Sedang Membaca
Jadikan Sedekah sebagai “Gaya Hidup”
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Jadikan Sedekah sebagai “Gaya Hidup”

Sam Edy Yuswanto

Pada hakikatnya, setiap orang menyukai hal-hal baik dan tak menyukai hal-hal buruk. Syariat Islam telah sejak lama mengajarkan kita agar senantiasa berbuat kebaikan dalam berbagai situasi dan kondisi. Kebaikan yang kita lakukan akan menumbuhkan benih kebaikan yang lainnya.

Begitu pun sebaliknya, kejahatan yang kita lakukan kelak menumbuhkan benih kejahatan lainnya. Oleh karenanya, setiap orang mestinya selalu berusaha melakukan hal-hal baik dan berupaya untuk tidak melakukan tindak kejahatan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Mungkin ada orang yang mengira, bila ia melakukan kebaikan untuk orang lain ia akan mengalami kerugian. Misalnya, saat ia bersedekah kepada fakir miskin, atau menyumbangkan sebagian uangnya kepada orang yang tengah membutuhkan, ia merasa harta yang dimilikinya menjadi menyusut alias berkurang. Anggapan semacam ini tentu keliru dan harus diluruskan.

Secara kasat mata, memang harta yang dikeluarkan untuk sedekah akan berkurang. Namun, bila kita berbicara hakikat, sebenarnya harta kita akan bertambah. Terkait hal ini, sebuah artikel di NU Online menjelaskan, sedekah tidak akan mengurangkan harta sedikit pun. Karena pasti Allah akan menggantinya dengan berlipat ganda.

Rasulullah Saw bersabda, “Harta tidak berkurang karena sedekah” (HR. Muslim).

Dalam hadis lain, riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah Saw menguraikan, “Tidaklah seorang hamba berada di pagi hari kecuali dua malaikat turun kepadanya, yang salah satunya berkata; Ya Allah, berilah orang yang berinfak gantinya. Dan yang lain berkata: Ya Allah, berilah orang yang kikir kerusakan.”

Baca juga:  Menelusuri Zionisme, Memahami Yahudi

Sementara dalam Al-Quran Surat Al-Hasyr ayat 39, Allah SWT berfirman, “Dan segala yang kamu nafkahkan, tentu akan digantikan oleh Allah.”

Bila hadis Nabi dan firman Allah tersebut kita renungi, maka betapa meruginya kita bila selama hidup di dunia enggan membiasakan diri bersedekah. Karena orang yang bersedekah, selain akan diberi ganti yang lebih baik oleh Allah (bahkan hartanya akan ditambah) juga akan didoakan kebaikan oleh malaikat.

Sementara orang yang kikir dan enggan bersedekah dengan hartanya (padahal dia sangat mampu untuk menyisihkan sebagiannya) maka malaikat akan mendoakan kerusakan padanya. Kita tentu tahu bahwa doa malikat itu maqbul atau dikabulkan oleh Allah.

 

Harta Terbaik

Sebagai umat Islam, bersedekah mestinya dapat menjadi sebuah kebiasaan tanpa menunggu momentum atau waktu-waktu tertentu saja. Bukan pula saat ada orang datang meminta bantuan dan pertolongan. Sedekah, seyogianya selalu kita tumbuhkan dalam hati dan menjadi sebuah ‘gaya hidup’ yang akan memberikan manfaat sangat besar terhadap kehidupan kita.

Hal yang harus dipahami dan renungi bersama, ketika hendak memberikan sedekah atau ingin berinfak, berusahalah dengan harta atau barang terbaik yang kita miliki.

Bukan “harta sisa” yang nilainya di mata kita kurang (bahkan tidak) berharga. “Harta sisa” yang saya maksudkan di sini misalnya uang recehan atau uang sisa-sisa pembayaran di kasir saat berbelanja.

Pernahkah kita melihat seseorang (atau bahkan kita sendiri juga pernah melakukannya) saat pergi ke masjid untuk salat berjamaah, lantas ia membawa uang recehan (misalnya lima ratusan beberapa keping) untuk dimasukkan ke dalam kotak amal?

Baca juga:  Kenangan Mahasiswa Madura Belajar Filsafat di UIN Jogja

Memang, berinfak dengan nominal berapa pun, lebih baik daripada tidak berinfak sama sekali. Namun, alangkah lebih baiknya lagi, bila uang yang kita infakkan adalah yang benar-benar sudah dipersiapkan.

Jadi bukan uang pecahan (recehan) atau uang sisa yang kita sendiri pun sudah merasa enggan memilikinya. Coba sekarang renungi bersama, masa iya sih, kita berinfak dengan mengharapkan pahala besar di sisi-Nya, tapi uang yang kita infakkan justru uang recehan?

 

Jangan Menunda

Saat hendak berbuat kebaikan, termasuk ketika ingin bersedekah, janganlah kita menunda-nundanya. Tidak perlu juga menunggu momentum tertentu. Karena tidak ada seorang pun yang mampu menjamin seberapa panjang usia kita. Mumpung saat ini kita masih diberi nikmat sehat dan panjang umur, bersegeralah memperbanyak amal kebajikan, salah satunya adalah dengan memperbanyak amalan sedekah.

Baca Juga

Mari kita jadikan sedekah sebagai ‘gaya hidup’ yang akan membuat hidup kita lebih bermanfaat dan insyaallah selalu mendapat keberkahan dari-Nya.

Jangan sampai ketika kita merasa ajal sudah kian dekat, kita baru merasa pentingnya bersedekah. Terkait hal ini, laman konsultasisyariah.com memaparkan, bersedekah dalam kondisi sehat lebih utama daripada berwasiat ketika sudah menjelang ajal, atau ketika sudah sakit parah dan sulit diharapkan kesembuhannya.

Baca juga:  Sepatu: Modernitas dan Ramadan

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad Saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab,

“Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan mengharap kaya.

Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan, ‘Untuk Fulan sekian, untuk Fulan sekian, dan untuk Fulan sekian.’ Padahal telah menjadi milik si Fulan” (HR. Bukhari Muslim).

Bersedekah memang terasa berat. Namun justru di situlah tantangannya. Dan di situ pula keutaman yang akan kita raih. Sebagaimana diurai dalam hadis nabi tersebut, bahwa sedekah yang paling utama ciri-cirinya adalah ketika kondisi kita terasa berat untuk mengeluarkannya.

Mudah-mudahan tulisan sederhana ini dapat bermanfaat sekaligus menjadi bahan renungan bagi kita semua. Wallahu a’lam.

 

 

Lihat Komentar (0)

Komentari