana seni Zen yang bersifat simbolik.

Baca Juga:  Mengenang Tauhid, Film Haji yang Terlupakan (2/2)

Seni simbolik tentu saja juga bagian dari khazanah seni sufi. Para sufi, seperti dikatakan Seyyed Hossein Nasr, menghadirkan kembali bentuk-bentuk “abadi” yang sudah ada di alam imajinal (‘alamul khayal) dalam khazanah kosmologi sufistik.

Rumah bisa saja merupakan “rumah di surga” (baytan fil jannah) yang abadi dan menjadi tujuan dari semua harapan orang-orang beriman, misalnya. Ini hanya satu bentuk pemaknaan. Bisa saja, terlepas dari pemaknaan saya dan maksud Robert sebenarnya, ia merepresentasikan yang profan di dunia ini; “sekadar” bangunan sekuler dari “kekerasan” sosial yang menjadi keseharian kita hari ini.

Karya “Dua Musim” (diameter 120 cm 2 buah, 2017) juga merupakan karya yang artistik. Karya sederhana ini juga terkesan simbolik. Dengan akrilik, plastik, kawat, dan selang pada (lingkaran) multiplek, karya ini seperti menghadirkan “dua musim” melalui warna hijau yang segar dan warna coklat yang kering di atas bidang berwarna putih pucat yang kasar.

Bagaimana kita menalar lebih lanjut kedua karya ini, keluar dari kemungkinan-kemungkinan yang sudah dipaparkan di atas?

Mungkin kita perlu membaca pernyataan Robert sendiri, terkait konsep pamerannya kali ini:

“… mengangkat seputar tanaman dan lingkungan hidup sebagai bagian penting dari pemenuhan hidup manusia. Alam digambarkan dengan berbagai bentuk dan media… memberi energi positif dan udara bersih bagi makhluk hidup. Dewasa ini banyak kerusakan baik di darat ataupun di laut akibat ulah manusia sehingga kemudian berdampak pada kerusakan alam seperti longsor, banjir dan pemanasan global.”

Dari sini jelas, titik tolak Robert adalah alam sebagai gambaran ideal dan konseptual. Titik ini dipasangkan dengan “akibat perbuatan manusia” (bima kasabat aydin nas), yang berakibat pada kerusakan—seperti longsor, banjir dan pemanasan global. Tema ini bagian dari problem modernitas, yang pernah disitir Nasr melalui ungkapan buah “nestapa manusia modern”.

Baca Juga
Ben Anderson Memandang Pesantren

Perbenturan antara temuan teknologi serta kultur yang mengikutinya, dengan bencana lingkungan dan kemanusiaan (krisis ekologi) yang dihasilkan modernitas Barat, menurut Nasr memerlukan refleksi yang bersifat spiritual. Sehingga, “metode” para sufi dalam memandang kosmos perlu diketengahkan di sini.

Baca Juga:  Kisah Selendang: Selempang Enak Dipandang

***

Saya kira mencuplik sedikit pengetahuan kosmologi sufistik, dalam pembacaan karya-karya Robert kali ini, tidaklah terlalu berlebihan. Pertama, ini tak jauh dari latar belakang Robert sendiri, dan kedua, mengingat gagasan yang disodorkan Robert dalam konsep pameran ini.

Dalam pandangan yang bersifat sufistik kosmos adalah emanasi atau tajalli Tuhan, yang ingin dikenal “perbendaharaan”Nya. Namun kosmos bukanlah Tuhan, meski oleh sebagian pengamat yang mematut-patutkannya dengan pandangan panteistik ia adalah bentuk “perupaan” Tuhan.

Kosmos adalah segala sesuatu selain Tuhan, termasuk di dalamnya bentangan jagat raya yang tampak (alam yang kita pahami) maupun tak tampak (keduanya disebut makrokosmos) dan manusia dan dunia batinnya yang bersifat spiritual-psikologis (mikrokosmos).

Kosmos ini, yang makro dan mikro, dipandang secara berlapis-lapis atau bertingkat-tingkat, dan keduanya saling merefleksikan keberadaannya secara timbal balik. Melalui dunia batin (imajinal) mereka, para sufi menelusuri asal keberadaan mereka yang hakiki—melalui tahapan atas lapis-lapis pengalaman imajinalnya.

Karena keduanya saling berefleksi, yang mikro dan yang makro saling terkait satu sama lain. Keberadaan itu sendiri adalah rahmat (bentuk kasih sayang Tuhan) dan barakah (hikmah dari kasih sayang Tuhan). Sehingga, pengrusakan atas hubungan timbal balik itu sendiri merupakan penafian atas rahmat Tuhan. Krisis ekologi terjadi karena pengrusakan atas hubungan yang mestinya saling mengasihi (memberi rahmat). Keseimbangan terganggu, dan kerusakan di muka bumi adalah akibat dari perbuatan manusia sendiri.

Rahmat dan barakah saya kira penting dalam memaknai kehadiran kreativitas Robert dalam pameran kali ini. Melalui karya-karyanya, yang terkait dengan refleksinya atas hubungan timbal-balik alam dengan manusia dan manusia dengan manusia lainnya, kita bisa merasakan yang indah dalam “barang-jadi” yang disusun dan dihiasi dengan khathth (tulisan atau garis), bentuk(an), dan warna.

Dalam hal ini, Kiai Robert mengajak kita untuk kembali pada kemanusiaan kita yang hakiki, yang merefleksikan sifat jamal (keindahan) Tuhan. Saya kira ini cukup, sisanya kembali pada imajinasi (dan apresiasi) Anda sendiri.

Lihat Komentar (0)

Komentari