Sedang Membaca
Islam Moderat Harus Berbenah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Islam Moderat Harus Berbenah

Muhammad Asad
  • Kalangan organisasi Islam moderat di Indonesia harus menerapkan metode ‘smart’ ini dalam metode dakwah yang mereka lakukan.

Baru-baru ini di detik.com diberitakan komentar pengamat radikalisme, Akhmad Muzakki, yang juga menjabat Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Dia  mengatakan bahwa fenomena hijrah yang saat ini tren di kalangan artis maupun generasi milineal bisa menjadi jalan masuk ke terorisme jika tidak mendapatkan pendampingan dari ulama maupun akademisi.

Di banyak akun media sosial kalangan ‘hijrah’, hal tersebut direspons dengan komentar yang tak kalah tajamnya. Di antara mereka mengatakan bahwa komentar Muzakki tersebut menunjukkan ketakutan sebagian organisasi massa berbasis Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU), yang mulai tidak laku dan ditinggal jamaahnya.

Akun tersebut melanjutkan, alih-alih memperbaiki strategi dakwah NU yang sudah ketinggalan zaman, yang terjadi sebaliknya, beberapa tokoh NU mengkritik dan menyerang kelompok hijrah yang bagi mereka telah berhasil ‘mengislamkan’ banyak masyarakat, dengan mengajak mereka memperdalam ilmu agama melalui kajian keagamaan yang dikemas kekinian dan menarik banyak kalangan.

Tentang berhasilnya kelompok ‘hijrah’ mengajak masyarakat untuk semakin memperdalam ilmu agama bisa dilihat dari riset terbaru Setara Institute. Dalam riset tersebut dinyatakan bahwa di 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), ceramah dan tulisan Felix Xiauw jauh lebih diterima daripada ceramah ahli tafsir Alquran Prof. Quraish Shihab.

Kita ketahui Felix Xiauw merupakan salah satu aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi yang dibubarkan pemerintah tahun 2017 . Bubarnya HTI tidak menghentikan kegiatan dakwah Felix Xiauw.

Di kalangan kelompok ‘hijrah’, Felix Xiauw merupakan tokoh utama dan selalu hadir di setiap acara bertemakan hijrah. Salah satu yang menonjol adalah acara ‘Hijrah Fest’ yang baru-baru diadakan pada 24-26 Mei di Jakarta Convention Center (JCC).

Baca Juga:  Teguran Kanjeng Nabi kepada Sahabat yang Menghina Pezina

Acara ini sebenarnya telah diadakan untuk kesekian kalinya. Yang pertama di Jakarta pada bulan November tahun lalu yang kemudian dilanjutkan dengan membuat kegiatan yang sama di beberapa kota lain di Indonesia.

Artis dan mantan VJ MTV, Arie Untung dkk adalah tokoh di balik keberhasilan Hijrah Fest ini. Selain keaktifan Felix Xiauw di acara Hijrah Fest, dia juga salah satu tokoh dibalik munculnya animasi ‘Islami’ Nussa dan Rara yang akhir-akhir ini trending di YouTube dan tayang di Net TV selama Ramadan.

Keberhasilan Felix Xiauw dengan misi dakwahnya yang eksklusif dan membawa misi politik tertentu inilah yang dikhawatirkan oleh Akhmad Muzakki dan juga Setara Institute. Pandangan eksklusif seperti ini, yang menolak penafsiran Islam selain pemahaman kelompoknya, dalam jangka panjang akan membawa pengikutnya ke dalam ajaran-ajaran yang cenderung mengarah ke radikalisme.

 

Strategi ‘Smart’ Dakwah

Yang menjadi pertanyaan kemudian, mengapa kelompok ‘hijrah’ ini jauh lebih berhasil daripada kelompok moderat seperti NU dan juga Muhammadiyah?

Dalam artikelnya berjudul The ‘Conservative Turn in Indonesian Islam: Implications of the 2019 Presidential Election, Leonard C. Sebastian dan Andar Nubowo mengatakan bahwa keberhasilkan Islam ‘eksklusif’ dan konservatif seperti Felix Xiauw dan kelompok hijrahnya, tidak lain karena metode ‘smart’ dakwah yang mereka terapkan sehingga bisa diterima oleh banyak kalangan terutama generasi milineal.

Menurut Sebastian dan Nubowo, ‘smart’ dakwah dicirikan dengan kekuatan selebritas para tokoh di belakangnya (seperti Felix Xiauw dan Arie Untung), dan penggunaan media sosial sebagai sarana marketing untuk menjangkau generasi milineal yang sadar teknologi.

Popularitas Felix Xiauw dan juga keberhasilan acara Hijrah Fest adalah contoh bagaimana ‘smart’ dakwah ini bekerja dan menyasar kalangan milineal. Untuk Felix Xiauw, meskipun HTI telah dibekukan dan dianggap sebagai organisasi terlarang di Indonesia, dia tetap aktif berdakwah lewat media sosial dan berhasil banyak mendapatkan pengikut.

Baca Juga:  Kaum Mudo, Kaum Tuo, dan NU di Palembang

Belum lagi kartun Nussa dan Rara, yang juga diinisiasi oleh Felix Xiauw, mempunyai kualitas animasi dan cerita yang cukup bagus, dan punya potensi menyaingi animasi negara tetangga, Upin dan Ipin.

Untuk Hijrah Fest, melalui promosi aktif para selebritas seperti Arie Untung, Dude Herlino, Dimas Setyo, Dhini Aminarti, Teuku Wisnu, Shireen Sungkar dll, berhasil mengajak ribuan orang untuk hadir dalam acara hijrah yang mereka buat meskipun harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit (biaya tiket per hari 98 ribu rupiah dan tiket terusan untuk tiga hari 250 ribu rupiah).

Hal ini berbanding terbalik dengan metode dakwah beberapa tokoh NU yang terbilang konvensional.

Mereka memang sudah menggunakan media teknologi kontemporer seperti direkam dengan kamera dan diunggah di media sosial, namun kemasannya masih konvensional: cara penyampaian yang masih mengikuti ceramah gaya lama, kualitas gambar yang pas-pasan dan juga penggunaan bahasa yang sebagian besar masih menggunakan bahasa Jawa.

Karakteristik ini menunjukkan bahwa dakwah para tokoh NU masih menyasar anggota kelompok mereka sendiri: alumni pesantren yang berdomisili di pulau Jawa terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Mereka belum bisa secara kreatif mengemas produk dakwahnya lebih menarik dan ‘smart’ sehingga menarik perhatian anggota masyarakat yang tidak familiar dengan tradisi NU.

Baca Juga
Nasihat Politik Kiai Wahab di Zaman Jepang

Sebenarnya tidak semua tokoh agama yang dekat dengan tradisi NU menggunakan metode konvensional ini.

Ada beberapa dari mereka menjadi rujukan kelompok hijrah seperti Yusuf Mansur, Buya Yahya, dan juga beberapa tokoh Habaib (jamak dari Habib) yang mengisi acara Hijrah Fest bulan lalu: Habib Novel Alaydrus dari Solo, Habib Muhammad Mutohhar dari Semarang dan Habib Muhammad bin Anies bin Sahab dari Malang. Namun dari semua tokoh ini, semua tidak dalam lingkaran utama Nahdlatul Ulama.

Baca Juga:  Yuval Harari, Homo Deus, dan Masa Depan Manusia

 

Perlu Berbenah

Pertanyaan berikutnya yang perlu dijawab, bagaimana kalangan moderat (NU dan juga Muhammadiyah) menyikapi tren ini?

‘Menyerang’ kelompok hijrah ini, dengan mengatakan mereka tidak punya kemampuan agama yang mumpuni dan tidak layak untuk mengajar, bukanlah langkah yang bijak. Yang terjadi malah sebaliknya. Mereka akan apatis terhadap NU dan lebih memilih meneruskan belajar dengan para ustaz yang telah membimbing mereka sampai saat ini.

Bagaimanapun, mereka punya hak untuk memperdalam ilmu agama. Adalah bukan salah mereka jika NU ataupun Muhammadiyah tidak memberikan model yang cocok bagi mereka untuk belajar agama.

Untuk itu, kalangan organisasi Islam moderat di Indonesia harus juga menerapkan metode ‘smart’ ini dalam metode dakwah yang mereka lakukan.

Salah satunya dengan memperbaiki kualitas konten dakwah mereka di media sosial, merangkul para selebritas dan influencer yang bisa membantu promosi dakwah moderat mereka dan juga yang paling penting, menggunakan bahasa yang lebih mudah dicerna oleh generasi milineal di Indonesia.

Dengan menggunakan metode seperti ini, besar kemungkinan kelompok moderat bisa mengejar ketertinggalan dakwah kelompok konservatif sehingga lebih bisa mempromosikan Islam inklusif kepada generasi milineal di Indonesia. (atk)

Lihat Komentar (2)

Komentari