Tradisi Pukul Sapu di Maluku, Membentuk Perilaku Prososial

M Kashai Ramdhani Pelupessy
  • Tradisi pukul sapu pun ternyata sudah menegaskan rukun iman, terlihat ketika minyak kelapa yang telah dibacakan ayat-ayat suci Alquran, diyakini dapat menyembuhkan luka yang terkena pukulan lidi aren.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘tradisi’ ialah segala sesuatu seperti adat, kepercayaan, kebiasaan, ajaran dan sebagainya, yang turun-temurun dari nenek moyang.

Di Indonesia, kita memiliki banyak sekali tradisi. Salah-satunya ialah tradisi pukul sapu yang ada di Maluku. Tepatnya di desa Mamala, Maluku Tengah. Tradisi ini biasanya dilakukan pada 7 Syawal setelah Idul Fitri.

Tradisi pukul sapu sudah ada sejak abad 16 silam. Tradisi ini bermula saat tiga orang tokoh penting di Mamala ingin mendirikan sebuah masjid. Pada waktu itu, yang paling pertama dibutuhkan untuk membangun sebuah masjid ialah kayu.

Ketiga orang tokoh tersebut bersama masyarakat pergi ke hutan untuk menebang pohon. Kayu-kayu yang diperoleh tidak boleh disambung, karena demi menjaga kekuatan dan keutuhan bangunan masjid. Sebab itu mereka mencari solusi bagaimana caranya agar kayu-kayu tetap utuh memanjang tanpa disambung.

Beberapa kali solusi ditawarkan namun selalu gagal. Singkat cerita, tiba-tiba salah-satu dari ketiga tokoh penting tersebut yang bernama Imam Tuny mendapat ilham dari Allah SWT.

Petunjuk Allah SWT kepada Imam Tuny, “Hai Imam Tuny, ambillah minyak kelapa dan bacakan kepadanya ayat-ayat suci Alquran. Setelah itu, oleskan minyak tersebut ke kayu yang patah dan kemudian tutuplah dengan kain putih. Terus buka kain itu dan saksikan apa yang terjadi”.

Baca Juga:  Malam Takbiran: Gus Dur, Andre Moller...

Melalu petunjuk tersebut, Imam Tuny lalu menceritakan kepada dua orang tokoh lainnya. Hasil cerita Imam Tuny langsung diyakini dan di lakukan oleh kedua orang tokoh tersebut bersama para masyarakat. Alhasil, kayu yang tadinya patah menjadi tersambung setelah dioleskan minyak kelapa yang telah dibacakan ayat-ayat suci Alquran.

Takjub dengan kekuasaan Allah SWT, maka ketiga orang tokoh itu berpikir bahwa kalaupun pada kayu saja mendapat keberkahan lantas bagaimana dengan manusia?

Berangkat dari situlah, mereka bersepakat untuk melakukannya pada manusia. Melalui musyawarah, disepakatilah tanggal percobaan kepada manusia menggunakan lidi aren.

Setiap orang membentuk sebuah kelompok dan saling-pukul menggunakan lidi aren. Badan yang tadinya mulus-bersih pun keluar darah akibat pukulan lidi aren. Luka-luka yang ada di sekujur tubuh kemudian dioleskan minyak kelapa yang telah dibacakan ayat-ayat suci Alquran. Beberapa saat setelah itu luka-luka menjadi kering dan sembuh.

Membentuk Perilaku Prososial

Tradisi pukul sapu sangat berdampak positif bagi penguatan keyakinan masyarakat Mamala kepada Allah. Seperti yang diketahui bahwa salah-satu rukun iman ialah percaya kepada kitabullah. Tradisi pukul sapu pun ternyata sudah menegaskan rukun iman tersebut. Hal ini terlihat ketika minyak kelapa yang telah dibacakan ayat-ayat suci Alquran, diyakini dapat menyembuhkan luka yang terkena pukulan lidi aren.

Baca Juga:  Idul Fitri dan Apresiasi Liyan

Di samping itu, tradisi pukul sapu juga dapat membentuk perilaku prososial masyarakat Mamala. Yaitu setelah acara pukul sapu, setiap orang yang menjadi peserta saling bersuka-cita mengoles minyak kelapa ke tubuh teman-temannya yang terluka. Hal ini memperlihatkan adanya perilaku prososial.

Baca Juga

Eisenberg dan Mussen mengartikan perilaku prososial sebagai tindakan sukarela yang dimaksudkan untuk membantu orang lain atau kelompok tertentu.

Penelitian yang dilakukan Cowie dari the international journal of emotional education tahun 2014 mengatakan bahwa perilaku prososial berkaitan dengan sikap toleransi individu dalam kelompok.

Penelitian Noorden, Haselager, Cillessen, dan Bukowski dari journal youth adolescent tahun 2015 mengatakan bahwa perilaku prososial dapat meminimalkan perilaku antisosial.

Penelitian Katz dan Moore dari journal violence and victims tahun 2013 berpendapat bahwa perilaku prososial dapat mencegah perilaku destruktif dalam hubungan kelompok pertemanan.

Serta penelitian Saarento, Boulton dan Salmivalli dari journal abnormal child psychology tahun 2015 mengatakan bahwa perilaku prososial dapat meminimalkan perilaku bullying.

Itulah sejarah singkat tradisi pukul sapu dan efek positifnya, baik secara keimanan maupun psikologis bagi masyarakat Mamala, Maluku. Semoga tradisi ini tetap terjaga sampai anak-cucu kelak. Amin. (atk)

Lihat Komentar (0)

Komentari