Sedang Membaca
Tasaro GK: Mengemas Sirah Nabi dalam Karya Fiksi
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Tasaro GK: Mengemas Sirah Nabi dalam Karya Fiksi

Untung Wahyudi

Selama ini, buku Sirah Nabi rata-rata ditulis dalam bentuk karya ilmiah yang terbilang “berat”. Cukup akademis, sebagaimana buku-buku sejarah pada umumnya. Sehingga, banyak yang enggan membacanya sampai tuntas. Tak heran, jika kemudian bermunculan kisah-kisah kehidupan Muhammad Saw. yang dikemas dalam kisah ringkas atau cerita bergambar untuk mempermudah pembaca memahaminya.

Ada banyak penulis yang selama ini memahat namanya pada dinding sejarah Muhammad. Sebut saja Martin Lings dengan karyanya Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, yang kemudian diterjemahkan oleh Qamaruddin SF dengan judul Muhammad (Serambi, 2002). Hayάt Muhammad karya Muhammad Husain Haikal diterjemahkan dengan baik oleh Ali Audah dengan judul Sejarah Hidup Muhammad (Litera AntarNusa, 1989). Selain itu, ada beberapa nama lain seperti Tariq Ramadhan, Karen Armstrong, Ibnu Hisyam, dan penulis lainnya.

Tasaro GK adalah penulis Indonesia yang berhasil mengeksplor kisah Muhammad dalam bentuk lain, yakni fiksi. Fiksi di sini bukan berarti mengobrak-abrik kisah kehidupan Muhammad dan segala perjuangannya menegakkan Islam, yang selama ini sudah ditulis, tetapi lebih pada pengemasan yang lebih mudah dipahami, terutama oleh pembaca yang selama ini menganggap buku sejarah sebagai bacaan berat.

Novel Muhammad; Lelaki Penggenggam Hujan akhirnya rampung dan berhasil diterbitkan pada 2010. Menyapa pembaca setia Tasaro GK yang sebelumnya telah melahirkan sejumlah novel. Mantan wartawan Radar Bogor dan Radar Bandung ini mengaku, selama penulisan Muhammad banyak hal yang terjadi. Dari godaan untuk tidak melanjutkan penulisannya karena menganggap dirinya kurang berkompeten menuliskan kisah Sang Nabi, hingga peristiwa-peristiwa spiritual yang sanggup melelehkan air mata.

Dalam buku Sewindu, Tasaro mengaku bahwa pernah mengalami kementokan saat menulis kisah Muhammad tersebut. Dia tidak sanggup bergerak setelah novel itu sampai di halaman folio 252 spasi satu.

Dia merasa ada yang salah. Menurutnya, menuliskan kisah Muhammad Saw. bukan sekadar mengumpulkan sudut pandang Haikal, Martin Lings, Tariq Ramadhan, Karena Armstrong, atau Ibnu Hisyam.

Baca juga:  Mengenang Tauhid, Film Haji yang Terlupakan (2/2)

Memang, ibunya sempat menentang rencananya menovelkan kehidupan Muhammad. Sang Ibu khawatir akan ada banyak orang yang menghujat kenekatannya menulis sejarah kehidupan Nabi Agung dalam bentuk novel.

Kekhawatiran ibunya ternyata terbukti. Sebuah surat elektronik perihal buku Muhammad beredar, berisi kata-kata menyakitkan, yang dikirim oleh salah seorang sahabatnya sendiri. Buku itu dianggap telah menelikung dakwah. Sembrono dan lancang.

Kritik itu ternyata bukan soal penyajiannya, tapi karena dia yang menuliskannya. Tasaro paham. Dari sudut mana pun, dia merasa kurang berkompeten untuk menuliskan kisah tentang Rasulullah. Dia tidak punya latar belakang pendidikan agama yang runut dan baik. Mengaji saja masih jumpalitan. Bahasa Arab apalagi.

Secara teknis hal itu sudah membatasi penguasaannya terhadap referensi autentik perihal kehidupan Rasulullah. Buku-buku yang dia pergunakan sebagai sandaran adalah segala buku tentang Muhammad. yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Maka, sangat wajar jika sebagian orang mempermasalahkan referensi yang tak satu pun berbahasa Arab.

Tasaro merespons semua kritik yang beredar setelah terbitnya Muhammad seri pertama. Dia mengatakan, “Jika ada yang mencaci, menghujat, dan membenci saya karena buku itu, saya yakin mereka melakukannya atas dasar kecintaan kepada Kanjeng Nabi. Dengan niat yang sama saya menuliskan itu.”

Baca juga:  Sabilus Salikin (117): Tarekat Syadziliyah

Respons Pembaca Muhammad

Sampai saat ini, sudah ada empat seri novel biografi Muhammad yang berhasil diterbitkan oleh penulis bernama lengkap Taufiq Saptoto Rohadi (Tasaro) tersebut: Muhammad; Lelaki Penggenggam Hujan, Muhammad; Para Pengeja Hujan, Muhammad; Sang Pewaris Hujan, dan Muhammad; Para Penggema Hujan.

Keempat novel tersebut mendapatkan respons luar biasa dari pembaca sejak kehadirannya awal 2010. Berbagai testimoni dikirimkan pembaca yang melegakan hati pengarangnya. Diskusi-diskusi tentang Muhammad pun digelar di berbagai kampus, sekolah, pesantren, hingga komunitas kepenulisan.

Tak hanya diikuti oleh pembaca Muslim, diskusi tersebut juga dihadiri beberapa orang Kristiani, seperti dalam bedah buku Muhammad yang pernah saya hadiri di sebuah kampus negeri di Surabaya.

Baca Juga

Pembaca novel Muhammad bernama Ida asal Ambon mengirim testimoninya yang begitu panjang. Respons yang membuat Tasaro percaya bahwa apa yang selama ini ditulisnya ternyata membantu banyak orang memahami kisah Muhammad yang memang memukau.

Pembaca tersebut menulis, “Mas Tasaro…, hampir 75 persen isi novel pertama telah saya ketahui sebelum membacanya karena berkaitan dengan sejarah. Tetapi, saya tetap membacanya hingga akhir. Novel Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan sungguh membuat saya tak sanggup membacanya dalam keadaan santai. Saya membutuhkan ruang dan tempat tertentu saat membacanya karena kerap saya menyeka air mata.

Pada masyarakat kami di Ambon, di mana kesempatan “mengenal” Nabi sangat terbatas kecuali semangat saja, novel Mas Tasaro sangat berarti. Saya merasa menemukan cara “memperkenalkan” nabi kita saat kami telah terbiasa berkonflik dan menggemari kata-kata kasar. Pilihan kata-kata Mas Tasaro dalam novel itu sungguh bagi saya bukan sekadar menceritakan Nabi semata, tetapi tengah menunjukkan kepada pembacanya pada kehalusan tutur kata milik Nabi kita.”

Bagi seorang penulis, tidak ada hal yang lebih membahagiakan dibandingkan dengan respons positif para pembacanya. Semua penulis ingin pembaca merasakan begitu banyak manfaat setelah membaca sebuah buku. Buku yang tak hanya dibaca sekali, tetapi berkali-kali. Bahkan, membacakan ulang kisah-kisah tersebut kepada anak, adik, sahabat, atau kepada murid-murid di sekolah.

Kepiawaian Tasaro GK meramu kisah dalam novel-novelnya terletak pada gaya bercerita yang tak ubahnya sebuah dongeng.

Pembaca dibuat terlena dan terpukau oleh jalinan kata dan kalimat yang begitu dahsyat. Riset yang kuat membuat buku-buku Tasaro begitu kaya dan hidup sehingga, pembaca seolah-olah berada dalam cerita dan ikut merasakan bagaimana perasaan para tokoh.

Baca juga:  Nasihat Politik Kiai Wahab di Zaman Jepang

Sebelum menerbitkan novel Muhammad, Tasaro GK sudah melahirkan beberapa novel yang mendapat respons baik dari pembaca. Beberapa karyanya juga menyabet sejumlah penghargaan. Karya-karyanya yang terbit sebelum seri Muhammad antara lain Galaksi Kinanthi, Samita; Bintang Berpijar di Langit Majapahit, Citra Rashmi, Wandu; Berhentilah Menjadi Pengecut, Sewindu, Bianglala Cinta Lima Jomblo, Di Serambi Makkah, Nibiru, Patah Hati di Tanah Suci, dan beberapa novel lainnya. (ATK)

Lihat Komentar (0)

Komentari