Sedang Membaca
Kisah-kisah Mitos di Yogyakarta

Kisah-kisah Mitos di Yogyakarta

Tugu

Mitos di tengah kehidupan saat ini dianggap hanya sebagai dongeng. Mungin beberapa orang yang mendengar suatu mitos akan berkata dalam, “Kok bisa? Tidak ilmiah. Apa ada kajiannya?” 

Mitos merupakan bagian dari folklor yang kerap  disisipi kekuatan di luar manusia serta sering dianggap kejadiannya nyata di masa lalu. Mitos berkembang dengan tujuan menciptakan keragaman budaya di berbagai daerah. Mitos biasanya dikunyah dengan empuk oleh masyarakat, khususnya yang saya tahu, orang Jawa, karena memang menarik dan mengundang rasa penasaran.

Di Yogyakarta, banyak mitos beredar.  Provinsi yang dipimpin seorang sultan itu memang menyimpan banyak folklor dan mitos di dalamnya. Sebut saja mitos tentang Ratu Kidul, lalu Gunung Merapi. Mitos-mitos yang masih kerap diperbincangkan dan lantas dipercaya bahkan dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta atau warga daerah lain yang percaya, adalah sebagai berikut:

  • Memeluk Tugu Jogja

Di kalangan mahasiswa yang sedang belajar di kampus-kampus Yogyakarta, mereka lebih mengenal Tugu Jogja sebagai Tugu Golong Gilig. Tugu tersebut menjadi terkenal karena didukung oleh mitos yang dikunyah empuk dari mulut ke mulut.

Konon sebagian orang mengatakan bahwa jika ingin segera lulus dan menyandang gelar sarjana, maka haruslah mahasiswa tersebut memeluk Tugu Jogja. Berkat mitos tersebut, tidak sedikit mahasiswa yang ingin lulus dan melakukan aktivitas tersebut.

  • Derak Roda Andong Malam hari
Baca juga:  Aisyiyah, Pionir Kesadaran Keindonesiaan

Asumsi dari mulut ke mulut oleh para pendatang baru yang tinggal di Yogyakarta entah karena sekolah maupun pekerjaan atau hal yang lainnya mengatakan bahwa barang siapa yang mendengar derak roda Andong beserta derap kaki kuda di malam hari itu menandakan bahwa para pendatang tersebut akan betah tinggal di Jogja. Konon, Derak Andong dan Kuda tersebut milik Kanjeng Ratu Kidul sebagai sambutan selamat datang bagi para pendatang oleh Penguasa Pantai Selatan.

  • Suara Korps Drum Band di Waktu Subuh

Di beberapa tempat misterius di Yogyakarta sering menggemakan suara Korps Drum Band di waktu subuh. Dari kejadian yang selalu diulang-ulang maka mendukung untuk dijadikan mitos, bahwa gema Korps Drum Band tersebut berasal dari Kerajaan Merapi

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
  • Foto di Depan Gerbang Utama Kampus UGM

Suatu areal didepan erbang utama Kampus Universitas Gajah Mada digaungkan mitos oleh mahasiswa. Konon, jika mahasiswa yang belum lulus dari UGM nekad ntuk berfoto di areal tersebut, maka mereka akan menelan akibatnya untuk menjai mahasiswa abadi. Dari kehangatan mitos tersebut, jika mahasiswa ingin cepat lulus diharapkan tidak berfoto di areal tersebut.

  • Lampor di Lembah Kali Code

Di setiap malam tertentu, masyarakat yang tinggal di sepanjang Kali Code kerap kali mendengar suara gemerincing dan derap kaki kuda. Spontan, mereka dengan sigap menutup pintu dan jendela, mereka percaya bahwa itu suara lampor. Konon, tentara Laut Selatan sedang menghantarkan Kanjeng Ratu Selatan menuju Gunung Merapi. Mitos ini terjadi sudah sangat lama namun sampai saat ini masih diyakini oleh beberapa masyarakat.

  • Mereguk Air Selokan Mataram
Baca juga:  Perbincangan Islam Nusantara di Iran: Tasawuf, Menara Kudus hingga Gus Dur

Selokan Mataram merupakan kekhasan dari Yogyakarta. Selokan ini dibangun pada masa penjajahan Jepang (semasa Yogyakarta dibawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX) dikenal oleh warga pendatang karena mitosnya.

Pesan Kerudung Bergo

Konon, setiap warga pendatang yang bersedia mereguk air selokan Mataram maka mereka akan terkenang dengan Yogyakarta. Mereka akan selalu ingin kembali dan singgah di Yogyakarta yang menyimpan kedamaian.

  • Hantu Biyung Tulung di Njeron Beteng

Pada masa dahulu, pernah geger karena misteri hantu biyung tulung di Njeron Beteng. Konon hantu ini tidak menampakkan wujudnya namun hanya menggemakan suaranya yang ditangkap telinga. Beberapa masyarakat mengatakan bahwa hantu Biyung Tulung memang tidak dapat ditangkap wajahnya namun hanya dapat mendengar suaranya, “Aduh, biyung. Tulung!” [Aduh, ibu. Tolong!]. Mitos ini berkembang pesat karena ada kaitan dengan mistisnya.

Sekali lagi, cerita-cerita itu  diciptakan bukan sebagai sarana untuk menakut-nakuti atau menciptakan hal-hal palsu maupun tipu daya yang hanya mengenyangkan para pembuat cerita. Namun berbagai kisah itu diciptakan sebagai sebentuk keyakinan atas kepercayaan terhadap sesuatu yang gaib di luar kekuasaan manusia. Jika ditarik lebih jauh, kepercayaan terhadap hal yang gaib itu juga manifestasi dari kepercayaan terhadap Tuhan.

Mitos diciptakan untuk memperluas pengetahuan dengan menggunakan ilmu titen (tanda-tanda). Jika dikaji mendalam, maka mitos yang berkembang tersebut akan memperkaya kearifan dan referensi dalam laku kehidupan. Melalui mitos, kita bisa mempelajari banyak hal terkait sejarah dan antropologi masyarakat di etnik tertentu.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top