Sedang Membaca
NU dan Tanggungjawab Internasionalnya
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

NU dan Tanggungjawab Internasionalnya

Rijal Mumazziq Z

Di Jawa Pos, hari ini (31/01/17), Rektor UGM, Prof. Dr. Panut Mulyono, menegaskan institusi yang dia pimpin mendukung penuh agar NU dan Muhammadiyah bisa meraih nobel perdamaian. Upaya ini dilakukan karena kedua ormas ini memiliki jejak nyata dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Kedua ormas keagamaan ini, meskipun pernah terlibat hubungan antagonistik beberapa periode silam, namun dalam kurun dua dasawarsa terakhir lebih menunjukkan kedewasaan dalam menjaga dan merawat Indonesia. Keduanya bukan hanya berkontribusi dalam peningkatan pendidikan, layanan sosial kemasyarakatan melalui berbagai lembaga yang berada di bawah naungannya, melainkan pula terlibat aktif dalam upaya perdamaian di negara-negara Islam yang sedang berkonflik.

Muhammadiyah, misalnya, terlibat dalam proses rekonsiliasi konflik di wilayah Pattani, Thailand Selatan, melalui jejaring yang dibina oleh Prof. Din Syamsudin. Sedangkan NU memilih bermain lebih dalam di Afganistan. PBNU pernah mengundang para ulama dari berbagai kubu yang bertikai untuk duduk bersama di Jakarta. Upaya ini kemudiaan juga diikuti oleh pendirian Nahdlatul Ulama Afganistan pada 2013.

Secara organisasi, NU Afganistan tidak berafiliasi resmi dengan NU, namun secara spirit mereka menggunakan inspirasi NU sebagai “role model”.

Lebih jauh, upaya NU dalam mewujudkan perdamaian dunia bisa dilihat dari jejak para petinggi NU mempromosikan organisasi ini di kancah internasional serta upaya mewujudkan kerukunan antar kelompok Islam, maupun terlibat dalam dialog perdamaian.

Baca juga:  Mengenang Murid Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari

Baca juga:

Gus Dur mengawalinya melalui kiprah mondialnya melalui World Conference on Religion and Peace (WCRP). Beliau menjadi presidennya. Secara individu, Gus Dur dengan lincah bergerak ke berbagai jaringan di luar negeri.Dia memainkan pengaruhnya dan pemikirannya, serta memperluas jaringannya.

Penggantinya, KH. Hasyim Muzadi memilih langkah perintisan Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di berbagai negara. Kiai Hasyim kemudian juga menginisiasi pelaksanaan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) beberapa angkatan, yang menghimpun para ulama dari Sunni dan Syiah moderat untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Pengganti Kiai Hasyim, KH Said Aqil Siroj punya wadah bernama International Summit Of Moderate Islamic Leaders (ISOMIL). Acara yang mempertemukan ratusan delegasi ulama dari berbagai negara ini juga mencari format terbaik yang pas mewujudkan dunia yang berkeadilan. Di era Kiai Said pula, NU Afganistan berdiri pada 2013. Dalam acara ISOMIL tahun 2016 itu, beberapa negara di Eropa juga tertarik mendirikan NU di negaranya masing-masing, sebagaimana yang telah dilakukan para ulama Afganistan.

Pada Juli 2016, Habib Luthbi bin Yahya, salah seorang ulama kharismatik NU, menggelar Konferensi Internasional Bela Negara dengan mengundang unsur ulama dari berbagai kawasan. Ini even kedua yang digelar oleh Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) yang dipimpin Habib Luthfi, setelah beberapa tahun sebelumnya menggelar Multaqa Shufi Al-‘Alami.

Baca juga:  Tahun 1990an, Hari-Hari Terberat Gus Dur

Hingga saat ini pula, para ulama dari berbagai negara selalu mampir ke PBNU. Dalam kurun setahun terakhir, saya lihat, banyak sekali para ulama luar negeri yang menjalin diualig dan kerjasama dengan PBNU.

Setelah pimpinan Universitas al-Azhar, Syekh Ahmed Thayyib, berkunjung ke PBNU, Maret 2018, maka pada bulam Mei (Jumat, 4/5), Imam dan khatib Masjidil Haram, Syekh Dr Sholeh bin Abdullah bin Humaid melakukan dialig yang gayeng dengan jajaran elit PBNU. Dua bulan berikutnya, (20/7), Rektor Muassasah Al-Fath, Wujdah, Maroko, Syeikh Ahmad Yakhluf, dan ulama Ukraina Syeikh Tamim juga melakukan langkah serupa. Kedua ulama itu diterima Kiai Said Aqil di ruangannya.

Baca Juga

Dalam kunjungan tersebut, terjadi diskusi mengenai tumbuhnya ekstremisme di kalangan umat Islam di beberapa negara, serta pembahasan mengenai pengembangan kurikulum pendidikan Islam di ketiga negara.

Tanggal 21 Desember 2018 silam, Mantan Rektor al-Azhar, Prof. Ibrahim Hud-Hud disertai wakil rektor Prof. Asyrof Athiyah, juga melakukan langkah serupa. Meskipun hanya beberapa jam saja, namun kunjungan ini mempererat silaturrahmi antara PBNU dengan al-Azhar.

Di awal tahun, Duta Besar Arab Saudi yang baru, Yahya al-Qahthani, berdikusi mengenai kerjasama pendidikan dengan PBNU. Datang menggunakan setelan jas formal, duta besar pengganti Usamah bin Mohammad Abdullah al-Syuaibi itu, tampak ingin memperbarui relasi dengan PBNU pasca insiden cuitan bermasalah sang dubes lama.

Baca juga:  Ahmadiyah, Kekerasan Teologis, dan Utopia Kebebasan Beragama

Dalam bidang kerjaasama pendidikan, mantan Rektor Universitas Qarawiyin Fes Maroko Syekh Muhammad al-Ruki juga bersilaturrahmi ke PBNU pada 17 Januari 2019 silam. Sehari berselang, giliran Mufti Damaskus, Suriah, Syekh Adnan al-Afyouni menyampaikan kondisi perkembangan di Suriah.

Bagi saya, berbagai kunjungan dari para ulama luar negeri ini membuktikan apabila NU masih dipandang sebagai salah satu representasi dari umat Islam Indonesia. Ini unik, di tengah berbagai tuduhan dan fitnahan yang ditujukan kepada PBNU, keberhasilan penyelenggaraan ICIS, ISOMIL Multaqa Shufi al-Alami, tumbuhnya PCI NU di berbagai negara, hingga kepercayaan diri ulama Afganistan mengkloning NU ini menjadi penanda apabila logo bola dunia di dalam lambang NU benar-benar terealisasi: NU bukan hanya jago kandang, melainkan menjadi organisasi level internasional.

Selamat Harlah NU ke-93!

Lihat Komentar (1)

Komentari