Sedang Membaca
Tradisi Ziarah di Negeri Persia
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Tradisi Ziarah di Negeri Persia

Afifah Ahmad
para peziarah berpiknik usai berziarah

Sebagai seorang yang lahir dan besar dalam tradisi NU, tentu saya tidak asing dengan ritual ziarah kubur. Dulu, saat kecil saya kerap diajak berwisata ziarah oleh keluarga ke makam para wali. “Wisata kok ke makam? Gak keren ah!” begitu celoteh kanak-kanak saya.

Ketika tiba di Iran, memori masa kecil itu seperti kembali terbangunkan. Ternyata, tradisi ziarah juga sangat dekat dengan keseharian masyarakat Iran.

Ada dua tempat yang dikenal sebagai kota tujuan utama ziarah di Iran, yaitu Mashhad dan Qom. Di Mashhad sendiri, terdapat makam Imam Ali ar-Ridha, salah seorang cicit Rasulullah. Masyarakat Iran dan kelompok syiah, meyakininya sebagai Imam ke-8.

Namun, sebagian penganut Sunni, terutama pengikut tasawuf menghormatinya sebagai guru tarikat sufi. Sedangkan di kota Qom, ada makam ulama perempuan bernama Sayidah Maksumah, masih adik Imam Ali ar-Ridha. Dua kompleks pemakaman yang dibangun megah ini, sepanjang tahunnya selalu ramai dipadati pengunjung, baik peziarah lokal maupun mancanegara.

Selain dua makam tersebut, di Iran dikenal juga makam Emamzadeh, yaitu keturunan Nabi Muhammad SAW yang datang ke tanah Persia untuk menyebarkan agama Islam.

Di Indonesia mungkin setingkat wali. Hampir setiap kota yang saya kunjungi, terdapat makam Emamzadeh. Biasanya dibangunkan kubah seperti masjid dan menjadi pusat keagamaan daerah setempat.

Di Teheran sendiri, ada banyak makam Emamzadeh, yang paling terkenal adalah Emamzadeh Saleh, berlokasi di kawasan Tajris. Di kompleks ini juga, dimakamkan dua ilmuan nuklir korban teror bom beberapa waktu lalu.

Dari Makam Nabi Daniel sampai Makam Penyair

Tak hanya makam Imam dan para ulama, tempat peristirahatan tokoh sebelum Islam pun dapat kita jumpai di Iran, seperti Cyrus di Pasargard, Ester di Hamedan, dan Nabi Daniel di Shush. Seperti kita ketahui, Nabi Daniel merupakan salah seorang Nabi dari kalangan Bani Israel yang dihormati oleh para pengikut agama Ibrahimi, baik Yahudi, Nasrani, maupun Islam.

Baca juga:  Makam Imam al-Ghazali yang Tersembunyi

Begitu juga makam tokoh-tokoh di masa keemasan Islam, seperti Ibnu Sina di Hamedan, Syekh Safiuddin di Ardabil, Imam Ghazali di Thus, Bayazid Bastami di Shahrud, sampai makam seorang ahli bahasa Arab, Sibawaih di Shiraz. Seluruh makam-makam tersebut dihormati dan tetap dijaga dengan baik.

Bahkan, untuk makam para penyair Islam klasik, selain dibangunkan kubah, juga diperindah dengan taman yang luas, seperti: makam Fariduddin Attar dan Omar Khayyam di Nisyabur, makam Hafez dan Saadi di Shiraz, juga makam Ferdowsi di Thus.

Pengalaman mengunjungi makam para penyair ini pernah saya tulis dalam satu bab khusus di buku The Road to Persia. Rasanya perlu waktu lebih dari sebulan traveling ke Iran jika kita ingin menyambangi satu persatu makam tersebut.

Lestarinya makam para ulama sampai penyair ini tak lepas dari tradisi masyarakat Iran yang memang menyukai ziarah. Saat berkunjung ke kota Qom dan Mashhad, saya melihat sendiri bagaimana antusiasme mereka saat sedang beziarah. Ada beberapa catatan menarik yang saya amati soal budaya ziarah ini:

Pertama, sebelum berziarah, biasanya mereka membagikan makanan ringan berupa kurma atau permen yang disebut nazri kepada sesama peziarah. Bahkan, ada juga yang membawa gandum untuk diberikan pada burung-burung di sekitar kompleks. Filosofinya, sebelum berdoa kepada Allah kita perlu memperbaiki hubungan dengan sesama.

Baca Juga

Kedua, ketika berziarah, orang Iran lebih terlihat eskpresif. Setelah shalat dua rakaat dan membaca doa ziarah, mereka memegang dan mencium zarih atau ruangan kecil pembatas makam inti.

Ketiga, biasanya mereka pergi ke tempat ziarah di akhir pekan atau hari-hari libur sambil berpiknik bersama keluarga. Setelah selesai berdoa, mereka akan membuka bekal makanan untuk dinikmati bersama. Area di sekitar kompleks ziarah memang sangat mendukung; jauh dari kesan seram, bersih, dan nyaris tak ada pengemis, sehingga nyaman untuk duduk-duduk atau sekedar berteduh.

Keempat, khusus untuk ziarah ke makam penyair, terutama makam Hafez, selain melafalkan surat alfatihah, biasanya mereka juga membacakan syair-syair Hafez di samping pusaranya. Menyimak saja sudah terasa syahdu, apalagi ikut membacanya.

Di Indonesia, potensi wisata spiritual seperti ini sebenarnya cukup banyak, dari mulai makam wali songo sampai para ulama.

Sayangnya, belum dikembangkan secara optimal. Padahal berziarah ke makam orang-orang salih, selain mengalap berkah, juga dapat membangkitkan produktivitas, karena kita seolah dipaksa mempelajari kisah hidup sang tokoh.

Sekarang, saya malah nyandu. Setiap kali traveling ke suatu tempat, saya akan mencari makam yang bisa diziarahi. Jadi, siapa bilang wisata ziarah itu ndeso?

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top