Sedang Membaca
Majelis Taklim dan Penawar Rasa Kepo
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Majelis Taklim dan Penawar Rasa Kepo

Husnul Athiya

Saya sudah menghadiri pengajian ibu-ibu sejak berumur empat tahun. Terlalu dini, ya? Eh, tetapi saya hadir bukan sebagai pendengar. Saya menjadi asisten ayah yang kebetulan seorang penceramah. Saya sering diajak berkeliling Banjarmasin dari gang ke gang, rumah ke rumah, langgar ke langgar, hingga masjid ke masjid.

Biasanya saya diminta ayah untuk membawakan kitabnya. Setiap siang, dimana anak-anak lain sedang terlelap tidur, kami berkelana menaiki sepeda motor merk Excellent yang knalpotnya memekakkan telinga dan asapnya menyerupai lampu aladin kala sang jin keluar.

Sesampai di tempat tujuan, ayah langsung disambut dengan hangat oleh jamaah. Usai menunaikan tugas membawakan kitab, saya akan duduk manis di sampingnya dan mendengarkan ceramah yang tak saya pahami maknanya. Tak jarang saya tertidur di atas bantal yang dengan sigap diberikan oleh ibu-ibu ketika melihat saya mengantuk. Kemudian, ketika acara selesai, saya dibangunkan untuk bersiap pulang ke rumah.

Tugas saya bukan lagi membawakan kitab, tetapi membawa barakat (makanan) yang disiapkan si empunya rumah. Keseringan menemani ayah membuat saya hapal masjid mana yang pentolnya enak, langgar mana yang makanannya super, dan rumah mana yang jamuannya banyak. Sungguh, hanya itu pengetahuan yang saya dapatkan dari menghadiri pengajian ibu-ibu, sebagai asisten ayah.

Pengajian atau majelis taklim untuk ibu-ibu memang sudah ada sejak dahulu. Ketika ayah masih hidup, rumah kami juga menjelma menjadi majelis yang jamaahnya ibu-ibu di wilayah tempat kami tinggal. Dahulu, jumlah majelis taklim untuk ibu-ibu tak sebanyak sekarang. Kini, ibu-ibu tak lagi gulana jika ingin belajar agama. Majelis-majelis bertebaran dimana-mana.

Waktu pelaksanaannya pun cenderung tidak mengganggu tugas ‘kenegaraan’ para ibu di rumah. Ada yang digelar di akhir pekan saat bapak-bapak sedang tidak bekerja. Ada juga yang dilaksanakan di siang hari setelah zuhur atau asar, saat pekerjaan rumah tangga sudah selesai. Audiens pun kini tak lagi hanya ibu-ibu, tetapi juga para perempuan remaja dan dewasa. Pandangan bahwa duduk di majelis hanya untuk orang tua semata kini tak lagi berlaku.

Kehadiran majelis taklim ini tentu sangat bermanfaat bagi para perempuan dan para ibu. Biasanya, materi yang disampaikan sang penceramah seputar akhlak yang baik terhadap suami dan orang tua, tuntunan membesarkan anak, serta amalan-amalan agar rumah tangga selalu diliputi keberkahan.

Selain itu, ada pula ajaran fikih seperti beristinja, mandi wajib, gerakan sholat yang benar, yang sering terlewatkan oleh mereka. Tak luput pula, ajaran tauhid yang semakin memperkokoh keimanan mereka dalam menjalani hidup dan rumah tangga. Sang penceramah kerap mengingatkan untuk selalu meyakini kekuasaan Allah sebagai pemberi rezeki, penjaga, dan pemelihara terbaik.

Hal ini diyakini efektif untuk meredam kegelisahan mereka. Semakin rendah kadar kekhawatiran isteri, semakin damailah rumah tangga.

Ceramah ini biasanya menggunakan bahasa lokal. Di daerah saya, bahasa yang digunakan adalah bahasa Banjar. Efeknya mampu meningkatkan antusias masyarakat untuk datang dan mendengarkan. Tak jarang, sang penceramah menyelipkan guyonan ringan yang mudah ditangkap. Ilmu yang diajarkan pun lebih mudah terserap karena atmosfer yang diciptakan sangat santai dan tidak kaku.

Arkian, majelis taklim untuk para ibu dan perempuan muda di mesjid-mesjid besar yang ada di Banjarmasin, kini tak pernah sepi dari jamaah. Mereka kerap datang dengan alasan “Saya suka karena penceramahnya lucu.”

Dari update ilmu hingga update baju

Jika anda bertanya pada para ibu tentang motivasi mereka pergi ke majelis, maka mereka akan menghujani anda dengan jawaban “untuk mendapatkan ilmu agama.” Jawaban itu tentu benar. Tetapi, saya menemukan beberapa motivasi lain yang kerap membangkitkan semangat para ibu untuk menghadiri pengajian. Kecenderungan ini saya dapatkan dari hasil pengamatan dan juga hasil menguping perbincangan ibu saya dengan teman-teman sepengajiannya.

Perlu disadari bahwa majelis taklim bagi para ibu layaknya dunia kedua. Dunia yang memperkukuh status kemanusiaan mereka di masyarakat. Majelis taklim memberi mereka ruang untuk mengaktualisasikan diri di luar rumah tangga. Lewat majelis taklim, para ibu menjalin silaturrahmi dengan tetangga sekitar.

Dari sana terjadi komunikasi hangat mengenai keluarga, kesehatan, anak-anak, resep masakan, harga sembako serta gas LPG, dan perkara rumah tangga lainnya. Para ibu secara tak langsung dapat memperbaharui informasi dari apa yang mereka dengar.

Majelis taklim juga menjadi wahana untuk memperbaharui informasi seputar keadaan tetangga. Ya, ke-kepo-an para ibu terhadap keadaan tetangga mereka menemukan penawarnya lewat pembicaraan di majelis taklim sebelum sang penceramah tiba. Mereka akan mengetahui bahwa si A sedang sakit, si B baru membeli mobil baru, si C menikah lagi, si D bercerai, dan problematika kehidupan lainnya.

Sesekali, mereka menyalurkan rasa simpati dan empati dengan menyumbangkan sejumlah uang untuk yang kesulitan, atau sekedar memberikan doa bagi yang sedang dirundung musibah.

Selain bersilaturahmi, majelis taklim juga menjadi wadah untuk meng-update gaya berbusana yang sedang trend. Sudah menjadi rahasia umum kiranya bahwa fashion untuk kaum hawa memang cepat berubah. Jika ibu rumah tangga tidak bepergian ke luar rumah, ia tak akan tahu gamis apa yang lagi hits, hijab apa yang paling banyak diminati, serta bentuk bross apa yang akhir-akhir ini dipakai.

Baca Juga

Itulah sebabnya ibu saya sering berujar “Besok temani aku ke pasar, aku ingin membeli jubah dari katun jepang seperti yang dipakai Acil Inur.” Ia juga kerap kali berkata“Ah, aku tak suka yang itu, sekarang musimnya pakai kerudung yang ini, seperti yang dipakai Ibu Arifin. Yang itu sudah ketinggalan zaman.” Jadi, jangan heran jika saat anda ke majelis taklim ibu-ibu dan mendapati pola berbusana yang cenderung seragam.

Mereka mengenakan gamis, hijab dan bross dengan model yang sama. Warna hijab yang beraneka layaknya pelangi membuat pemandangan di dalam majelis kian indah. Saat saya bertanya kepada ibu mengapa harus demikian, beliau mengatakan bahwa baju-baju yang kita miliki kelak di akhirat akan menuntut kita apabila tidak dipakai untuk kebaikan.

Agar terhindar dari hal itu, maka baju-baju bagus yang kita beli, harus digunakan ke majelis, supaya mendapatkan pahala. Setidaknya, itu yang pernah didengarnya dari salah seorang penceramah. Nah, dengan dalil itu, para ibu cenderung merasa tidak bersalah untuk berbelanja baju yang bagus nan cantik dalam kuantitas yang banyak, selagi baju tersebut dipakai untuk menuntut ilmu agama ke majelis taklim.

Ya, pergi ke majelis tidak hanya sekedar untuk mendapatkan ilmu, tetapi juga sarana untuk mengenakan (bahkan memamerkan) pakaian syar’i terbaik yang mereka miliki.

Akhirnya, majelis taklim bagi para ibu tidak hanya sekedar wadah untuk menuntut ilmu semata. Beragam kepentingan hadir di sana. Kepentingan yang tentu mengukuhkan keberadaan mereka sebagai bagian dari masyarakat, yang turut serta terlibat dalam interaksi sosial di luar rumah, dan turut menebar manfaat untuk sesama.

Para ibu yang tidak ikut kegiatan di majelis taklim cenderung dikucilkan secara sosial. Mereka dianggap tidak bisa bermasyarakat. Bahkan yang lebih parah lagi, jika para ibu yang tidak ikut ke majelis itu memiliki hajatan, ibu-ibu lain cenderung merasa berat untuk berpartisipasi.

Dengan alasan bahwa mereka kurang akrab dengan si empunya hajatan, atau dengan perasaan bahwa “dia juga tidak pernah hadir waktu aku menyelenggarakan pengajian”. Kejam bukan? Jadi bagaimana, bu? Masih enggan hadir ke majelis di dekat rumah?

Wallahu a’lam

Gang Limau, Maret 2018

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top