Sedang Membaca
Gus Dur Kecil, Membaca dan Bermain
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Gus Dur Kecil, Membaca dan Bermain

Iip D Yahya
Gus Dur Kanak-kanak Tumbuh dengan Buku

Salah satu faktor penting dala kehidupan Gus Dur adalah perkenalannya dengan buku sejak usia dini. Ia beruntung, saat tumbuh dan berkembang, belum ada gadget yang akan membuainya sepanjang hari dengan aneka permainan. Teknologi boleh saja memindahkan buku ke dalam gadget, tetapi membaca buku secara fisik tetap lebih “terasa” dibadingkan menatap layat gadget berlama-lama. Dan … terlalu banyak godaan saat membaca di layar gadget, seperti notifikasi grup WA atau berita.

Saya kutipkan kisah Gus Dur kecil dengan buku dan permainan masa kanak-kanak yang menyenangkan. Disarikan dari Gus Dur Berbeda itu Asyik (Kanisius, 2004)

 

“Dur! Dur!” Bu Sholehah memanggil anak sulungnya. “Di mana anak itu, ya? Sudah menjelang magrib kok belum pulang juga.”

          Kebiasaan di rumah itu, semua anggota keluarga harus berada di rumah sebelum magrib. Tiba-tiba yang dicari muncul sambil memegang buku.

          “Kamu kemana saja tadi?” tanya ibunya.

          Nggak ke mana-mana. Saya tadi di balik pintu kamar. Baca buku. Ceritanya asyik sih, Bu.”

          Oalah, kamu ini. Kalau sudah baca, sampai tak mendengar panggilan ibu,” ujar ibunya sambil membolak-balik buku sastra yang dibaca Dur.

          Dur hanya tertawa. Ia kemudian bersiap menunaikan salat magrib bersama keempat adiknya. Aisyah, Solahuddin, Umar dan Khadijah. Mereka akan bermakmum kepada ayahnya, Pak Wahid Hasyim.

          Dur, nama lengkapnya Abdurrahman Al-Dakhil. Ia lahir hari Sabtu di Denanyar, Jombang, Jawa Timur.

          Di sekolahnya di Jakarta, Dur diajar oleh Ibu Aliman. Sesekali jika ada halangan, Bu Aliman digantikan anaknya. Namnya Pak Ali Wardana.Dari Bu Aliman inilah Dur mulai belajar mengarang cerita.

Sebelum keluarganya pindah ke Jakarta, saat tinggal di Jombang, Jawa Timur, Dur mengaji pada kakeknya, Kiai Hasyim Asy’ari. Seorang kiai besar di Pulau Jawa yang pengasuh pesantren Tebuireng. Kakeknya itulah yang menjadi pendiri dan pemimpin organisasi kemasyarakatan terbesar di dunia, bernama Nahdlatul Ulama. Di depan kakeknya, Dur dengan tangkas menghafal ayat-ayat dari kitab suci Al-Qur’an.

Ayah Dur juga seorang kiai. Karena anak seorang kiai, Dur dipanggil Gus. Namanya menjadi Gus Dur. Dur punya banyak kawan. Ia suka bermain bersama mereka. Bermain bola atau berenang.

          “Gus, renang yuk!” ajak kawan-kawannya.

          “Ayo,” jawab Dur senang.

          Mereka lalu menuju sungai. Mereka berenang di sungai yang dangkal. Sambil bersenda gurau mereka menepuk-nepuk air sungai. Percik-percik air mengenai wajah mereka. Mereka tertawa riang.

          Suatu sore Dur mendatangi kawan-kawannya.

          “Mau ikut, nggak?” ajak Dur dengan serius.

          “Ke mana, Gus?” tanya salah seorang temannya.

Baca Juga

Baca Juga:  Sabilus Salikin (65): Wadzifah al-'Ammah Tarekat Sa'diyyah

          “Naik lori tebu,” jawab Dur singkat.

          “Wah, asyik. Ayo kita pergi!” sahut teman yang lain penuh semangat.

          Mereka lalu menunggu lori tebu lewat. Di Tebuireng ada sebuah pabrik gula. Kalau sedang musim panen, tebu diangkut dengan lori menuju pabrik.

          “Boleh nggak kita ambil tebunya?” tanya seorang teman.

          “Harus bilang dulu pada Pak Mandor!” kata teman yang lain.

          “Aku nanti yang bilang,” kata Dur dengan mantap.

          Ketika lori berhenti untuk menaikkan tebu, mereka berlarian dan berebut naik. Walaupun jaraknya dekat saja, mereka senang bisa naik lori itu. Mereka lalu pulang. Masing-masing membawa sebatang tebu, setelah diizinkan oleh Pak Mandor.

 

Buku dan bermain bersama kawan-kawan seusia, itulah yang harus tetap disediakan untuk anak-anak kita agar mereka tumbuh dengan waras dan manusiawi. Gus Dur sudah memberikan teladan baik, tugas kita untuk menebarkan kebaikan itu.

Lihat Komentar (0)

Komentari