Kisah Tiga Sufi Besar yang Miskin

Kholili Kholil

Di antara ajaran sentral tasawuf adalah zuhud dan qana’ah (menerima apa adanya; neriman). Dua sikap ini fardhu ain (wajib) dimiliki oleh seseorang. Apabila tidak mampu memiliki dua laku mulia ini, dia wajib belajar tasawuf atau apa pun yang bisa mengajarkan dua laku ini (serta laku batin lainnya seperti melawan iri, sombong, dan lain-lain).

Karena dua sikap ini wajib dimiliki oleh pelaku tasawuf, maka mayoritas ahli tasawuf adalah fakir miskin yang hidup apa adanya. Yang membedakan ulama sufi dengan fakir miskin lain adalah sikap rela dengan keadaan. Hidup miskin tidak membuat mereka meminta-minta, tamak, atau serakah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Berikut adalah biografi tiga ulama sufi yang hidup dalam kesulitan duniawi. Tiga ulama berikut hidup di tiga zaman yang berbeda. Semoga bisa diambil pelajaran.

Ma’ruf Al-Karkhi

Beliau bernama lengkap Abu Mahfuzh Ma’ruf bin Fairuzan. Dalam biografi (manakib) Ma’ruf al-Karkhi yang ditulis oleh Ibnu Qayyim al-Jauzi dikatakan bahwa beliau berasal dari Karkhjadan, Irak. Oleh karena itu beliau disebut dengan Al-Karkhi.

Kedua orangtuanya beragama Nasrani. Saat kecil dia dititipkan kepada seorang guru dan dipaksa mengatakan bahwa Tuhan ada tiga. Namun dia menolak. Setelah beberapa saat, ia dan orangtuanya masuk Islam di tangan Ali bin Musa Al-Ridha.

Meskipun beliau dikenal sebagai seorang sufi yang sibuk beribadah, Ibnu Qayyim mencatat beliau juga sering sekali menghadiri majelis hadis. Bahkan Ibnu Qayyim merekam ada tujuh hadis yang diriwayatkan oleh Ma’ruf.

Baca juga:  Hajinya Orang-Orang Sufi

Mengenai kehidupannya yang serba susah, Ibnu Qayyim pernah menukil cerita berikut:

Suatu hari Ma’ruf datang ke penjual sayur dan berkata bahwa ia ingin sebuah makanan bernama bashaliyyah. Penjual sayur berkata, “Bashaliyyah tidak dijual di toko sayuran, wahai Syekh Agung. Bashaliyyah adalah makanan dari daging, susu, ubi, dan bawang. Kami tidak menjualnya.”

Ma’ruf lalu mengeluarkan beberapa uang dan berkata, “Kalau begitu tolong buatkan. Aku tunggu di masjid. Karena aku sama sekali tidak tahu dan tidak pernah makan bashaliyyah.” Padahal di masa itu makanan tersebut adalah makanan standar masyarakat.

Ma’ruf juga dikenal sebagai sufi yang selalu waspada dengan kehidupan. Dia selalu takut dengan angan-angan kehidupan yang berlebih (thulul amal). Menukil dari Hilyatul Awliya’, Ibnu Qayyim menulis bahwa suatu ketika Ma’ruf pernah buang air kecil di jamban yang ada di tepian Sungai Tigris. Namun setelah hajatnya selesai ia justru bertayamum. Salah seorang kawannya bertanya kenapa dia tidak istinjak dengan air padahal sungainya sangat dekat? Beliau menjawab, “Siapa yang menjamin aku masih hidup hingga aku sampai ke sungai itu?”

Imam Al-Nawawi

Imam Nawawi adalah ulama sufi yang hidup dalam kesempitan rizki. Namun demikian, sebagaimana mestinya seorang sufi, beliau selalu sabar menghadapinya. Beliau bernama lengkap Yahya bin Syarof. Beliau biasa dijuluki (alam kuniah) Abu Zakariyya (ayahnya Zakariyya) meskipun beliau sendiri tidak pernah menikah hingga meninggal.

Baca juga:  Haul Mbah Muchit: Sang Kiai Pencinta Literasi

Adanya julukan ini karena orang Arab memang biasa menjuluki seorang bernama Yahya dengan Abu Zakariyya, Umar dengan Abu Hafsh, atau Yusuf dengan Abu Ya’qub. Beliau lahir di Kota Nawa dan meninggal di Damaskus. Beberapa tahun yang lalu kita digegerkan oleh pengeboman makam Al-Nawawi oleh ISIS.

Ayahnya adalah pedagang sederhana dan an-Nawawi terbiasa membantu menjaga toko. Ayahnya berkata bahwa ketika berangkat haji bersama an-Nawawi, an-Nawawi terkena sakit panas hingga Hari Arafah. Namun demikian, an-Nawawi tidak pernah mengeluh sekalipun.

Pada usia remaja beliau datang ke kota Damaskus. Setelah tinggal di Jami’ Umawi untuk beberapa saat, beliau tinggal di Madrasah Rawahiyah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Aththar dalam kitabnya tentang biografi an-Nawawi, an-Nawawi tidak pernah membaringkan badannya selama dua tahun ketika baru sampai di sana.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ibnu Aththar menulis bahwa an-Nawawi selalu berpuasa hingga akhir hayatnya. Beliau hanya sahur dengan segelas air putih, berbuka dengan tiga biji kurma, dan minum air segelas lagi saat tengah malam. Beliau hanya makan agak banyak saat ayahnya datang menjenguk beliau.

Beliau meninggal di Madrasah Asyrafiyah saat berusia 44 tahun di pangkuan ayahnya karena sakit yang sudah lama beliau simpan.

Asy-Sya’rani

Abdul Wahhab Asy-Sya’rani adalah seorang sufi luar biasa. Beliau adalah keturunan Sayyidina Ali dari jalur Muhammad bin Al-Hanafiyyah. Sesuai pengakuan beliau dalam al-Minan (buku otobiografi beliau), beliau sudah hafal Alquran sejak usia tujuh tahun, hafal Jurumiyah, Alfiyah Ibn Malik dan Iraqi, Minhaj, Jam’ul Jawami’, dan banyak kitab-kitab pokok lain. Beliau hafal semuanya di luar kepala.

Baca juga:  Baba Tahir, Sufi Penyambung Aspirasi Rakyat

Beliau juga muthala’ah (membaca dan mengkaji) ratusan jilid kitab fikih semua mazhab, tafsir, tarikh, kamus, tasawuf, syarah hadis, dan lain-lain. Beberapa di antaranya beliau baca berulang-ulang hingga puluhan kali. Bahkan beliau sering menulis komentar di kertas khusus karena beliau tidak sanggup membeli kitab.

Sejak umur delapan tahun beliau tidak pernah meninggalkan salat secara sengaja kecuali sekali, yakni ketika beliau ke Hijaz dan lupa tidak niat jamak ta’khir. Sejak kecil beliau sudah terbiasa mengkhatamkan Alquran dalam sekali salat.

Beliau hidup sederhana di zawiyah-nya. Beliau seringkali diberi hadiah oleh pejabat terkemuka namun beliau tolak. Hidup sederhana ini sudah menjadi pilihan beliau. Bahkan suatu ketika beliau pernah hendak melamar seorang wanita, namun wanita tersebut memberinya syarat-syarat duniawi yang harus beliau penuhi. Akhirnya beliau mundur dan tidak jadi melamarnya karena tidak memiliki cukup harta. Namun akhirnya wanita itu terharu dan akhirnya menikah dengan beliau.

Demikianlah sedikit di antara banyak biografi ulama sufi zuhud yang bisa dijadikan teladan. Wallahu a’lam.

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top