Sedang Membaca
Tradisi Grebek Suro: Refleksi Dakwah Raden Bathoro Katong
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Tradisi Grebek Suro: Refleksi Dakwah Raden Bathoro Katong

Rohmad Arkam

Muharam atau masyarakat Jawa menamainya Suro merupakan awal tahun dalam penanggalan dengan metode perhitungan bulan. Bulan ini sangat dimuliakan oleh umat Islam terutama masyarakat Jawa. Muharam merupakan  satu dari empat bulan disucikan dalam Islam. Maka dari itu, dalam menyambut datangnya 1 Muharam (Suro), umat Islam khusunya masyarakat Jawa menyambut dengan menyelenggarakan tradisi-tradisi khas di setiap daerah.

Begitu juga di Kabupaten Ponorogo, ada tradisi bernama Grebeg Suro. Grebeg Suro merupakan serangkaian acara kebudayaan masyarakat Ponorogo berbentuk pesta rakyat. Salah satu acaranya, adalah Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka. Acara ini adalah prosesi mengarak pusaka bupati pertama Ponorogo, Raden Bathoro Katong, dari kota lama yang berada di kompleks makam Raden Bathoro Katong menuju alun-alun kota untuk dilakukan penjamasan (pencucian) dengan air bunga telon dan air diambil dari tujuh sumber di Ponorogo.

Kirab ini diikuti oleh Bupati, sejumlah pejabat daerah, dan ditonton oleh ribuan mayarakat Ponorogo yang tumpah ruah memadati jalanan yang dilalui arak-arakan pawai. Dalam acara ini, masyarakat Ponorogo sekaligus diajak merefleksi kembali perjuangan dakwah bupati pertama Kabupaten Ponorogo Bathoro Katong dalam menyebarkan agama Islam dibumi Wengker (sebelum Ponorogo), dari masyarakat yang menganut agama Hindu-Buddha menjadi masyarakat yang menganut tuntunan Kanjeng Muhammad Saw.

Baca juga:  Raghib Abu Hamdan dan Seni Kaligrafi Baru

Siapkah Raden Bathoro Katong? Raden Bathoro Katong yang juga disebut Raden Lembu Kanigoro adalah putera dari Raja Majapahit Prabu Kertabumi Brawijaya V ke duapuluh dua (22) dari putri Bagelen dan adik dari Raden Patah (Raja Demak), beda ibu.

Raden Bathoro Katong merupakan tokoh yang berperan besar dalam sejarah masuknya agama Islam di Bumi Reog Ponorogo (dulu Wengker) di masa akhir kejayaan kerajaan Majapahit sekira abad 15.

Diriwayatkan bahwa saat itu daerah Ponorogo bernama Wengker, masih di bawah kekuasaan Majapahit. Penguasa wilayah Wengker adalah Ki Ageng Kutu (karena bertempat di Desa Kutu) atau Ki Demang Gedhe Kethut Suryongalam. Menurut Purwowijoyo dalam bukunya Babat Ponorogo (1986:13), Ki Ageng Kutu adalah tergolong orang yang mempunyai karakter, berwibawa dan mempunyai kedigdayan serta mempunyai pengaruh yang sangat luas.

Ki Ageng Kutu menurut pemerintahan Majapahit dinilai mbalelo (bangkang). Indikasi pembangkangan ini dilihat dari ketidak hadiran Ki Ageng Kutu dalam berbagai pertemuan kerajaan, Ki Ageng Kutu diketahui telah melakukan komunikasi dengan Ranawijaya dari kerajaan Keling (Kediri). Selain itu Ki Ageng Kutu membuat sebuah tontonan berupa Barongan Dadak Merak (Reog) yang tujuannya untuk mengkritik terhadap kebijakan-kebijkan kerajaan Majapahit.

Berangkat dari peristiwa ini, dengan dikawal Patih Seloaji dengan seribu (1.000) prajuri, Raden Bathoro Katong datang ke Wengker. Menurut Muh Fajar Pramono dalam bukunya Raden Bathoro Katong Bapak-e Wong Ponorogo (2006:9), ada dua misi Bathoro Katong datang ke Ponorogo: Pertama, misi politik, yaitu mendapat mandat ayahnya Brawijaya V untuk mengingatkan Ki Ageng Kutu yang terindikasi mbalelo (bangkang). Kedua, dalam rangka menyebarkan agama Islam di Wengker karena mendapat mandat Raden Patah.

Baca juga:  Inilah Kisah Sepuluh Asyura di Karbala

Apapun misi Raden Bathoro Katong datang ke bumi Wengker, realita yang ada menunjukkan bukti bahwa beliau adalah pendakwah yang berhasil meletakkan dasar agama Islam dengan mengadepankan dakwah bilhikmah dan mua’idzhah hasanah sehingga masyarakat Wengker penganut agama Hindu-Buda menjadi mayoritas beragama Islam.

Raden Bathoro Katong sebagai seorang santri dari para wali periode pertama penyebar agam di Jawa (dibaca: Wali Songo) sangat paham betul dengan ajaran Islam, sebagaimana yang termaktub dalam Alquran, Islam adalah rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil’alamin), bukan hanya untuk orang Islam saja.

Baca Juga

Maka sudah sewajarnya beliau menyebarkan ajaran agama Islam di bumi Wengker dengan ramah bukan amarah, yaitu dengan nasihat-nasihat yang lembut dan sifat yang terpuji, ittiba’ (mengikuti) ajaran panutannya, Nabi Muhammad Saw.

Hal ini bisa dibuktikan ketika Raden Bathoro Katong sampai di Wengker, walupun membawa kekuatan besar sebanyak 1.000 (seribu) prajurit bukan kekuatan fisik yang lebih diutamakan akantetapi lebih mengadepankan diplomasi. Melalui patihnya Seloaji dan sahabatnya Ki Ageng Mirah untuk menyampaikan tujuannya, yaitu agar Ki Ageng Kutu bersedia menghadap ke Majapahit dan jika berkenan untuk mengikuti agama Islam. Akan tetapi Ki Ageng Kutu dengan berbagai alasan marah dan menolak. Sehingga akhirnya adu fisik tidak bisa dihindari dan mengakibatkan tewasnya Ki Ageng Kutu.

Baca juga:  Serat Mi'raj, Jejak Tradisi Madura di Banyuwangi

Setelah Raden Bathoro Katong memperoleh kemengan dan mengganti nama Wengker menjadi Ponorogo, akhlak santri Bathoro Katong tetap dikedepankan, para Wiku, Pandhita atau pimpinan agam Hindu-Buddha dilindungi. Dalam bidang kesenian, Reog yang dulu dijadikan media mengkritik pemerintah (Majapahit) tetap dihidupkan dan diakultirasi menjadi media dakwah mneyebarkan agam Islam (Purwowijoyo, 1985:49). Selain itu, putra pertama Ki Ageng Kutu yang bernama Surohandoko menggantikan kedudukan ayahnya.

Dengan tetap dilestarikannya Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka pada rangkaian Grebek Suro untuk menyambut 1 Muharam (Suro), di Kabupaten Ponorogo. Masyarakat sebenarnya diajak merefleksi kembali dakwah toleran yang diajarkan Raden Bathoro Katong, bupati Ponorogo pertama.

Lihat Komentar (0)

Komentari