Pertempuran Perniagaan Lada

Setyaningsih

Dalam sejarah upa boga, kekuasaan, penaklukan, dan kolonialisme, rempah-rempah adalah komoditas yang penuh daya tarik. Perjalanan ke Timur demi rempah-rempah selama berabad-abad telah menguji kekuatan maritim bangsa Eropa sekaligus mengukuhkan para penguasa di Nusantara (sebelum ada Indonesia) sebagai pihak-pihak yang berkuasa atas perniagaan dan geopolitik.

Lewat buku tipis tapi bernas, Perdagangan Lada Abad XVII: Perebutan “Emas” Putih dan Hitam di Nusantara (2019), P. Swantoro berangkat dari anggapan historis yang salah kaprah bahwa mengingat rempah-rempah terutama lada, selalu merute ke wilayah timur Indonesia. Terkhusus ke wilayah Kepulauan Maluku dan Banda. Padahal, “Maluku dan Banda bukan tempat tumbuh lada; sebab daerah tumbuh tanaman lada yang paling baik sejatinya terletak di belahan barat nusantara.”

Betapa berdayanya rempah, sejak dalam wujud pohon belum sampai biji dipanen, pernah menentukan mediasi penting antara pedagang asing dan pribumi. Rempah-rempah adalah magnet penentu ambisi penjelajahan ke Timur. Willard A. Hanna (1983) mengatakan tentang kedigdayaan rempah berjenis pala, ”…penduduk Pulau Run, dan barangkali juga penduduk Pulau Ai, memberikan pengakuan formal dan nampaknya sukarela terhadap kepemimpinan Inggris tahun 1616.

Mereka membayar upeti simbolis berupa pohon pala yang ditanam dalam pot tanah seraya mengucapkan sumpah setia. Apakah mereka digerakkan oleh rasa hormat terhadap Raja Inggris atau tidak, sekurang-kurangnya orang Banda kelihatan lebih menyukai persekutuan dengan Inggris daripada dengan orang Belanda.” Rempah-rempah telah menentukan koalisi penting dalam rute perdagangan internasional.

Baca Juga:  Membaca Risalah Ulama-ulama Jomblo

Lada, secara simbolik disebut P. Swantoro sebagai emas, saat itu tidak hanya penting bagi orang Eropa. Kalangan ningrat Tiongkok membutuhkan banyak lada yang mendorong pada penguasa Aceh, Banten, Pantai Sumatra Barat, dan Banjarmasih, menjadi pemasok utama. Pedagang Barat dan Timur pun terlibat dalam baku hantam. P. Swantoro mengatakan, “lada nusantara sudah diekspor dan diperdagangkan pada awal abad ke-16.”

Lada nusantara diwartakan oleh para penulis Tionghoa pada abad ke-15. P. Swantoro menguraikan data penuh angka, membandingkan lada dengan komoditas lain seperti kain, pala, beras, dan cengkih. Penuturan penuh angka ini diakui P. Swantoro memang “kering tanpa kesegaran bahasa.” Tapi di sinilah, kita mendapati pamor lada pada masanya, harga, hasil panen, dan sebaran wilayah paling menentukan keberadaan lada dibanding dengan komoditas lain.

Berabad sebelum VOC menciptakan kronik perdagangan lada di Nusantara dan jauh sebelum kita memasuki era kuliner globar, lada telah lama dikenal. Jack Turner (2011) menuturkan bahwa lada menjadi rempah yang pertama muncul dan paling lama bertahan sekaligus terpenting di Abad Pertengahan.

Kalangan elite Eropa sangat membutuhkan lada demi cita rasa upa boga dan pengukuhan status sosial serta kekuasaan. Columbus, Vasco da Gama, dan Magellan adalah tiga pencari rempah awal yang merintis penjelajah dijadikan patokan jejak. Mereka menggerakkan kapal atas nama kerajaan dan Tuhan, saling berebut dan terlibat dalam pertarungan yang sengit dan berdarah demi rempah-rempah.

Baca Juga:  Bagaimana Imam al-Qusyairi Menafsirkan Nahwu dalam Dunia Tasawuf?

Pedagang Sekaligus Penguasa

Yang menarik sekaligus ditegaskan oleh P. Swantoro bahwa para penguasa pribumi berperan tidak hanya memangku kedaulatan pemerintahan, mereka juga menguasai perdagangan. Sesama penguasa pribumi pun terlibat persekutuan untuk saling menguatkan atau bersengketa menjadi paling otoritatif dalam bidang perdagangan dan pemerintahan.

Sejak VOC bercokol di Nusantara demi rempah-rempah lewat jalan monopoli, mereka sebenarnya belum memiliki niat untuk mencikalkan kolonialisme karena pemerintah resmi Hindia-Belanda baru berdiri di awal abad ke-20. VOC masih berkisah di urusan komersial belaka. Inilah yang membuat P. Swantoro mengajak kita memikirkan ulang pertanyaan sejarahwan Rob Nieuwnhuys, apakah memang penjajahan Belanda berlangsung selama 350 tahun.

Sebelum ada Indonesia, wilayah-wilayah kepulauan Indonesia memiliki kedaulatan masing-masing. Hal ini menjadi semacam ancaman bagi VOC. Seperti kekuasaan Sultan Aceh yang memonopoli niaga lada di Pelabuhan Sumatra Barat, jelas tidak disukai oleh VOC yang menginginkan keuntungan dan persekutuan yang seuntung-untungnya. Maka, perjanjian-perjanjian dibuat VOC dengan penguasa di Nusantara biasanya menekankan pada pembatasan atau pelumpuhan atas kedaulatan pemerintahan.

Seperti pasal 8 dari perjanjian VOC dengan penguasa Pariaman yang diterjemahkan P. Swantoro berbunyi, “Pemerintah juga diingatkan untuk tidak menjalin relasi dengan siapa pun, kecuali dengan sepengetahuan atau izin Yang Mulia Komandan dan para pembesar lainnya. Hanya atas izin Koman dan pembesar lainnya pemerintah bisa membuat persekutuan atau perjanjian perang; atau menjadikan musuh-musuh dan teman-temannya seseorang sebagai musuh dan teman Kompeni.”

Baca Juga:  5 Buku Induk Ihwal Sejarah Islam

Persekutuan dengan VOC memuat kompensasi perlindungan secara militer sebagai imbalan atas hak monopoli. Badan dagang Inggris (East Indian Company) sempat juga tertarik pada lada tapi kalah dan terusir dari Banten pada 1682 oleh Sultan Haji yang mendapat bantuan dari VOC.

Perdagangan Lada Abad XVII: Perebutan “Emas” Putih dan Hitam di Nusantara (2019) menjelma buku tipis tapi bernas karena P. Swantoro tidak ngoyo atau bisa dikatakan berimbang menyajikan data sekaligus argumen matang. Di belakang terlampir perjanjian-perjanjian antara VOC dan penguasa setempat, catatan akhir sebagai pembacaan lanjut, dan daftar pustaka. Kita diantar ke masa digdaya perdagangan lada di abad ke-17 catatan orang Eropa, saudagar dari Timur, angka-data perdagangan, surat-surat-surat penting.

Baca Juga

Hal ini sekaligus meyakinkan kita bahwa rempah-rempah telah menjadi cerita tidak habis, menjelajahi dunia dengan mitos sekaligus fakta yang awet sepanjang masa. Nusantara secara geopolitis pernah begitu kuat turut dalam tempur perniagaan rempah-rempah ini. (RM)

Judul : Perdagangan Lada Abad XVII: Perebutan “Emas” Putih dan Hitam di Nusantara

Penulis : P. Swantoro

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetak : Pertama, Januari 2019

Tebal : x+107 halaman

ISBN : 978-602-481-084-9

Lihat Komentar (0)

Komentari