Literasi Islam dengan Puisi di SD Al-Islam Solo

Setyaningsih

Di Solo, sebuah buku lahir sebagai bentuk amalan berbagi. Sehimpun puisi berbagi berjudul Sedikit Tetapi Asyik (Bilik Literasi, 2017) menghimpun tulisan anak-anak SD Al-Islam 2 Jamsaren, Solo.

Buku tersebut menjadi edisi pertama dari seri Literasi Islam Santun yang digarap Bilik Literasi bersama program pendampingan dosen FEBI (Fak. Ekonomi dan Bisnis Islam) IAIN Surakarta. Berbagi memang ujian hidup di keseharian. Anak-anak menuliskan sebagai wujud ekspresi yang bersahaja.

Puisi Amira Keisha Arkan yang duduk di kelas 4 SD memiliki judul yang lumayan seru, “Sedikit Tetapi Asyik”. Keisha tidak ingin langsung menggunakan kata kerja berbagi sebagai pengantar ke larik-larik puisinya.

Sedikit dan asyik meski tidak memiliki kedekatan rima, tapi berhasil mewakili rasa berbagi di masa kanak. Apalagi, tidak ada alasan moral-agama yang langsung ada sebagai efek berbagi. Memang ada kata ikhlas memasuki larik kedua. Kita cerap, terutama di bait pertama memiliki permainan rima,

Sepotong biskuit, aku berbagi./ Sepotong ilmu, aku mencari./ Lakukanlah berbagi./ Senang jika diberi./ Tetapi aku juga ingin memberi./ Selalu ikhlas melepaskan makanan yang dibagi./ Mencoba berbagi juga mencoba mengikhlaskan./ Makan sendiri tidak asyik./ Makan bersama lebih asyik walaupun sedikit.

Ardita Putri K. juga berhasil menghindar dari kata berbagi yang cenderung digunakan anak-anak sebagai judul. Ardita memilih judul cukup puitis “Setangkup Burger Besar”, bukan sebungkus, sekotak, atau sepiring. Setangkup mengesankan kedekatan raga. Pemberian dari satu tangan ke tangan yang lain.

Diksi-diksi pilihan Ardita menampilkan status berbahasa anak-anak yang tidak baku, memuat candaan, tidak agamis, dan akrab keseharian. Puisinya lebih ingin bercerita. Kita cerap:

Pagi yang cerah./ Saat hari Minggu, aku berulang tahun./ Di siang hari, aku membeli burger 1 kotak./ Mamahku menyuruhku berbagi dengan temanku yang ada di rumah./ Tapi saat itu, aku melihat temanku seorang saja cemberut./ Aku pun menghampirinya./ “Ada apa kamu?” tanyaku./ “Aku nggak kebagian” jawabnya./ “O ya udah besok aku membelikanmu burger yang lebih besar lagi./ “Serius, duarius!” canda tersenyumnya saat tertawa berbahagia./ “Iya beneran!/ “Makasih./ Besoknya, aku memberinya setangkup burger besar.

Bagi anak-anak, berbagi sangat sederhana. Mereka tidak perlu menunggu jadi kaya, tenar, atau berpangkat. Sedikit makanan yang dimiliki, mengamalkan ajaran religius dari para nabi.

Baca Juga:  Siapa Pemilik Islam, Kristen, Yahudi, Hindu?

Puisi Soffin Izul M.A berjudul “Ibuku” mulai menekankan pada kehadiran sosok teladan berbagi. Seperti kebanyakan puisi tentang ibu di koran, majalah anak, atau buku pelajaran, ada pemujian ibu sebagai pendidik pertama. Tidak ada ibu yang tidak baik. Ibu selalu menjadi idola dan dambaan.

Secara moral, seorang anak pasti berpikir untuk membalas sebagai tindak kemalaikatan ibu dengan sungguh-sungguh. Inilah petikan puisi Soffin, Soffin,

“Kamu jangan makan sendiri./ Bagi sama ke temanmu itu lho ya!”/ Aku sangat senang mempunyai ibu yang baik./ Aku sedih kalau ibuku pergi./ Aku harus membalas kebaikan ibuku.

Diksi Keagamaan

Diksi keagamaan berujung pada ganjaran juga muncul dalam perpuisian anak. Berbagi lekat dengan sedekah, ikhlas, surga, dan pahala yang membawa imajinasi pada kehidupan usai dunia.

Diksi-diksi sangat mungkin dibentuk oleh pendidikan agama di keluarga, sekolah, ataupun masyarakat.

Berbagi menjelma nasihat yang harus diamalkan dengan penuh kesadaran. Puisi  Dena Balousha Tsabita berjudul “Berbagi” berbunyi:

Kita sesama manusia/ harus berbagi./ Jika kita berbagi/ pasti akan mendapat pahala./ Jika kita berbagi/ orang lain juga akan membagi kita./ Alangkah senangnya/ jika kita berbagi.

Pahala mendahului rasa senang. Meski rasa senang lebih mewakili keumuran, Dena tidak bisa melupakan ganjaran berupa pahala yang penjelasannya mungkin didapatkan dari ibu, ayah, guru sekolah, guru ngaji, atau simbah.

Hal yang sama tampil di puisi “Berbagi Air” milik Nafisah Shafna Putri. Shafna berbagi air atas ajaran Nenek Sri. Kita cerap petikan puisi:

Seringkali aku berbagi air./ Berbagi itu menyenangkan./ Aku berharap aku bisa masuk surga./ Aku juga tidak mau pamrih.

Pamrih rasa akhirat lebih penting daripada pamrih duniawi. Kita bisa menganggap betapa anak-anak menantikan dengan tabah untuk bisa mencapai surga yang gambarannya tidak segamblang sekolah, mal, tempat wisata, disneyland, restoran, atau tontonan-tontonan di YouTube.

Baca Juga

Shafna percaya meski belum tahu pasti letak surga dan rute menuju ke sana. Seperti juga puisi Aulia Zahra Sabila Candra Wati beimajinasi atas kuburan tidak sempit sebagai ganjaran berbagi:

Aku tanya, “Mah, kenapa tidak boleh pelit?”/ “Kak, kalau pelit…” Ayah menyahut perkataan mamah./ “Kalau pelit nanti kuburannya sempit./ Aku mulai mengerti.

Sebelum ke pernyataan bernuansa agamis, “Bakpia Simbah Umi” milik Faiza Nur Aisya Alya (IV D) berhasil menyajikan metafora yang manis. Bakpia dan Simbah Umi berpadu menciptakan ingatan manis pada diri Alya.

Kehadiran bakpia terasa tidak hanya ada sebagai sesuatu yang disantap. Justru, bakpia terasa hidup karena Alya menitipkan pertalian dengan simbah. Bakpia tidak cukup terdefinisi dengan enak, lezat, atau gurih. Ada rasa kenangan di sana,

Di balik bakpia, ada Simbah Umi./ Rasa bakpia yang manis semanis Simbah Umi./ Saat makan bakpia, terkenang pesan Simbah Umi./ Aku akan mengingat pesan Simbah Umi./ Simbah Umi sering berpesan, berbagi itu masuk surga./ Karena pesan Simbah Umi,/ Aku menjadi orang yang suka berbagi./ Berbagi adalah sedekah yang menenteramkan hati.

Berbagi membutuhkan pengajaran. Percontohan dari para teladan sekitar yang tidak hanya menasihati, tapi juga menjalankan secara spontan biasaanya lebih jitu membentuk etos.

Beberapa puisi berbagi memang berkesan memindah cerita ke bait atau percakapan langsung ke larik. Hal ini mewartakan bahwa anak-anak tidak dibiasakan bermain dengan kata dan rima atau terlalu sering diajak mengungkapkan pernyataan diri dengan kalimat lugas.

Anak masih berbagi dalam tataran makanan atau benda terlihat, mereka akan beranjak ke pengertian berbagi yang sifatnya lebih batiniah-tersirat, seperti berbagi ilmu, cerita, keluhan, atau perasaan.

Baca Juga:  Ramadan di Pesantren: Sebuah Kenangan

Puisi-puisi dengan tema berbagi menjadikan pembaca tahu pola pengasuhan orangtua sehari-hari, etos bersosial anak, pendidikan agama, peran lingkungan sekitar atas diri, dan bahkan merek-merek jajanan yang menjadikan anak menjadi dermawan.

Anak-anak masih di perjalanan berislam dengan santun sekaligus menjadi bocah yang menyantuni tanpa berkoar donasi ataupun charity.

Lihat Komentar (0)

Komentari