Masjid Sultan Suriansyah, Menyimpan Dakwah Penuh Hikmah

Muhammad Iqbal
  • Pasca memeluk Islam, Pangeran Samudera berganti nama menjadi Sultan Suriansyah. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama sebuah masjid: Masjid Sultan Suriansyah.

Masjid Sultan Suriansyah berdiri tahun 1526 M atau 932 H. Ia berarsitektur tradisional khas Banjar yang juga dipadukan dengan gaya bangunan Demak. Konstruksinya dibangun dengan tipe panggung dengan atap tumpang tiga yang berhiaskan sungkul dan jamang (ukiran).

Sementara itu, di bagian mimbar terbuat dari kayu ulin dengan pelengkung mimbar bertulis kaligrafi berbunyi Allah Muhammadarasulullah tahun 1296 H bulan Rajab hari Selasa tanggal 17. Sedangkan pada bagian kiri mimbar terdapat tulisan Allah subhanu wal hamdi al-Haj Muhammad Ali al-Najri Masjid.

Sejumlah daun pintu berukir peninggalan awal, meski tak difungsikan lagi, tetap dijejerkan di sekitar dinding masjid. Mimbar kuno dari kayu ulin pun tetap dipertahankan. Sekitar 200 meter dari lokasi masjid terdapat kompleks makam Sultan Suriansyah. Kompleks makam itu dahulu adalah istana sultan.

Foto: Fauzi/alif

Bentuk ruang pada Masjid Sultan Suriansyah memiliki gaya arsitektur Masjid Agung Demak, yang dipengaruhi oleh arsitektur Jawa kuno pada masa kerajaan Hindu. Warna hijau mendominasi nuansa masjid, pelbagai ukiran tradisional menghiasi bangunan sehingga terlihat sangat artistik. Paduan hiasan tradisional khas Banjar dan Demak terintegrasi dalam tampilan masjid bersejarah ini.

Pada 1976, Kodam X Lambung Mangkurat melakukan perbaikan terhadap beberapa kerusakan masjid. Diikuti inisiator Gubernur Haji Gusti Hasan Aman pada 1999 melakukan perbaikan dan pemugaran besar-besaran, tetapi masih tetap mempertahankan beberapa bagian dengan bentuk asli, yaitu 4 tiang yang masih  kokoh sebagai penyangga masjid, pintu, beduk, dan mimbar.

Dari segi bangunannya, kendati banyak dipengaruhi arsitektur masjid di Demak, tak seluruhnya masjidnya bernuansa Demak. Masjid ini bertipe panggung, seperti halnya bangunan-bangunan lainnya di Banjarmasin yang bertipe rumah panggung. Hal ihwal itu disebabkan kontur tanahnya yang rawa, sehingga diperlukan fondasi kuat bertipe panggung agar bangunan tak mudah roboh.

Secara keseluruhan masjid ini dibangun menggunakan kayu ulin (kayu besi) yang dapat dilihat dari semua gambar di atas mulai dari dinding, pintu, lantainya pun kayu ulin bahkan atapnya juga dari sirap kayu ulin, oleh karena itu, bangunan ini tetap bertahan sampai sekarang karena kuatnya dari segi bahan bangunan.

Masjid Sultan Suriansyah yang beralamat di jalan Alalak Utara RT. 5, kelurahan Kuin Utara, kecamatan Banjarmasin Utara, kota Banjarmasin ini merupakan masjid tertua di Kalsel. Masjid yang kini menjadi ikon kota Banjarmasin ini, telah ditetapkan sebagai cagar budaya pada 1 September 1978 dengan Surat keputusan (SK) Dirjen Sejarah Purbakala Departemen Pendidikan Nomor. 047/L.3/DSP/78.

 

Baca juga:  Menelusuri Jejak-jejak Pengaruh Arsitektur Islam di Venesia

Dakwah Penuh Hikmah

Lima abad lalu, kawasan Kalsel, termasuk perkampungan Kuin, adalah wilayah Kerajaan Negara Daha yang berpusat di Negara (kini masuk wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan). Merujuk pelbagai sumber, cerita yang berkelindan dengan proses Islamisasi itu, berawal ketika Kerajaan Negara Daha masih dipimpin oleh Maharaja Sukarama.

Dalam Hikajat Bandjar, disebutkan bahwa raja memiliki tiga putra, Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumanggung dan Pangeran Bagalung, serta seorang putri, yaitu Putri Intan Sari atau Putri Galuh. Sesuai tradisi, ketiga putranya adalah pewaris takhta kerajaan. Namun, Maharaja Sukarama mengambil keputusan berbeda. Dia berwasiat, jika dia mangkat, yang menggantikannya adalah cucunya, Pangeran Samudera, putra dari pasangan Putri Galuh dan Menteri Jaya.

Berbeda dengan si sulung, Pangeran Mangkubumi yang tak berkeberatan, Pangeran Tumanggung dan Pangeran Bagalung menentang wasiat ayahnya itu. Saat Maharaja Sukarama meninggal, suasana istana langsung memanas. Jiwa Pangeran Samudera yang saat itu berusia kurang dari 10 tahun pun terancam. Seorang punggawa, Arya Trenggana, meminta Pangeran Samudera angkat kaki dari istana.

Baca Juga

Permintaan itu dipatuhi. Dengan berbekalkan makanan, pakaian secukupnya, dan alat tangkap ikan, Pangeran Samudera lewat larut malam ”dihanyutkan” di sungai menggunakan jukung. Selama pelayaran, dia menyamar sebagai nelayan. Setelah menempuh perjalanan selama belasan tahun, dia berjumpa dengan Patih Masih di perkampungan Kuin. Mereka berkenalan hingga terungkap, nelayan muda itu adalah Pangeran Samudera. Atas dukungan patih lain dan rakyat, Patih Masih menahbiskan Pangeran Samudera menjadi raja Kerajaan Banjar, melepaskan diri dari Kerajaan Negara Daha.

Kala itu, Kerajaan Negara Daha dipimpin Pangeran Tumanggung. Dia menggantikan kakaknya, Pangeran Mangkubumi, yang tewas dibunuh. Mendengar Pangeran Samudera masih hidup dan menjadi Raja Banjar, Pangeran Tumanggung langsung menyatakan perang. Dua peperangan tak terhindarkan lagi.

Dalam peperangan itu, Kerajaan Banjar mendapat dukungan dari Kerajaan Demak di Pulau Jawa yang tiba di Kuin pada 1526. Sokongan dari pasukan Demak dengan syarat, Pangeran Samudera dan pengikutnya menjadi pemeluk Islam.

Foto: Fauzi

Pertempuran itu berakhir manis. Pangeran Tumenggung luluh hatinya saat berhadapan dengan Pangeran Samudera. Keduanya berpelukan. Pangeran Samudera diakui memimpin Kerajaan Banjar yang berarti resmi pisah dari Kerajaan Negara Daha.

Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 24 September 1526. Tanggal tersebut, belakangan menjadi hari jadi kota Banjarmasin. Sesuai janjinya, Pangeran Samudera, Patih Masih dan pengikutnya memeluk Islam, setelah mendapat bimbingan dari Khatib Dayyan, utusan Kerajaan Demak.

Pasca memeluk Islam, Pangeran Samudera berganti nama menjadi Sultan Suriansyah. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama sebuah masjid: Masjid Sultan Suriansyah.

Lihat Komentar (1)

Komentari