Sedang Membaca
Melihat Indonesia Melalui Seni
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Melihat Indonesia Melalui Seni

Avatar

Pengantar: Sejak 21 Januari 2019, kami menurunkan 20 esai terbaik hasi Sayembara Esai Tingkat SMA/Sederajat 2018. Setelah pemuatan lima besar, 15 esai berikutnya dimuat berdasarkan urutan abjad nama penulisnya.

——-

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ketika mendengar kata seni rupa, mungkin yang muncul di benak kita adalah sekumpulan karya seni yang terdapat di galeri-galeri seni. Padahal, instalasi di jalan, dekorasi-dekorasi,  hingga berbagai macam perabot rumah juga bisa termasuk karya seni rupa. Di Indonesia, karya seni rupa meluber saking banyaknya. 

Sejak masa phaleolitikum atau zaman batu tua, manusia praaksara sudah menciptakan karya seni rupa yang berupa kapak batu kasar. Seiring berkembangnya waktu para manusia praaksara mulai mengenal karya seni lukis. Mereka melukis di dinding dan langit-langit gua. Hal tersebut membuktikan bahwa perkembangan zaman juga diikuti oleh perkembangan seni rupa.

Seni sendiri memiliki fungsi untuk membantu perkembangan kesadaran manusia, membantu memajukan sistem sosial juga bangsa. Tetapi masyarakat tidak diciptakan untuk menjadi seniman, senimanlah yang diciptakan untuk membantu perkembangan masyarakat.

Dalam satu artikel kritisnya yang paling awal, Chernyshevsky menulis:

“Ide seni untuk seni sama asingnya di zaman kita seperti kekayaan untuk kekayaan, ilmu untuk ilmu, dan sebangsanya. Semua kegiatan manusia mesti mengabdi kemanusiaan jika kegiatan itu tidak mau menjadi pekerjaan yang sia-sia dan keisengan belaka. Kekayaan ada agar manusia dapat menarik keuntungan darinya (ilmu ada agar menjadi pedoman manusia) juga seni harus mengabdi sesuatu tujuan yang berguna dan bukannya kesenangan yang tidak berfaedah”.

Menurut pendapat Chernyshevsky, nilai semua seni, dan terutama dari “yang paling serius di antaranya” yaitu persanjakan, ditentukan oleh jumlah pengetahuan yang disebar-luaskan  pada masyarakat. Kata Chernyshevsky lagi, “Seni, atau lebih baik dikatakan persanjakan (hanya persanjakan, karena kesenian lainnya sangat sedikit sumbangsihnya dalam hal ini), menyebar luaskan sejumlah besar pengetahuan di kalangan massa pembaca, dan yang lebih penting lagi, membiasakan mereka dengan konsep-konsep yang digarap oleh ilmu-pengetahuan. Itulah tujuan mulia persanjakan dalam kehidupan.

Baca juga:  Lukisan Misterius Gus Dur oleh Danarto

Gagasan yang sama telah dinyatakan Chernyshevsky dalam disertasinya yang terkenal itu, Hubungan Estetik Seni dengan Realitas. Menurut tesisnya yang ke-17, seni tidak hanya mereproduksi kehidupan, melainkan menjelaskannya hasil-hasil seni acapkali “mempunyai tujuan untuk melakukan penilaian atas gejala-gejala kehidupan”.

Menurut Chernyshevsky dan muridnya, Dobrolyubov, fungsi seni ialah, memang, untuk mereproduksi kehidupan dan untuk melakukan penilaian atas gejala-gejalanya. Dan ini bukan hanya pendapat para ahli kritik sastra dan para ahli teori seni. Oleh karena itu banyak orang berlomba-lomba mengembangkan karya seni dan menciptakan berbagai karya seni yang indah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Seni Rupa di Indonesia

Perkembangan seni rupa di Indonesia sendiri mengalami perkembangan yang sangat pesat. Di Indonesia banyak orang yang “berlomba-lomba” menciptakan karya seni rupa, mulai dari seni pahat, seni lukis, seni patung, seni kriya, hingga seni desain dan media art. Dalam menciptakan karya seni rupa, setiap orang mempunyai tujuannya masing-masing, dari yang hanya ingin namanya tenar hingga ada juga yang ingin memperkenalkan kreatifitas bangsanya kepada bangsa-bangsa lain.

Saat ini perkembangan teknologi semakin maju. Di tengah-tengah gelombang percepatan ilmu dan teknologi tersebut, maka terbuka pula ruang kebebasan seniman untuk berekspresi secara total, para seniman tidak terbatasi lagi oleh ruang, waktu, media, dan konsep. Seniman dapat menggelar karyanya di ruang manapun, di alam terbuka ataupun di dalam ruang galeri yang tertutup.

Baca juga:  Mengintip Dolalak, Tarian yang Dilarang Ulama

Demikian pula waktu tidak lagi menjadi hambatan. Media yang digunakan berkarya pun bermacam-macam, mulai dari unsur-unsur alam yang original sampai pada produk-produk teknologi, bahkan tubuh pun dapat menjadi alat untuk berekspresi. Seniman tidak lagi terbatas hanya pada media cat dan kanvas tetapi apa pun boleh. Tema-tema yang diangkat pun bervariasi, baik sosial, lingkungan, kekerasan, gender, spiritual, mitos, tradisi, kontemporer, atau bahkan percampuran dari berbagai tema dalam satu karya.

Kehadiran teknologi modern merupakan realitas yang tak terbantahkan di tengah-tengah kehidupan kita. Walupun negara kita belum mampu menjadi produsen yang unggul di bidang teknologi seperti Jepang, namun sebagai negara konsumer dibidang teknologi, negara kita pun dapat diandalkan. Maraknya pemakai internet, komputer, handphone, multi player game, handy came, serta kamera-kamera digital, merupakan indikasi kuatnya persinggungan teknologi dengan berbagai dimensi kehidupan masyarakat dalam negara kita.

Dampak dari hal ini adalah semakin dekatnya jarak. Dunia yang luas dalam sekejap dijadikan sebagai desa global yang sempit. Konsumerisme menjamur. Gaya hidup materialistis meningkat. Hal tersebut juga mempengaruhi proses kreasi dalam berkarya seni. Tema-tema teknologi menjadi inspirasi bagi para perupa muda dengan menggelar karya yang cenderung instalatif, performance art, kontruktif, dadais, pop art.

Fenomena tersebut merupakan refleksi dari kondisi zaman yang penuh dengan problem-problem sosial dan kultural, di mana kekerasan, kesepian, dan kesendirian, alienasi dari teknologi, kegersangan jiwa, krisis akidah, serta krisis ekologi dan kemanusiaan sedang melanda berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, dalam satu konteks ruang dan waktu bisa mengalami beberapa masa sekaligus (primitif, tradisional, modern, dan postmodern).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Antara Seniman dan Dai: Beban Ganda Dalang dalam Seni Wayang Kontemporer

Melihat Indonesia dari Seni 

Suatu bangsa dapat dikenal oleh bangsa lain karena dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah karya seni rupa yang ada dalamnya. Bangsa Indonesia juga dapat dilihat bangsa lain karena kesenian Indonesia yang masih asli dan tradisional, seperti karya seni tari. Banyak turis yang datang ke Bali atau Yogyakarta, misalnya, untuk melihat seni tarinya yang indah dan memukau.

Namun jika seni tari yang ada di Indonesia tidak dikembangkan maka lama-lama akan sedikit turis yang datang lagi, karna (mungkin saja) bosan dengan pertunjukan yang sama. Oleh karena itu sekarang seni tari tradisional Indonesia dipadukan dengan seni tari modern agar menjadi berbeda serta dinamis sehingga Indonesia bisa lebih dikenal oleh bangsa asing.

Memajukan suatu bangsa tidak melulu hanya soal teknologi. Negara-negara maju cenderung menciptakan berbagai inovasi teknologi seperti menciptakan robot pintar yang seperti manusia agar dapat meringankan pekerjaan mereka. Tentu saja negara berkembang kalah dengan negara maju jika para penduduknya lebih memilih konsumtif dari pada produktif.

Kemajuan bangsa juga bisa dilihat dari budayanya, salah satu di antaranya adalah karya seni. Pemuda-pemudi Indonesia  menciptakan berbagai karya seni kreatif dan inovatif. Contoh nyatanya adalah seorang arsitek di Indonesia, sekarang tidak kalah dengan para arsitek luar negri. Hasil karyanya yang kreatif dapat dimanfaatkan untuk memajukan suatu bangsa dengan menciptakan gedung-gedung yang unik. Semakin unik karyanya akan semakin tinggi nilainya di mata dunia. Bukan hanya seorang arsitek saja, desainer kita juga hasil karyanya sudah dikenal hingga ke mancanegara.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top