Memperingati Hari Asyura di Teheran

Afifah Ahmad

Ashura yek hadeseh nist, balkeh yek farhang ast. (Asyura bukan sekedar sebuah peristiwa, tapi lebih dari itu sebuah budaya)

Kalimat di atas  terpampang besar di sebuah jalan utama pusat keramaian Teheran. Bagi masyarakat Iran, Asyura memang bukan sekadar peristiwa sejarah biasa yang sudah berlangsung lebih dari 1.000 tahun silam. Asyura telah menyatu dalam denyut nadi kehidupan mereka. Tidak akan pernah ada acara pernikahan dan pertunangan pada bulan Muharam. Bahkan, biasanya mereka akan menunda bepergian yang sifatnya hiburan.

Sejak memasuki awal Muharam, kesibukan warga mulai terlihat dengan memasang bendera-bendera hitam dan spanduk besar bertuliskan Husain di sekitar kompleks perumahan. Aura kota pun menjadi lebih muram. Sebagian besar warga mulai mengenakan pakaian hitam keluar rumah. Para pemuda bergotong royong mendirikan Ishgah.

Ishgah

 

Ishgah adalah semacam pos khusus yang dibuat pada hari-hari duka, terutama Muharam. Para pemuda bergantian menjaga pos dan memberikan minuman gratis kepada para pejalan kaki. Konon filosofinya, mereka ingin selalu mengenang rombongan Sayidina Husain yang terbunuh dalam keadaan haus akibat ditutupnya Sungai Eufrat.

Padahal sejatinya, air adalah hak seluruh makhluk hidup. Bahkan, di dalam ajaran Islam, seseorang bisa bertayamum bila air tersebut dibutuhkan oleh seekor anjing yang kehausan. Bagi saya, ini merupakan catatan menarik. Ketika peristiwa masa lalu tidak hanya dikenang menjadi sebuah cerita, tapi tumbuh dan menginspirasi aksi kebaikan.

Ditilik secara historis, Asyura mulai diperingati secara luas di Iran pada abad ke-10 M era Dinasti Buyid. Kemudian terus berlanjut hingga Dinasti Safavi abad ke-16. Pada masa Qajar dan Pahlevi, peringatan Asyura pun masih dapat disaksikan di tengah masyarakat. Namun setelah revolusi Iran, Asyura seperti menemukan ‘rumah’-nya yang terhangat. Hari-hari Asyura kembali dihidupkan. Nama Husain menggema kuat di sudut-sudut Husainiyah, semacam mushala kecil untuk kegiatan keagamaan.

Baca Juga:  Tradisi Grebek Suro: Refleksi Dakwah Raden Bathoro Katong

Pada 10 malam pertama Muharam, Husainiyah dipadati warga yang akan mengikuti acara duka Alhusain. Rangkaian acaranya berupa ceramah dan hikmah Asyura, pembacaan narasi sejarah, menepuk dada sambil dipandu lantunan syair-syair duka yang dipimpin oleh maddah (pelantun syair-syair keagamaan). Di sela-sela itu, anak-anak akan mengedarkan kurma dan teh. Selain di ruangan, banyak juga masyarakat yang mengenang peristiwa Asyura di jalanan. Mereka berjalan bersama kelompok dasti-nya menyusuri jalan-jalan kompleks perumahan. Puncak iringan dasti ini akan terjadi pada hari ke-10 Muharam.

Para penabuh drum.

Dasti adalah perpaduan simfoni duka yang memesona. Sebuah kerja tim yang melibatkan banyak peran. Seorang maddah yang bersuara tinggi dan merdu akan melantunkan narasi Asyura dalam bait-bait kepedihan. Beberapa pemuda mengusung drum besar dan menabuhnya dengan amat menyayat. Ada juga pasukan pembawa bendera Alhusain yang ukurannya sangat besar. Rombongan diikuti barisan panjang pejalan kaki di tepi kanan dan kiri jalan. Biasanya, mereka membawa rantai-rantai kecil yang ditepukkan pada punggung sebagai simbol duka. Ada juga yang sekadar menepuk dada.

Selama tinggal dan menyaksikan langsung acara iring-iringan dasti, saya tidak pernah menyaksikan adegan menyeramkan seperti yang diberitakan oleh berbagai media. Pemerintah dan ulama Iran secara keras mengharamkan ritual Asyura yang melukai diri sendiri. Misalnya, melukai kepala dengan benda tajam atau yang sejenisnya.

Baca Juga

Di beberapa tempat di Iran, masyarakat tidak hanya cukup memperingati Asyura dengan cara dasti. Tapi, mereka menggelar teater jalanan dan memperagakan kembali peristiwa Asyura. Peragaan itu biasa disebut dengan taaziyeh khani. Acara biasanya disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Para pemainnya pun berlatih secara tekun. Masalah paling rumit biasanya terjadi saat penentuan tokoh pemeran Sayidina Husain. Karena harus diperankan oleh seseorang yang memiliki kharisma dan dikenal baik di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Mengulik Bahasa Jawa di Dunia Santri

 

Maddah, pelantun syair duka.

Selain kesibukan para dasti yang terlihat di jalanan, sesungguhnya ada banyak tangan-tangan lain yang berjasa menyiapkan nazri di dapur-dapur umum. Nazri adalah makanan yang dibuat khusus pada hari duka yang diberkan kepada para peserta dasti maupun masyarakat umum. Biasanya berupa nasi dan lauk sederhana atau sup Ash. Ada juga yang membuat Sholezard, semacam bubur kuning yang berbahan beras, gula, dan safran. Makanan ini mengingatkan saya pada “bubur suro” di Tanah Air yang biasanya dimasak pada hari Asyura.

Pengantar nazri.

Masyarakat Iran rela mengantri panjang untuk bisa mendapatkan nazri yang menurut mereka mengandung berkah. Para dermawan yang menyumbangkan untuk keperluan nazri pun merasa lega telah menunaikan kewajibannya. Tidak jarang nazri ini juga dikirim ke berbagai kawasan miskin. Setidaknya setahun sekali mereka dapat mencicipi perjuangan Sayidina Husain dalam bentuknya yang lain.

Barangkali, beginilah maksud spanduk yang tertera di atas. Ketika peristiwa Asyura tidak hanya diratapi sebagai sejarah masa lalu, tapi sebuah semangat yang melahirkan energi untuk berbuat kebaikan kepada sesama.

Lihat Komentar (0)

Komentari