Sedang Membaca
Masjid Kamina, Saksi Sejarah Islam di Bima
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Masjid Kamina, Saksi Sejarah Islam di Bima

Hilful Fudhul

Dalam naskah BO, catatan sejarah tanah Bima atau dikenal dengan nama Mbojo peralihan kekuasaan tidak dapat dilaksanakan mengingat sang penerus yaitu La Ka’i masih berumur belia. Maka kekuasaan sementara diambil alih oleh pamannya yang bernama Salisi.

Kemudian pada 1030 H atau 1621 M, saat putra mahkota sudah berumur dan pantas diangkat menjadi raja terjadi peristiwa pemberontakan yang dilakukan oleh pamannya sendiri, yang tak ingin kedudukannya digantikan oleh pewaris sah. Kejadian ini yang membuat putra mahkota melarikan diri bersama para pengikutnya.

Kebingungan ini membuat putra mahkota meminta bantuan Kesultanan Gowa di Sulawesi Selatan, atas bantuan Kesultanan Gowa, putra mahkota berhasil merebut kembali tahta kerajaan. Atas ucapan rasa syukur itu kemudian putra mahkota masuk Islam.

Beberapa bulan kemudian putra mahkota bernama La Ka’i berganti nama menjadi Abdul Kahir. Adalah raja pertama yang menganut Islam, kemudian berdiri masjid dibukit Kalodu sebagai bukti awal masuknya Islam di tanah Bima.

Dengan masuknya sang raja menganut agama Islam, kemudian pada 5 Juli 1640 M, sang raja dinobatkan menjadi Sultan Abdul Kahir.

Sebagaimana kita lihat, umumnya masjid memiliki menara dan berdiri megah. Apalagi masjid yang didirikan oleh seorang raja, dalam bayangan masjid yang dibangun berdiri megah, besar dengan arsitektur hebat.

Baca juga:  Soal Seksualitas dalam Film Bumi Manusia

Nyatanya masjid Kamina yang didirikan oleh Sultan pertama hanya berdiri di atas tanah 2 are, berbentuk persegi empat dengan model terbuka. Tidak dijelaskan secara rinci dalam naskah kerjaan yaitu naskah BO, tentang luas bangunan masjid dan juga luas tempat persembunyian Abdul Kahir di sebelah masjid yang dibangun.

Nama masjid diambil dari pengakuan atau masyarakat setempat yang pertama mengamini bangunan masjid tersebut, selain dikenal dengan nama masjid Kamina juga dikenal dengan nama masjid Kalodu karena berlokasi di Kalodu, persisnya lokasi bangunan di desa Kalodu kecamatan Langgur, ditempuh 75 KM dari pusat kota.

Empat sisi yang sama itu adalah simbol empat putra dan keluarga kerajaan yang memeluk Islam yaitu Abdul Kahir, Awaluddin, Jalaluddin dan terakhir yaitu Sirajuddin. Selain itu, empat sisi itu juga menjadi simbol empat Mubalig yang menjadi guru bagi keluarga kerajaan yang berasal dari tanah Gowa, Tallo, Luwu dan Bone.

Tidak seperti umumnya masjid yang kita kenal, Masjid Kamina tidak memiliki dinding di sisi kanan dan kirinya, juga tak memiliki mihrab seperti masjid-masjid yang lain. Masjid Kamina juga hanya memiliki satu tiang pilar yang menancap horizontal ke atap masjid, lantainya beralaskan tanah keras.

Tiang utama memiliki delapan cabang tiang atap yang bersimbolkan Nggusu Waru atau segi delapan yang merupakan jumlah empat keluarga kerjaan dan empat mubalig.

Baca Juga

Lokasi masjid juga merupakan daerah tempat persembunyian Abdul Kahir dan para pengikut setianya ketika dikejar oleh pasukan pamannya sendiri. Umumnya bangunan seperti masjid berdiri dilokasi awal masuknya penyebaran Islam yaitu di daerah pesisir, akan tetapi di Bima bangunan masjid berada di lokasi pedalaman terpencil.

Baca juga:  Langgam Artistik dan Simbolik Masjid Baitus Shobur

Atap masjid ditutupi oleh ilalang, kini masjid Kamina menjadi masjid tertua di Bima dan masih digunakan untuk kegiatan keagamaan masyarakat setempat, menggelar pengajian, puji-pujian dan kegiatan keagamaan lainnya.

Walau menjadi masjid bersejarah dengan umur ratusan tahun, awalnya tidak mendapat perhatian khusus dari pemerintah setempat. Setelah menjadi bagian dari bukti sejarah Islam masa lampau kemudian masjid itu beberapa kali direnovasi oleh pemerintah. (atk)

 

 

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top