Sedang Membaca
Serunya Merayakan Hari Asyura di Maroko
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Serunya Merayakan Hari Asyura di Maroko

M. Fahruddin Al Mustofa

Suasana di jalan terasa begitu hidup. Anak-anak kecil, laki-laki, perempuan, hingga orang dewasa memadati gang-gang di sudut desa. Ledakan petasan bergemuruh secara bergantian. Tabuhan tobla mengalun keras diiringi nyanyian khas berisi pujian pada baginda Nabi Muhammad Saw dan keluarganya yang mulia. Beginilah suasana malam Asyura yang dapat kita temukan di Maroko.

Berbeda dengan negara-negara lain, Maroko mempunyai tradisi unik untuk memperingati hari 10 Muharam atau hari Asyura—yang menurut sebagian kaum Muslim dianggap sebagai hari kesedihan dan perkabungan. Pada hari ini terjadi tragedi berdarah di padang Karbala yang menimpa Husein bin Ali, cucu kesayangan Nabi Muhammad.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Al-Fakiyah

Melihat akar katanya, al-fakiyah berasal dari asal kata al-fakihah yang berarti buah-buahan. Sebelum malam Asyura, para ibu sudah menyiapkan berbagai hidangan yang akan disuguhkan. Salah satunya al-fakiyah ini, yaitu buah-buahan yang telah dikeringkan, seperti buah tin, kurma, persik, juga kacang-kacangan, mulai dari kenari, luz, juoz, dan tak lupa manisan kering.

Uniknya, pada pagi harinya, anak-anak keluar rumah dengan sorak-sorai bahagia dan mengetuk pintu dari rumah ke rumah. Lalu ibu-ibu dan seisi rumah akan menyambut anak-anak tadi sambil membagikan hadiah kecil atau al-fakiyah yang telah disiapkan.

Upacara Main Api

Jangan heran ketika melintasi gang-gang kecil, Anda akan disuguhi pemandangan anak-anak dan orang dewasa berkumpul di tengah jalan membakar kayu, ranting kering, bahkan ban bekas. Disertai dengan teriakan-teriakan yang membakar semangat. Asyuri, Asyuri… Alaika Nuthliq Syu’uri”. Dan ini bukanlah demo menuntut kenaikan dolar atau BBM, tapi murni ekspresi masyarakat yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Upacara ini dikenal dengan sebutan Asy-Syia’alah.

Baba Aisyur

Baca juga:  Tradisi Al-Azhar: Muazin Harus Tunanetra

Baba Aisyur adalah tokoh fiktif dari folklor yang berkembang luas di kalangan masyarakat Maroko. Ia adalah sosok lelaki tua murah senyum yang memiliki tugas membagikan hadiah kepada anak-anak kecil di malam Asyura. Seiring berkembangnya zaman, masyarakat berinisiatif untuk mewujudkan folklor ini dalam bentuk nyata. Dipilihlah seorang lelaki tua yang mengenakan kaftan khas berwarna-warni. Ditambah lagi topi berukuran besar dengan hiasan unik yang menghiasi kepalanya, menambah jelmaan tokoh Baba Aisyur ini semakin melekat di hati masyarakat.

Menurut Dr. Najimah Ghazali, seorang pakar warisan budaya nonbendawi, menyatakan bahwa sosok Baba Aisyur adalah bentuk visualisasi dari folklor masyarakat Maroko. Dan untuk pemilihan kostum Baba Aisyur dengan warna utama biru melambangkan air dan warna oranye yang bermakna nyala api.

Dr. Najimah menambahkan bahwa kostum ini merupakan hasil perlombaan yang diadakan oleh yayasan Collage La Salle yang dinaugi oleh forum pertemuan budaya dan pendidikan yang digagasnya. Hingga hari ini Baba Aisyur menjadi ikon perayaan hari Asyura yang selalu mengisi hati anak-anak kecil hingga orangtua dengan cinta dan rasa bahagia.

Festival Air

Ada lagi tradisi yang tak kalah serunya dan selalu dinanti oleh seluruh warga Maroko, yaitu Tazmazim yang dinisbatkan pada akar kata Zam-zam. Sebuah festival bermain air di tengah kota, saling semprot dan siram. Sebelumnya para orang tua membelikan anak-anak mereka mainan berupa pistol air. Banyak juga yang langsung membawa ember yang berisi ember penuh lalu saling siram dan lempar air satu sama lain. Tawa yang bertebaran dan baju yang basah kuyup adalah hal yang tak bisa dihindari setiap festival ini berlangsung.

Baca juga:  Muqoddaman, Cara Orang Nusantara Menjaga Alquran

Polemik Perayaan Asyura

Ini adalah tahun keempat saya berada di Maroko. Setiap perayaan hari Asyura ini saya dibuat masygul sekaligus heran. Betapa tidak, kita tahu bahwa di negara-negara Timur Tengah lain mungkin merayakan hari Asyura ini dengan keheningan dan upacara berkabung. Atau berkibarnya bendera-bendera berwarna hitam dan upacara menyiksa badan seperti halnya terjadi di Iran. Tapi kenapa Maroko malah sebaliknya. Masyarakat malah menyambut hari ini dengan sukacita dan tanpa sedikit pun kesedihan yang tampak.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam salah satu artikel yang dilansir oleh CNN Arabic pada 2016, Rasyid El Jarmouni, pakar sosiologi keagamaan lulusan Universitas Mohammed V dan juga dosen ilmu sosiologi di Universitas Maolay Ismail, Meknes, berkata, “Salah satu sebab perbedaan yang mencolok antara tradisi timur dan barat Islam, karena masyarakat barat Islam, khususnya Maroko, menganggap bahwa perayaan Asyura seharusnya disikapi dengan gembira untuk melupakan kebengisan tragedi berdarah Karbala tersebut.

Kedua, bahwa masyarakat Maroko ingin menjaga tradisi yang sudah diwariskan secara turun-temurun dari para leluhur mereka. Tanpa ada tendensi untuk mengubah bentuk dan teknis adat yang telah ada.

Tak sampai di sini, banyak kalangan intelektual yang mempermasalahkan dari mana asal mula berbagai tradisi dan upacara keagaaman yang telah mengakar kuat ini. Dalam artikel yang ditulis Khalid ben Syareef membagi asal muasal munculnya tradisi Asyura ini menjadi tiga bagian.

Pertama, tradisi Sunni. Jika kita menengok kepada sumber otentik hadis Nabi, maka kita akan menemukan kesunahan menjalankan puasa di hari Asyura ini. Ada beberapa riwayat menyebutkan bahwa puasa ini sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Musa.

Baca juga:  Ramadan di Sudan, dari Alquran Langgam Sudan hingga Kuliner

Ada riwayat lain seperti, hari di mana Nabi Nuh selamat dari Thufan, keluarnya Nabi Yunus dari perut ikan paus, dan selamatnya Nabi Ibrahim dari Api yang membakarnya. Dari sinilah muncul tradisi umat Islam Maroko untuk memperbanyak sedekah, membagikan zakat kepada yang tak mampu, membaca madh kepada Nabi dan Ahl Al-Bait. Serta untuk para perempuan, memakai dan menghiasi tangan mereka dengan heina.

Kedua, pengaruh tradisi Syiah. Banyak kalangan yang berpendapat bahwa tradisi ini merupakan tradisi Syiah. Mereka mendasarkan pendapat mereka pada fakta sejarah bahwa sekitara abad 10-11 M dinasti Fathimiyah yang berafiliasi terhadap mazhab Syiah, telah menancapkan kekuasaan mereka hingga ke selatan Afrika. Tak ayal, jika perayaan Asyura ini berkaitan erat dengan pengaruh mazhab Syiah yang dijadikan mazhab utama penguasa saat itu.

Ketiga, pengaruh Watsaniyah. Menurut teori ini, seluruh tradisi yang telah disebut di atas murni berasal dari masa pra-Islam. Yaitu ketika bangsa Amazigh atau Berber masih menyembah batu, air, dan api. Maka timbullah upacara seperti Asy-Sya’alah, Tazmazim sebagai bentuk ritual pemujaan yang telah menjadi tradisi di kalangan masyarakat dahulu.

Sebelum menutup tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa setiap negara, daerah, suku, bahkan desa sekalipun memiliki tradisi masing-masing. Apa yang saya tuliskan ini sebagian kecil dari budaya dan tradisi masyarakat Maroko. Untuk perayaan Asyura, tak selalu harus dengan kesedihan dan kemurungan, tapi dengan tawa riang serta cinta yang disebarkan di setiap hati manusia tak menghalangi sedikitpun rasa cinta dan kesedihan kita terhadap peristiwa berdarah padang Karbala. Mari berbahagia!

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Rabat, 21 September 2018

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top