Sedang Membaca
Kota Islam yang Terlupakan (11): Djenné, Debu-Debu yang Disucikan
Muhammad Aswar
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mukim di Yogyakarta.

Kota Islam yang Terlupakan (11): Djenné, Debu-Debu yang Disucikan

Img 20200517 Wa0001

Menjelajahi rimba raya Afrika, sebaiknya tetap menyimpan wasiat Ibn Khaldun dalam kotak perbekalan: “Musik muncul dalam masyarakat bersamaan dengan munculnya peradaban; dan akan hilang ketika peradaban mundur.”

Otak kita mungkin dipenuhi sihir narasi Hollywood dan media-media global: sepuluh negara termiskin di dunia berada di Afrika; benua yang tribal dan liar, sama liarnya dengan gurun pasir dan hewan-hewan buas yang menelan manusia kapan dan di mana saja; bocah-bocah tak mengenakan baju, perutnya menyembul karena busung lapar; tambang-tambang emas yang mempekerjakan anak-anak di bawah umur. 

Perbudakan, penjarahan, konflik kesukuan, dukun-dukun santet, timah panas yang keluar dari moncong senjata, wabah dan kemiskinan, kematian di mana-mana. Kesemuanya mengantarkan imajinasi kita kepada dunia yang jauh dari modernisasi dan harus diselamatkan.

Ada narasi lain yang tak disebutkan media-media global. Semacam tradisi romantik Barat yang selalu mencari wajah dunia lain yang lebih liar, lebih miskin, lebih terbelakang dan tidak beradab dibanding peradaban yang mereka agung-agungkan. Begitu kata teori-teori poskolonial. Afrika perlu dibuat lebih beradab, lebih modern, hingga mencapai taraf modernisasi Eropa. Dan karenanya Afrika harus dijajah.

Suara Chinua Achabe dan sastrawan kulit hitam lainnya lebih nyaring. Afrika mungkin memiliki takdir yang lebih baik seandainya gereja dan “pendidikan modern” tidak dibangun, berkompi-kompi tentara dan para pastor tidak didatangkan dari Eropa. 

Tetapi bukankah Afrika juga telah mengubah wajah dunia? Selain misi modernisasi, para penjajah juga membawa serta logam-logam mulia dan segala kekayaannya. Membuat mereka lebih kaya, lebih modern. Menjalankan turbin-turbin revolusi ekonomi dan politik dari Inggris hingga Prancis. 

Sebelum menyisir Afrika, notasi musik Eropa begitu serius dan murung. Kedatangan seniman sebagai gelombang ketiga, setelah tentara dan pastor, meluluhlantakkan musikalitas Eropa. Di hadapan blues, musik bisa dinikmati lebih riang dan hangat, sesekali boleh melakukan improvisasi di tengah nada, dan alat-alat sederhana pun bisa dimasukkan di atas panggung. Lalu secara berturut-turut lahirlah jazz, rock, pop, dan genre-genre musik yang beragam dari persilangan musikalitas Afrika dan Eropa. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ketersiapan para seniman di hadapan musik blues juga menyihir para arsitektur di gerbang kota Djenné. Bahkan hingga hari ini. Bagaimana bisa, sebuah kota dibangun hanya dari campuran tanah dan air. Tak menggunakan semen, tak menggunakan batu, tak perlu menghabiskan kayu-kayu hutan, hanya butuh tanah dan air.

Dikenal sebagai kota kuno dan bersejarah, Djenné sejatinya tidaklah kuno. Sebab kota ini masih mempertahankan arsitektur dari abad ke-15. Hingga hari ini, kota kecil yang dibatasi oleh delta sungai Niger, dengan jumlah penduduk sekitar 23.000 jiwa, kesemuanya masih meninggali sekitar 2000 rumah dengan gaya khas sub-Sahara.

Ketika musim penghujan tiba, kita mesti menyeberangi sungai dengan feri kecil, berdesakan dengan ternak, manusia dan beberapa kendaraan. Sekali menginjakkan kaki di sana, kita seolah memasuki zaman yang jauh berbeda dengan debu-debu yang menutupi seluruh kota. Semua rumah beratap datar, dari lantai sampai atapnya dibangun dari tanah liat. Jalanannya tanah liat, bahkan tembok kota didirikan menggunakan tanah liat oker berwarna kemerahan.

Tidak banyak yang berubah di Djenné sejak masa kejayaannya sebagai pusat perdagangan trans-Sahara yang makmur di abad ke-14 dan ke-15. Satu keping kejayaan kekaisaran Mali adalah Timbuktu, dan keping lainnya adalah Djenné. Jika Timbuktu mencirikan peradaban maju dengan pencapaian intelektualitas yang tinggi, maka Djenné adalah pencapaian kekaisaran Mali dalam seni dan arsitektur.  

Lanskap kota ekawarna yang didominasi merah batu bata, persis seperti topeng kanaga dengan panjang sekitar tiga meter yang digunakan penari Dongon selama ratusan tahun, serta blues padang pasir yang mengalir dengan hentakan yang tak terduga. 

Rumah-rumah bergaya Djenné memiliki fasad dengan pilar-pilar tinggi yang seakan menopang seluruh bangunan, membentuk tembok pembatas sebagai pintu masuk. Fasad-fasad tersebut didekorasi menggunakan pohon toron (Borassus aethiopum), yang membuat fasadnya terlihat menonjol sekitar 60 cm dari dinding. Toron juga berfungsi sebagai perancah (pijakan), sebab rumah-rumah Djenné selalu direparasi minimal sekali setahun. Di tepian atapnya melentang pipa keramik sebagai penghalang air hujan tidak merembes dan mencairkan dinding. 

Beberapa rumah yang dibangun sebelum tahun 1900-an bergaya Toucouleur yang memiliki teras persis di pintu masuk. Dilengkapi dengan sebuah jendela kecil yang menghadap ke jalan. Bangunan yang lebih baru menggunakan gaya Maroko yang tidak berteras. 

Di tepi sungai Niger, orang-orang akan duduk mengolah tanah menjadi batu bata. Tanah akan dicampur dengan air dan jerami yang telah dicincang lalu dimasukkan dalam cetakan kayu. Ukurannya sama, 36x18x8 cm. Batu-batu bata itu, yang biasanya disebut Djenné-ferey, akan disusun membentuk sebuah bangunan. Setiap batu diberikan jarak sekitar 2 cm, lalu diisi dengan perekat yang juga dari campuran tanah. 

Tanah, bagaimana pun kita memadatkannya, tetap luntur karena air. Sehingga rumah-rumah di Djenné perlu direnovasi sekali setahun, bahkan lebih, jika curah hujan meninggi. Ini berulang-ulang dilakukan. Tak ada habisnya. Saking seringnya memperbaiki rumah, hampir semua orang di Djenné, dari muda sampai tua, laki-laki dan perempuan, mahir dalam membangun rumah. Tak kalah mahir sebagai seniman tanah liat. 

Di Djenné, seluruh warga akan berkumpul sekali setahun. Genderang-genderang nubia ditabuh, aneka masakan dikeluarkan ke jalan-jalan. Dari muda sampai tua, dari perempuan sampai laki-laki, semuanya akan keluar rumah menenteng ember dan apa saja yang bisa menampung tanah dan air. Para perempuan mengisi ember mereka dengan air sungai, dan laki-laki membawa tanah. 

Mereka menuju ke Masjid Agung Djenné, warisan paling megah jejak peradaban Islam di sub-Sahara. Barulah pada abad ke-20 para arsitektur memikirkan bangunan yang eco-techonology, ramah lingkungan; Masjid Agung Djenné telah lahir jauh sebelum itu. Masjid yang dibangun sekira abad ke-13 itu, yang semua bangunannya berbahan tanah dan air, bisa jadi masjid yang paling murah, rendah karbon dan ramah lingkungan.

Semenjak tiga kekaisaran besar merajai dunia Islam (Ottoman, Persia dan Mughal), ketiga kekaisaran ini memengaruhi arsitektur setiap negara Islam. Di zaman modern ini kita mengenal empat gaya arsitektural: Persia, Turki, India, dan Arab. Tipe China mungkin tidak terlalu berkembang. 

Mali pada dasarnya lebih dipengaruhi arsitektur Arab, namun dikembangkan sesuai bahan baku yang ada, menciptakan arsitektur gaya Sudan-Sahelian. Mereka adalah campuran dua kebudayaan masyarakat Sudan (Black Africa) dan Saheli yang menempati kawasan padang rumput Sahel di Afrika Barat. 

Maka berkunjung ke Djenné, Mali atau bahkan Afrika, sebaiknya tetap menempatkan suatu peradaban dalam kerangka pikir Ibnu Khaldun. Musik (dan juga kesenian secara luas), adalah perlambang kemajuan suatu peradaban.

Dan kita masih bisa menemukan peradaban yang luhur di tempat itu. Tempat di mana kerak buminya menyimpan logam mulia meski digerus penjajahan selama ratusan tahun. Dan jangan lupakan tanah di atasnya yang menganugerahkan kehidupan yang begitu riang dan megah.

Baca juga:  Masjid Sultan Suriansyah, Menyimpan Dakwah Penuh Hikmah
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top