Sedang Membaca
Jaran Goyang dalam Tiga Variasi
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Jaran Goyang dalam Tiga Variasi

Muhammad Aswar

Tulisan ini bukan membandingkan variasi goyangan Via Vallen, Nella Kharisma, Trio Macan, Vita Alvia, atau NDX A.K.A, ketika menyanyikan Jaran Goyang.

Meski tak ada yang menyangkal dahsyatnya goyangan mereka sampai ke pertandingan voli antarkampung, dinyanyikan anak kecil usia enam tahun; Jaran Goyang bukan sekadar musik, tetapi akumulasi kebudayaan yang telah berlangsung lama: dangdut dan dukun.

Dangdut tak bisa sepenuhnya dikatakan musik pinggiran, meski basis utamanya adalah masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Kini dangdut tengah merengsek ke tengah panggung yang ditinggalkan industri genre pop yang kalah saing dari Youtube; bersamaan dengan restrukturasi industri dangdut yang belajar dari keberhasilan industri K-POP menguasai panggung dunia.

Bentuknya dengan penciptaan bintang (idola) yang lebih terkenal ketimbang lagunya, stardom, penciptaan citra fisik yang artifisial hingga komunikasi sehari-hari bersama fans lewat berbagai platform sosial media.

Proyek pertama adalah Ayu Tingting yang kemudian terjebak di industri mayor. Tidak gagal juga, sebab lewat Ayu Tingting industri dangdut mulai memasuki pemasaran stardom dan sosial media. Berlanjut ke Via Vallen, Nella Kharisma, hingga akhirnya Andi Mbendol dari NDX A.K.A menciptakan lagu Jaran Goyang. Lagu itu di­-remake berkali-kali, variasi yang bermacam-macam, dengan popularitas masing-masing.

Andi Mbendol memasuki ruang remang namun terus berjalan dalam alam kepercayaan masyarakat, di samping kepercayaan mereka terhadap agama; tidak luntur oleh laju modernitas.

Jaran Goyang adalah praktik perdukunan yang melahirkan adigium cinta ditolak dukun bertindak. Mengubah praktik perdukunan ke dalam seni populer, memosisikan lagu tersebut antara dangdut dan parodi percintaan.

Dalam perdukunan, ajian Jaran Goyang termaktub dalam kitab Mantra Asmara yang berasal dari mitos Nini Pelet dan Ki Buyut Mangun Tapa. Mitos ini pernah dijadikan sandirwara radio pada 1980-an, serta diangkat dalam serial televisi Dendam Nyi Pelet. Kata “pelet” sendiri telah menjadi sebutan dalam praktik perdukunan untuk ajian pemikat cinta.

Baca juga:  Pranakan: Simbol Persaudaraan Abdi Ndalem Keraton

Sunan Gunung Jati, Darinya Bermula

Mitos bukan sekadar cerita yang tak berdasar. Ia tidak memiliki dasar sejarah yang kuat, sebab terkadang mitos diciptakan sebagai pengungkapan pesan yang tersirat. Ia adalah konkretisasi prinsip hidup masyarakat Indonesia yang diceritakan lewat penokohan, sebagaimana cerita dalam pewayangan. Ia bisa menjadi pesan politik, ekonomi, bahkan agama, tergantung bagaimana ia dimaknai.

Bukit Ceremai (Ciremai), dari mana mitos itu berasal, adalah bukit yang didiami Sunan Gunung Jati antara tahun 1521-1530. Hingga kini, masyarakat Cirebon sering mengalap berkah di Batulingga, wilayah yang diyakini sebagai tempat pertapaan dan pertemuan para wali di puncak Bukit Ceremai. Dari atas bukit, Sunan Gunung Jati yang juga menantu raja Cirebon, berkonsolidasi dengan para wali untuk menjaga kesultanan Cirebon sekaligus mendirikan kesultanan Banten.

Ki Buyut Mangun Tapa mungkin salah satu yang hadir, atau bisa juga hanya tokoh fiktif; tetapi kisahnya mengindikasikan prinsip kokoh Sunan Gunung Jati. Perang yang sesungguhnya adalah melawan hawa nafsu. Jika sosok antagonis dari perang fisik adalah Portugis, maka perang hawa nafsu adalah Ki Buyut Mangun Tapa.

Ia adalah orang yang kalah dalam memerangi hawa nafsu dengan rupa gadis cantik bernama Nini Pelet. Kekalahannya telak, jiwanya terpasung lekuk tubuh perempuan. Sebagai masyarakat agraris yang menggantungkan diri pada pertanian, eksotisme perempuan terletak pada pinggul yang menandakan kesuburan. Nah, istilah Jaran Goyang dahulu kala dipadankan dengan nafsu terhadap perempuan.

Baca juga:  Akulturasi Islam-Hindu pada Arsitektur Masjid Agung Mataram

Kuda Betina, Senopati dan Arya Penangsang

Baca Juga
Tadarus Gus Dur

Terkait pinggul kuda, saya teringat pembicaraan dari pertemuan tak sengaja dengan salah satu keluarga Kraton Mataram dari jalur Panembahan Senopati. Jaran Goyang adalah strategi perang yang dijalankan Panembahan Senopati untuk membunuh Arya Penangsang dari Kesultanan Demak.

Panembahan Senopati masih berumur sekitar empat belas tahun, dengan nama kecil Sutawijaya, ketika akan berhadapan dengan Arya Penangsang. Oleh ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, dikatakan bahwa ia tak akan menang melawan seorang pangeran yang memiliki pengalaman perang dan kesaktian luar biasa, tak ada celah sama sekali.

Namun Ki Ageng Pemanahan tidak kalah sakti dari Penangsang. Jika Penangsang memiliki tubuh sakti, maka Ki Ageng adalah pengatur strategi yang lebih sakti. Ia meminta Sutawijaya untuk menaiki kuda betina yang sedang hamil ketika berhadapan dengan Penangsang.

Arya Penangsang kalah karena ulah kuda jantannya, Gagak Rimang, yang tak bisa dikendalikan setelah melihat pinggul besar kuda betina melenggak di hadapannya. Dengan mudah tombak Kyai Plered milik Sutawijaya merobek perut Penangsang. Penangsang belum mati. Ususnya yang terburai dililitkan pada gagang keris Setan Kober. Sempat meringkus Sutawijaya, sebelum akhirnya terbunuh oleh kerisnya sendiri yang malah memotong ususnya.

Baca juga:  Parokialisme Keagamaan, Fragmentasi Umat, dan Tanggung Jawab Kita

Begitulah strategi Jaran Goyang mengalihkan kekuasaan besar Demak ke dalam Kesultanan Mataram. Jaran Goyang pun menandai permulaan prinsip Yogyakarta yang bertahan sampai hari ini, Glembuk Mataram.

Dengan variasi yang beragam, Jaran Goyang hadir dalam kompleksitasnya yang telah mengubah beberapa sendi kehidupan, bahwa suatu penanda bisa disikapi secara spiritual, politis, bahkan parodi cinta untuk ditertawakan.

Bergoyanglah di panggung dangdut, tapi tetap awas terhadap segala bentuk politik; lantas jangan lupakan spiritualitas, tentunya, dalam kesendirianmu.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top