Sedang Membaca
Sabilus Salikin (34): Sebaik-baik Ulama
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sabilus Salikin (34): Sebaik-baik Ulama

Redaksi
Sabilus Salikin (34): Sebaik-baik Ulama

قال النبى: حُكَمَاءُ عُلَمَاءُ كَادُوْا مِنْ صِدْقِهِمْ أَنْ يَكُوْنُوْا أَنْبِيَاءَ، (حلية الأولياء، جز 7، ص: 418).

Rasulullah SAW bersabda. “Hampir-hampir kesungguhan ulama ahli hikmah itu menjadi seperti para nabi”, (Hilyat al-Auliya’ wa Thabaqât al-Ashfiya’, juz 7 halaman: 418).

حدثنا عبد الله بن محمد بن جعفر، حدثنا زكريا الساجي فيما قرئ عليه فأقربه، حدثنا سهل بن بحر، حدثنا محمد بن إسحاق السليمي، حدثنا المبارك عن سفيان الثوري عن أبى الزناد أبى حازم عن أبى هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ((خِيَارُ أُمَّتِي عُلَمَاؤُهَا، وَخِيَارُكُمْ عُلَمَاؤُهَا رُحَمَاؤُهَا، أَلَا وَإِنَّ اللهَ يَغْفِرُ لِلْعَالِمِ أَرْبَعِيْنَ ذَنْبًا قَبْلَ أَنْ يَغْفِرَ لِلْجَاهِلِ ذَنْبًا وَاحِدًا، أَلَا وَإِنَّ الْعَالِمَ الرَّحِيْمَ يَجِئُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِنَّ نُوْرَهُ قَدْ أَضَاءَ، يَمْشِيْ فِيْهِ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ كَمَا يَضِئُ الْكَوْكَبُ الدُّرِّيُّ))، (حلية الأولياء، جز 6، ص: 425)

Sebaik-baiknya umatku adalah ulama, sebaik-baik ulama adalah yang memiliki belas kasihan terhadap umat, ketahuilah bahwa Allah mengampuni 40 dosa orang alim lebih dahulu sebelum Allah mengampuni satu dosa orang bodoh. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang alim yang penuh kasih sayang datang pada hari kiyamat dan cahayanya menerangi jalan-jalan yang dilaluinya, dia berjalan diantara arah timur dan barat seperti bintang-bintang yang bersinar, (Hilyat al-Auliya’ wa Thabaqât al-Ashfiya’, juz 6, halaman: 425).

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانَ بْنُ أَحْمَدَ-إِمْلَاءٌ-حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنُ حَنْبَلٍ،حَدَثَنِيْ أَبِيْ، ثَنَا يَحْيَى بْنُ يَمَانٍ، قَالَ: سَمِعْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيْ يَقُوْلُ: الْأَعْمَالُ السَّيِّئَةُ دَاءٌ، وَالْعُلَمَاءُ دَوَاءٌ، فَإِذَا فَسَدَ الْعُلَمَاءُ فَمَنْ يَشْفَى الدَّاءَ، (حلية الأولياء، جز 5، ص: 288).

Amal yang jelek merupakan penyakit, ulama adalah obat, ketika para ulama’ rusak maka siapa yang bisa mengobati?

حَدَّثَنَا سليمان بن أحمد، ثنا محمد بن عبد الله الحضرمي، ثنا أحمد بن راشد البجلي، ثنا يحيى ابن يمان، قَالَ: سَمِعْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِي يَقُوْلُ: الْعَالِمُ طَبِيْبُ الدِّيْنِ، وَالدَّرَاهِمُ دَاءُ الدَّيْنِ، فَإِذَاجَذَبَ الطَّبِيْبُ الدَّاءَ إِلَى نَفْسِهِ، فَمَتَى يُدَاوِي غَيْرَهُ، (حلية الأولياء، جز 5، ص: 288).

Orang alim merupakan dokter agama, dirham adalah penyakitnya, ketika seorang dokter terkena penyakit, maka kapankah dia bisa mengobati orang lain?, (Hilyat al-Auliya’ wa Thabaqât al-Ashfiya’,  juz 5, halaman: 288).

Tiga Golongan Manusia

قال المُرْسِيْ رضي الله تعالى: النَّاسُ ثَلَاثَةٌ: قَوْمٌ هُمْ بِشُهُوْدِ مَا مِنْهُمْ إِلَى اللهِ وَهُمُ الْعِبَادُ وَالْعَامَّةُ، وَقَوْمٌ هُمْ بِشُهُوْدِ مَأْمُنِ اللهِ إِلَيْهِمْ وَهُمْ الْخَاصَّةُ، وَقَوْمٌ هُمْ بِشُهُوْدِ مَا مِنَ اللهِ إِلَى اللهِ، (جواهر المعانى وبلوغ الأمانى، ص: 446-447)

Imam al-Mursi menggolongkan manusia menjadi tiga golongan;

  1. Golongan yang bisa melihat Allah melalui segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah
  2. Golongan yang melihat sesuatu yang diamanahkan Allah yang disandarkan kepada makhluknya yaitu orang yang khusus
  3. Golongan yang melihat sesuatu dari Allah dan disandarkan kepada Allah, (Jawâhir al-Ma’ani wa Bulûgh al-Amani, halaman: 446).
Baca Juga:  Sabilus Salikin (50): Sejarah Perkembangan Tarekat Junaidiyah

Manusia Terbagi Menjadi Empat Golongan Yang Mengikuti Nabi

وَالنَّاسُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَصْنَافٍ فِى إِقْتَدَأُوْا بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، الصِّنْفُ الْأَوَّلُ: الْعُلَمَاءُ إِقْتَدَأُوْا بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى أَقْوَالِهِ، الصِّنْفُ الثَّانِى: الْعُبَّادُ إِقْتَدَأُوْا بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى أَفْعَالِهِ، الصِّنْفُ الثَّالِثُ: الصُّوْفِيَّةُ إِقْتَدَأُوْا بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فىِ أَخْلَاقِهِ، الصِّنْفُ الرَّابِعُ: الْعَارِفُوْنَ الْمُحَقِّقُوْنَ اِقْتِدَأُوْا بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى أَحْوَالِهِ، (جواهر المعانى وبلوغ الأمانى، ص:447)

  1. Para ulama yang mengikuti jejak nabi dalam segi perkataan Nabi
  2. Orang-orang yang ahli ibadah yang mengikuti jejak Nabi dari segi pekerjaan Nabi
  3. Seorang sufi yang mengikuti jejak Nabi dari segi akhlak Nabi
  4. Orang-orang yang ma’rifat billah yang mengikuti jejak Nabi dari segi haliyah Nabi, (Jawâhir al-Ma’ani wa Bulûgh al-Amani, halaman: 447).

Kewajiban Amar Ma‘ruf

Menyuruh pada kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah dari kemunkaran (nahi munkar) adalah sebuah kewajiban bersama. Kewajiban ini tidak harus menunggu apakah kita sudah melaksanakan perbuatan ma’ruf tersebut, atau kita telah meninggalkan perbuatan munkar tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam Hadis berikut:

رَوَى أَبُوْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مُرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَإِنْ لَمْ تَعْمَلُوْا بِهِ وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَإِنْ لَمْ تَنْتَهُوْا عَنْهُ، (تنبيه الغافلين، ص: 32).

Abu Hurairah RA. meriwayatkan Hadis dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Memerintahlah kalian kepada kebajikan, meskipun kalian belum melaksanakannya. Dan laranglah kalian dari perbuatan munkar, meskipun kalian belum meninggalkannya”, (Tanbîh al-Ghâfilîn, halaman: 32).

Namun, kewajiban untuk melaksanakan amar ma‘ruf nahi munkar tersebut memiliki batasan-batasan tersendiri, sesuai dengan kadar keimanan dan kemampuan yang dimiliki.

Baca Juga

  1. Amar ma‘ruf nahi munkar dengan kekuasaan, yaitu untuk pemerintah/aparat yang berwajib (penegak hukum).
  2. Amar ma‘ruf nahi munkar dengan lisan, yaitu untuk para ulama (ilmuwan).
  3. Amar ma‘ruf nahi munkar dengan hati, yaitu untuk orang awam.

وَرَوَى أَبُوْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ يَعْنِي أَضْعَفُ فِعْلِ أَهْلِ اْلإِيْمَانِ قَالَ بَعْضُهُمْ التَّغْيِيْرُ بِالْيَدِ لِلأُمَرَاءِ وَبِاللِّسَانِ لِلْعُلَمَاءِ وَبِالْقَلْبِ لِلْعَامَّةِ وَقَالَ بَعْضُهُمْ كُلُّ مَنْ قَدَرَ عَلَى ذَلِكَ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُغَيِّرَهُ، (تنبيه الغافلين، ص: 33. تنوير القلوب، ص: 8).

Abu Sa’id al-Khudri RA. meriwayatkan Hadis dari Nabî SAW, beliau bersabda: “Jika seseorang di antara kalian ada yang melihat kemunkaran, maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya (kekuasaannya). Namun, jika tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Namun, jika tidak mampu, maka dengan hatinya (do’a). Dan yang demikian itu adalah iman yang paling lemah”. Maksudnya adalah hal tersebut adalah perbuatan yang paling lemah dari orang-orang yang memiliki keimanan. Sebagian ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perbuatan merubah dengan tangan adalah untuk pemerintah/aparat yang berwajib (penegak hukum), merubah dengan lisan adalah bagi ulama (ilmuan), dan merubah dengan hati adalah bagi orang awam. Dan sebagian ulama lainnya juga menyatakan bahwa tiap orang yang memiliki kemampuan untuk merubah kemunkaran tersebut, maka hal itu adalah wajib baginya untuk merubahnya. (Tanbîh al-Ghâfilîn, halaman: 33).

Baca Juga:  Mu'minah binti Bahlul dari Damaskus

Dunia Menjadi Pelayan bagi Orang yang Melayani Agama Allah

Dunia ini, jika semakin kita terus membenamkan diri didalamnya, maka semakin dalam kita terjerumus dalam kepalsuannya. Sebaliknya, jika kita menggunakan dunia ini sebatas kebutuhan kita untuk mengabdikan dan menyembahkan diri kepada Allah SWT, maka dunia ini yang akan mencari dan mengabdi kepada kita. Betapa banyak orang-orang yang mengabdikan dirinya kepada Allah SWT, hidup mereka tentram, serba kecukupan. Dunia menjadi pelayan mereka, bukan mereka yang menjadi pelayan dunia. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT kepada dunia ketika menciptakannya: “Barangsiapa mengabdi kepada-Ku, maka layanilah dia. Dan barangsiapa mengabdi kepadamu (dunia), maka mintalah pengabdiannya”.

فَمَنْ أَرَدَ اللهُ أَنْ يَتَّخِذَهُ وَلِيًّا كَرِهَ اِلَيْهِ الدُّنْيَا وَوَفَقَهُ لِلْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَسَهَّلَهَا عَلَيْهِ كَمَا وَقَعَ لِبَعْضِهِمْ فَإِنَّهُ خَرَجَ يَتَصَيَّدُ فِى بَرِيَةٍ وَإِذَا شَابٌ رَاكِبٌ أَسَدًا وَحَوْلَهُ سِبَاعٌ فَلَمَّا رَأَتْهُ اِبتَدَرَتْ نَحْوَهُ فَزَجَرَهَا الشَّابُ ثُمَّ قَالَ: مَا هَذِهِ الْغَفْلَةُ؟ اِشْتَغَلْتَ بِهَوَاكَ عَنْ أُخْرَاكَ وَبِلَذَّتِكَ عَنْ خِدْمَةِ مَوْلَاكَ، أَعْطَاكَ الدُّنْيَا لِتَسْتَعِيْنَ بِهَا عَلَى خِدْمَتِهِ فَجَعَلْتَهَا ذَرِيْعَةً لِلْاِشْتِغَالِ عَنْهُ، ثُمَّ خَرَجَتْ عَجُوْزٌ بِيَدِهَا شُرْبَةُ مَاءٍ فَشَرِبَ وَنَاوَلَهُ فَسَأَلَهُ عَنْهَا فَقَالَ: هِىَ الدُّنْيَا وُكِّلَتْ بِخِدْمَتِيْ. أَمَّا بَلَغَكَ أَنَّ اللهَ لَمَّا خَلَقَهَا قَالَ: مَنْ خَدَمَنِيْ فَاخْدِمِيْهِ وَمَنْ خَدَمَكَ فَاسْتَخْدِمِيْهِ. فَخَرَجَ عَنْ الدُّنْيَا وَسَلَكَ الطَّرِيْقَ وَصَارَ الْأَبْدَالَ، (تنوير القلوب، ص: 448).

Apabila Allah SWT menghendaki seorang hamba untuk dijadikan kekasihnya, maka Allah SWT akan menjauhkan dunia darinya, dan Allah SWT memberikan pertolongan serta kemudahan baginya untuk melakukan amal-amal yang baik. Sebagaimana terjadi pada seorang kekasih Allah SWT Yaitu ketika dia keluar untuk berburu, tiba-tiba dia bertemu dengan seorang pemuda yang menunggangi harimau yang dikelilingi oleh binatang buas. Ketika hewan-hewan buas itu melihatnya dan hendak menerkamnya, maka pemuda tersebut mencegahnya. Lalu pemuda itu berkata: Apakah ini tergolong lupa? Kamu sibukkan dirimu untuk menuruti hawa nafsu, kesenangan dunia dan meninggalkan akhirat serta meninggalkan pengabdian kepada sang pencipta. Allah SWT memberimu dunia untuk membantumu dalam mengabdi kepada-Nya. Akan tetapi, engkau jadikan dunia ini sebagai perantara yang menyibukkan dirimu jauh dari-Nya. Kemudian keluarlah seorang perempuan tua yang membawa air, pemuda itupun meminumnya. Laki-laki itu bertanya kepada pemuda tentang perempuan itu, lalu pemuda itu berkata: “Dia adalah dunia yang dipasrahkan kepadaku karena pengabdianku (kepada-Nya). Tidakkah telah sampai kepadamu ketika Allah SWT menciptakan dunia, lalu Allah SWT berfirman: “Barangsiapa mengabdi kepada-Ku maka layanilah dia. Dan barangsiapa mengabdi kepadamu (dunia), maka mintalah pengabdian dariny”. Setelah itu, laki-laki tersebut meninggalkan dunia dan menjalani tarekat, hingga dia menjadi seorang wali abdal, (Tanwîr al-Qulûb, halaman: 448).

Baca Juga:  Ngaji Rumi: Seni Bertawasul pada Nabi

وَفِي الْحَدِيْثِ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى 🙁 يَا دُنْيَا اُخْدُمِيْ مَنْ خَدَمَنِيْ وَاتَّعَبِيْ مَنْ خَدَمَكَ) وَقَالَ أَيْضًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الدُّنْيَا طَالِبَةٌ وَمَطْلُوْبَةٌ، فَمَنْ طَلَبَ الْآخِرَةَ طَلَبَتْهُ الدُّنْيَا حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقُهُ، وَمَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا طَلَبَتْهُ الْآخِرَةَ حَتَّى يَأْخُذَ الْمَوْتُ بِعُنُقِهِ، (الفتوحات الإلهية فى شرح المباحث الأصلية، ص: 298).

Diriwayatkan dari Rasulullah SAW, Allah berfirman: ”Hai dunia, layanilah orang yang telah melayani (agama) Ku, dan sengsarakanlah orang yang hanya melayanimu”. Rasulullah SAW bersabda; “Dunia itu bisa jadi mencari dan dicari, barangsiapa yang mencari akhirat, niscaya dunia akan mencarinya sampai rizqinya paripurna. Dan sebaliknya barangsiapa yang mencari dunia, maka akhirat akan menuntutnya hingga maut pun menjemput sampai di lehernya”, (al-Futûhât al-Ilâhiyyah fî Syarhi al-Mabâhits al-Ashâliyyah, halaman: 298).

Lihat Komentar (0)

Komentari