Sedang Membaca
Kulit dan Isi: Menimbang Ekspresi Keberagamaan

Kulit dan Isi: Menimbang Ekspresi Keberagamaan

Ahmad Ali Fikri

Sesekali cobalah arahkan perhatian Anda pada buah durian. Mulailah amati bentuknya secara saksama. Setidaknya, buah yang ada di hadapan Anda itu berbentuk bulat (meski tidak seratus persen bulat atau elip), kulit luarnya kasar dan dipenuhi dengan duri-duri besar.

Setelah itu,  belahlah buah tersebut untuk kemudian cicipi isinya. Maka salah satu pengetahuan dasar yang akan Anda dapatkan ialah rasa dan lezatnya buah durian. Setelah itu, tariklah sebuah kesimpulan sederhana dari bentuk dan rasa yang ada pada raja buah tersebut. Sekurang-kurangnya, kesimpulan yang akan didapatkan ialah kenyataan bahwa rasa enak dan lezatnya buah durian tidak berbanding lurus dengan kulit yang membungkusnya, kan?

Sebaliknya, jika Anda perhatikan buah rukem, misalnya, yang kulit atau tampilannya jauh lebih menawan daripada buah durian. Tetapi dari sisi isi, rasanya jauh sekali bila dibandingkan dengan durian. Bahkan, buah ini rasanya sepat kecuali sebelum mengonsumsinya kita lebih dulu memijat-mijatnya sebagai mekanisme untuk mengurangi rasa sepatnya. Kesimpulannya pun akan terbalik; halus dan menawannya kulit yang membungkusnya tidak selezat rasa buah yang ada di dalamnya. Maka pengetahuan kita terhadap kulit dari sesuatu tidak menjamin seutuhnya bahwa kita juga tahu terhadap kualitas isi yang ada di dalamnya.

Ternyata fenomena kulit dan isi pada buah tersebut juga berlaku di kehidupan sosial-beragama. Bahkan, kita bisa jadikan semacam pijakan dasar (elementary steap) dalam memahami gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sosial-keberagamaan kita sehari-hari.

Telah menjadi pemahaman mayoritas bahwa dalam konteks aplikasi ajarannya, agama (Islam) terdiri dari dua varian atau aspek penting yang membentuknya; aspek luar (eksoteris) dan aspek dalam (esoteris). Dalam perkembangannya, sisi luar itu kemudian dipahami, secara agak simplistis, sebagai syariat (fikih) yang urusannya berfokus pada aturan-aturan dan pengamalan agama secara lahir. Sementara sisi dalam dikenal dengan tasawuf (sufisme atau mistisime) yang berurusan dengan perilaku yang tak kasat mata dan bertumpu pada perilaku hati.

Baca juga:  Perbincangan Singkat tentang Islam di Perancis

Kedua bagian ini, dalam Islam harus berjalan beiringan, komplementer, serta tidak antagonistik. Karena seorang Muslim yang taat melaksanakan ibadah lahiriah (fikih) tidak menjadi berarti atau sempurna jika ternyata dalam perilaku hatinya masih disesaki dengan sifat-sifat tercela seperti iri, dengki, sombong, dan lain sebagainya. Pun seorang yang giat menjauhi sifat-sifat hati tak terpuji namun ia abai pada ibadah lahiriah, dengan tidak salat dan berpuasa di bulan Ramadhan misalnya, maka amalan itu juga dianggap tidak berarti (batil).

Sebagaimana ungkapan Al-Qusyairi (w. 465 H/ 1073 M) dalam karya agungnya, Ar-Risalatul Qusyairiyyah, bahwa “setiap syari’at yang tidak dikaitkan atau disandarkan kepada hakekat ia tidak diterima. Begitupun dengan hakekat yang tidak dikaitkan dengan syari’at ia tidak akan sampai. Sebab, [jika] syari’at yang mengatur persoalan menyembah (ibadah) kepada Allah SWT maka hakekat adalah yang mengurus persoal ber-syahadat padaNya”.

Formulasi semacam ini menunjukkan bahwa sikap keberagamaan ideal dalam Islam harus senantiasa bertolak dan sesuai dengan aturan syariat pada satu sisi sekaligus berkesesuaian dengan tasawuf di sisi lain; dua aspek (luar dan dalam) ini tidak bisa dipisahkan namun keduanya harus bekerja secara beriringan dan integratif.

Akhir-akhir ini kita sering disuguhi bermacam-macam fenomena yang—dalam konteks sikap dan ekspresi keberagamaan—tampak “timpang”; baik hanya menonjolkan sisi luarnya saja dan absen dari sisi dalamnya atau sebaliknya. Fenomena semacam ini terjadi di hampir semua lini kehidupan baik dalam konteks agama, sosial, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, kasus beberapa waktu lalu tentang tertangkapnya sepasang suami-istri melalui biro First Travel miliknya yang telah dengan sengaja menipu ratusan umat Islam yang hendak melaksanakan ibadah umroh ke Tanah Suci. Sebagaimana dilansir oleh merdeka.com, misalnya, biro ini dikabarkan tidak memberangkatkan sekitar 63.310 orang calon jemaah dengan total kerugian Rp. 905,3 miliar.

Baca juga:  Empat Pantangan bagi Cerdik Pandai

Menariknya, berdasarkan informasi yang tersebar luas di media massa, baik daring  maupun cetak, pelaku dikenal sebagai orang memiliki citra yang cukup baik dalam mengekspresikan  “kulit” keberagamaanya. Karena dari sisi tampilan luarnya, oknum tersebut berpakaian busana “agamis-islamis”, yang cowok berpakaian busana Muslim. Sementara tampilan si cewek tak kalah agamisnya, ia berbusana Muslimah yang menutupi badannya sekaligus berjilbab. Bahkan, perempuan ini juga dikenal sebagai hijab designer.

Terlepas dari konteks kejahatan yang ada dalam kasus ini, fenomena semacam ini saya kira juga telah memberikan pelajaran yang penting bagi kita dalam menilai dan merespons gejala massif dalam menampakkan “kulit” keberagamaan semata tanpa diimbangi sisi “isi”nya.

Baca Juga

Karena jika dilihat dari penampilan fisiknya (kulitnya) yang demikian agamis tentu sulit dipercaya bahwa orang semacam ini bisa atau bahkan lebih parah melakukan perilaku amoral seperti itu. Maka dalam konteks inilah upaya memahami secara komprehensif dengan meliputi sisi “kulit” dan “isi” dari ekspresi keberagamaan menemukan relevansinya; bahwa “seagamis” apa pun sisi “kulit” luar yang ditampilkan seseorang dalam mengekspresikan sikap keberagamaannya tidak menjadi jaminan bahwa ia juga sangat agamis pada sisi “isinya”.

Selain kasus di atas, kasus tentang jilbab bagi perempuan juga bisa kita jadikan contoh dalam upaya memahami fenomena ini. Seperti kasus artis Rina Nose beberapa bulan lalu yang memilih untuk melepaskan jilbabnya dan karenanya ia harus menerima komentar-komentar negatif dari sebagian publik atau penggemarnya. Dalam konteks ini, sejenak kita letakkan dulu persoalan-persoalan seperti kontroversi pendapat para ahli tentang apakah jilbab adalah “atribut relijius” yang wajib dipakai oleh perempuan untuk menutupi auratnya (kepala dan rambutnya).

Baca juga:  Imam al-Qusyairi, Sufi yang Prihatin atas Penyimpangan Tasawuf

Marilah kita beralih pada aspek lain, yaitu ketika persoalan jilbab ini diseret pada “wilayah” di mana jilbab kerap menjadi preseden bagi sebagian pihak dalam melontarkan pandangan-pandangan negatif pada perempuan ketika tidak memakai jilbab, hijab, dan sejenisnya. Misalnya bahwa perempuan yang tidak memakai jilbab itu diidentikkan sebagai perempuan yang suka mengumbar auratnya dan karenanya ia pun dianggap sebagai seorang Muslimah yang tidak taat beragama. Dalam konteks semacam ini, jilbab pun beralih menjadi barometer atas “salihah” tidaknya seorang perempuan.

Padahal jika kita mau sedikit saja membuka diri untuk memahami secara lebih ke arah “isi”; dengan memandang bahwa jilbab itu bagian dari ekspresi keberagamaan dari sisi “kulit” dan tidak selamanya ada jaminan bahwa  “isi” atau moralitas perempuan berjilbab secara otomatis akan baik juga, saya kira klaim-klaim negatif pun tak akan mudah diungkapkan.

Sebaliknya, apakah kita juga bisa memastikan bahwa perempuan (baca: Muslimah) yang memilih untuk tidak berjilbab itu sudah pasti perempuan yang tidak baik, lemah imannya, atau tutur dan perilakunya selalu negatif? Toh, kita juga tidak bisa memungkiri bahwa ada banyak sekali perempuan berjilbab sementara perilaku dan moralitas yang mencuat darinya tidak “seindah” jilbab yang berkibar di kepalanya. Di sinilah keseimbangan dalam melihat soal “kulit” dan “isi” kembali menemukan relevansinya.

Walhasil, meskipun pandangan semacam ini tidak mesti ujug-ujug menjadi barometer mutlak dan berlaku secara umum. Namun, apakah kita akan kembali terkecoh pada penampilan “kulit” atau bisa cerdas dalam menilainya dengan juga melibatkan perhatian kita pada “isi”? Jawabannya; silakan nikmati buah-buahan setelah Anda selesai menguliti bagian luarnya, durian dan rukem contohnya.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top