Sedang Membaca
Memaknai Tembang “Sluku-sluku Bathok”
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Memaknai Tembang “Sluku-sluku Bathok”

Redaksi

Era global menjanjikan segala kemudahan dalam setiap aspek kehidupan. Melalui fasilitas yang bernama internet, semua bisa didapatkan dengan mudah, misalnya kebutuhan akan sarana transportasi, makanan, informasi pendidikan, bahkan jasa tukang pijat pun dapat terpenuhi dengan memanfaatkan aplikasi pada internet sebagai medianya.

Maka satu-satunya benteng untuk memperkokoh diri dari gempuran globalisasi adalah integritas diri. Dengan intergritas seseorang akan mampu memfilter diri dari paparan negatif teknologi. Era global juga mengakibatkan generasi muda jauh dari lingkungan sosial dan terjerumus asyik pada dunia maya, dunia yang hanya fatamorgana dan menenggelamkan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Apalagi dalam konteks masyarakat Jawa, banyak anak muda kekinian yang tidak bisa berbahasa dan memahami bahasa Jawa. Padahal bahasa Jawa memiliki sumbang sih yang besar dalam membangun peradaban budaya masyarakat Jawa. Bahkan perkembangan dan pertumbuhan Islam melibatkan bahasa Jawa sebagai media dakwah para penyebar awal Islam di tanah Jawa.

Dahulu anak-anak terlibat dalam lingkungan sosial yang hangat, kegiatan nyata setelah pulang sekolah mampu memupuk karakter positif pada anak. Berbagai macam dolanan (permainan) seperti gobak sodor, jamuran, dakon, nekeran, benthik, engklek, delikan, dan lainnya mampu menginternalisasi karakter kerja sama, komunikatif, jujur, adil, tanggung jawab, kreatif, sportif, dan lainnya.

Sehingga sangat tepat jika para penyebar Islam tanah Jawa (baca: Walisongo) menggunakan pendekatan budaya agar dakwah Islam mudah diterima masyarakat kala itu. Pendekatan yang bersifat alon-alon waton kelakon, tidak frontal, tidak terkesan menggurui, dengan tujuan tidak menimbulkan gejolak dalam masyarakat. Pendekatan tersebut di antaranya melalui simbol-simbol seperti tembang, gamelan, wayang, dan lainnya.

Baca juga:  Warna Islam dalam Tradisi Lokal

Adapun melalui tembang di antaranya yang masyhur adalah tembang Jawa Sluku-sluku bathok. Sekilas tembang tersebut terdengar seperti tembang dolanan pada umumnya. Namun sebenarnya tembang tersebut memiliki makna yang luar biasa. Tembang ini dinisbatkan kepada Sunan Kalijaga sebagai penciptanya, tetapi pendapat lain ada yang menyebutkan Pangeran Sambernyowo (Mangkunegoro I).

Adapun tembang yang menceritakan tentang hubungan antara manusia dan Tuhannya, serta kewajiban manusia selagi hidup dapat disimak sebagai berikut:

[columns size=”1/2″ last=”false”]Sluku-sluku bathok

Bathoke ela elo

Si Rama menyang Solo

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Oleh-olehe payung motha[/columns]

Mak jenthit lolo lobah

Wong mati ora obah

Nek obah medeni bocah

Nek urip goleko dhuwit

 

Sluku-sluku bathok, berasal dari bahasa Arab, usluku suluka bathnaka, artinya jalankanlah, jalankanlah batinmu. Aktifkan batinmu untuk mampu menerima kebenaran dan jalan terang dari Tuhan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Bathoke ela elo, bathnaka la ilaha illallah, batinmu (melantunkan) la ilaha illallah, tidak ada Tuhan selain Allah. Maksudnya senantiasa berdzikir kepada Allah, baik dalam waktu senang maupun di kala susah, di kala sibuk atau senggang, di kala sehat maupun di waktu tertimpa musibah. Sebab segala peristiwa yang menimpa manusia pasti mengandung hikmah.

[blockquote align=”right” author=”QS. Adz-Dzariyat: 56″]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”[/blockquote]Si Rama menyang Solo, sirru ma’a man sholla. Mandilah, bersucilah, kemudian kerjakan sholat. Sholat sebagai manifestasi dari firman Allah Swt:

Baca juga:  Mengenal Tradisi Apitan di Masyarakat Jawa

Oleh-olehe payung motha, la ilaha illallah hayyun mauta, perbanyak dzikir kepada Allah selagi masih hidup, bertobat sebelum datangnya maut. Karena maut bisa datang sewaktu-waktu tanpa permisi.

Mak jenthit lolo lobah, wong mati ora obah, nek obah medeni bocah, nek urip goleko dhuwit. Bila maut menjemput, orang mati itu hanya sak jenthitan (satu tunggingan), setelah itu diam tidak bergerak selama-lamanya. Justru jika bergerak akan menakuti-nakuti anak kecil, sedangkan jika masih hidup adalah tugasnya mencari nafkah yang baik dan halal bagi keluarganya.

Menurut Gus Yahya Cholil Staquf bait terakhir tembang Sluku-sluku bathok tersebut merupakan penjelasan metaforis dari salah satu aforisma dalam kitab Al-Hikam karya Asy-Syaikh Muhammad ibn ‘Athoillah As-Sakandari sebagai berikut:

الاعمال صور قائمة وارواحها وجود سر الاخلاص فيها

“Amal itu (barulah) merupakan sosok yang siaga.

Nyawanya adalah eksistensi rahasia ikhlas di dalamnya.”

Sungguh luar biasa wewarah (ajaran) yang terdapat dalam tembang Sluku-sluku bathok. Maka menjadi pekerjaan rumah bersama, utamanya para generasi milineal untuk menginformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai dalam tembang tersebut. Melalui kecanggihan teknologi dapat dimanfaatkan untuk saling berbagi dan meneladani konsep tersebut sehingga sebagai andil untuk menjadi pribadi global yang berintegritas serta tetap nguri-uri budaya Jawa yang adiluhung. Wallahu a’lam.

Baca juga:  Kisah Semar dan Syaikh Subakir di Belukar Tidar

Artikel ini ditulis oleh dan diterbitkan pertama kali di jejaring media Islami.co dengan judul Menyelami Makna Tembang “Sluku-sluku Bathok”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top