Nguwongke, Menggali Rasa yang Sehat lewat Seni

Rifqi Fairuz

Malam itu, Rabu, 10 April 2019, Pesantren Kaliopak bersolek. Area pesantren asuhan kiai budayawan Jadul Maula itu mendadak jadi galeri seni yang meriah. Rupanya pesantren sedang punya hajat jadi sohibul bait “Kembulan”, gelaran rutin pameran seni rupa yang digawangi oleh Lesbumi NU Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pameran seni rupa ini dibuka untuk umum dan berlangsung sampai tanggal 10 Mei, di pesantren yang lokasinya pinggir sungai Opak.

Kembulan edisi kali ini bertajuk “Nguwongke”, istilah bahasa Jawa yang artinya “memanusiakan”. Tidak hanya itu. Bagi orang Jawa, istilah “nguwongke”, adalah satu perbuatan untuk menempatkan segala sesuatu secara pantas, sesuai pada tempatnya, dan bermartabat.

Nguwongke mengandung asas kemanfaatan, karena khoirunnas anfa’uhum lin-nas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Para Kiai, santri, seniman dan pecinta seni tampak ramai menghadiri pembukaan pameran tersebut. Tidak ketinggalan, warga dusun Klenggotan juga turut memeriahkan acara pembukaan ini. Anak-anak warga dusun binaan santri Kaliopak menampilkan kidung Macapat dengan percaya diri.

Baca Juga:  Sejak di Pesantren, Para Santri Digembleng Bahtsul Masail
Suasanya malam pembukaan

Pameran ini dibuka bersama-sama oleh beberapa pelukis dan tokoh masyarakat yang hadir. Antara lain, Bapak Dukuh Klenggotan, pengasuh pesantren Kaliopak Kiai Jadul Maula, kolektor seni Oei Hong Djien, dan Prof. Purwo Santoso mewakili pengurus wilayah NU DIY.

“Ini dia, seni dirayakan oleh warga desa! Tidak hanya di galeri…” begitu puji Oei Hong Djien, yang ikut membuka gelaran Kembulan. Oei Hong Djien, yang juga pemilik Museum OHD Magelang, mengatakan dalam sambutannya bahwa seni itu indah, dan keindahan itu datangnya dari rasa. Dan rasa, bisa lebih penting dari rasio.

Kenapa perlu Nguwongke? Karena semua manusia pada dasarnya punya rasa yang tertanam di diri masing-masing. Lewat seni, manusia bisa menggali rasa dan keindahan yang tersimpan di dalam dirinya.

Rasio membuat manusia bisa kalkulasi untung-rugi. Mampu berhitung menang-kalah. Tapi rasa tidak bekerja seperti itu. Rasa melibatkan ketajaman intuisi dan kelembutan batin manusia. Gembar-gembor akal sehat akan selamanya kering kerontang, jika tidak disirami dengan rasa yang sehat pula.

Baca Juga:  Al Aqsa dan Wajah Paradoks Yerusalem

Hidup kalau cuma hidup, binatang juga bisa! Tapi cuma manusia yang dititipi rasa keindahan oleh Tuhan. Malaikat pun sepertinya tidak punya ini, mengingat hidupnya yang manut saja dengan perintah Tuhan. Di tengah keringnya rasa kemanusiaan, tajuk Nguwongke ini terasa pas.

Karya-karya yang dipajang merupakan hasil ketajaman rasa kemanusiaan para perupa kenamaan. Beberapa di antaranya, adalah karya dari nama yang familiar bagi pecinta seni seperti Nasirun, Jumaldi Alfi, dan Kiai par excellence dari Rembang, KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.

Baca Juga

Yang menarik, Rais Syuriah PWNU Yogyakarta, KH. Mas’ud Masduqi tidak ketinggalan mencatatkan namanya di jajaran seniman.

Dia menyumbangkan satu karya goresan tinta sederhana di atas media kertas. Ini bukan sembarang goresan pena. Kata salah satu santri Kaliopak, beliau menggoreskan karyanya di atas Kitab Ihya’ Ulumuddin yang beliau kaji. Ketika Kiai sudah menandaskan ujung penanya di atas kertas, jelas bukan perkara main-main. Kyai Mas’ud, begitu beliau disapa, juga hadir dan terlihat mengamati karya satu per satu. Beliau tampak antusias menikmati karya perupa lain yang dipajang.

Pameran seni Nguwongke dipunggawai oleh Lesbumi NU, dibantu oleh para santri Kaliopak dan direstui oleh warga sekitar. Seperti biasa, para Kiai, santri, seniman NU dan sekitarnya, sedang menunaikan kewajiban sebagai manusia yang dikaruniai rasa dan keindahan.

Ketika perhatian ramai-ramai tertuju pada panggung akal sehat, dari tepi Kali Opak yang rimbun, mereka sedang mengingatkan kita, “Jangan lupa, kita juga butuh rasa yang sehat!”

Baca Juga:  110 Tahun Kereta Api Hejaz, Jalur Kereta Legendaris

 

Foto-foto: Penulis

Lihat Komentar (0)

Komentari