Sedang Membaca
Ketum PBNU: Mari Membangun Narasi Sebagai Strategi
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ketum PBNU: Mari Membangun Narasi Sebagai Strategi

Img 20221202 Wa0069

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf mengungkapkan gagasan tentang pentingnya narasi sebagai sebuah strategi dalam “Pembukaan Rakernas Lesbumi-NU V dan Temu Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia 2022” di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (2/12/2022).  

Narasi yang terus-menerus didengungkan dan dipelihara akan  membentuk konstruksi kebudayaan. “Ini terjadi di mana-mana. Dongeng-dongeng, folklore, dan apa pun yang memberikan kesadaran budaya bagi masyarakat akan terbentuk secara kolektif karena disebarkan secara kolektif,” kata Gus Yahya di hadapan sebanyak 260 peserta rakernas dari 65 PWNU/PCNU se-Indonesia.

Img 20221202 Wa0048

Gus Yahya menegaskan bahwa narasi itu sangat penting, dan kita membangun narasi sesuatu dengan kepentingan kita. Misalnya untuk kepentingan Indonesia, kita butuh menjadi Indonesia yang seperti apa. Misalnya, katakanlah Indonesia yang bangkit atau Indonesia yang berperan sebagai bangsa yang lebih besar.

“Kita berhak untuk menentukan “warna” Indonesia,” sambung Gus Yahya di kegiatan yang dihadiri oleh Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Ditjen Kebudayaan Kemdikbudristek Restu Gunawan, Ketua PBNU Alissa Wahid dan Savic Ali, serta sejumlah budayawan Betawi tersebut.

Img 20221202 Wa0066

Gus Yahya mencontohkan bagaimana Amerika Serikat itu jagoan dalam membangun narasi. “Misal slogan make Amerika great again, seolah Amerika pernah great, kan perang lawan Vietnam saja kalah setelah, membantai jutaan orang di Vietnam. Makanya mereka kembangkan narasi yang seoalah Amerika itu gak kalah perang, misalnya lewat film-film, dan itu menjadi kesadaran kolektif bagi warganya,” kata Gus Yahya.

Baca juga:  Refleksi Harlah Lesbumi: Bakiak Kiai

Betawi sebagai Simbol Pembauran

Gus Yahya mengapresiasi penyelenggaraan rakernas di Setu Babakan sebagai simbol budaya Betawi serta kepanitian dari PWNU DKI Jakarta yang melibatkan para pekerja serta pemerhati budaya di DKI Jakarta. Terasa menguatkan masyarakat serta keindahan budaya.

Melihat ornamen dan interior panggung di kegiatan ini, tercermin ragam elemen yang menggambarkan harmoni peradaban dan budaya. “Saya hampir selalu memakai model baju dengan kerah baju khas Betawi, yang biasa disebut kerah sanghai. Kalau bicara Betawi, ini adalah wilayah yang pertama kali diklaim Belanda sebagai koloninya secara resmi. Selain orang Belanda, tulang punggung dari sistem Betawi adalah orang-orang keturunan Arab dan Cina,” papar Gus Yahya.

Ia menyebut keseimbangan Arab dan Cina di Betawi tersebut membuat Betawi besar dan harmoni. Kalau tidak ada Arab dan Cina, Betawi mungkin bisa bubar dan menjadi bukan Betawi.

Budaya Betawi yang khas itu tampak dalam beberapa hiburan yang ditampilkan dalam pembukaan rakernas. Ada tradisi lisan palang pintu yang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya takbenda Indonesia, musik ketimping, dan musik gambus. Ditampilkan pula satu pertunjukan yang hampir punah yaitu ngabuleng, oleh seniman Betawi, Suaeb.

Lesbumi tidak Membuat Produk

Selain menyampaikan hal-hal global terkait kebudayaan, Gus Yahya mengingatkan kembali desain besar PBNU. Bahwa lembaga-lembaga di PBNU adalah struktural pembuatan kebijakan. Hierarti kebijakannya dimulai dari kebijakan umum dan ke bawah makin terperinci.

Baca juga:  Harlah Lesbumi ke-56: Kebudayaan Pesantren dan Fungsi Politisnya

Oleh karena itu, lembaga-lembaga tersebut tidak diharapkan untuk membuat atau menciptakan produk-produk kegiatan, akan tetapi mendorong tumbuhnya produk kegiatan di lingkungan jamaah NU dan masyarakat luas. Terkait Lesbumi, tugasnya adalah membangun agenda bagaimana seni budaya dikembangkan di lingkungan NU. Selain itu juga membuat regulasi dan haluan agenda arah program yang harus dikembangkan.

“Aktor-aktor lapangannya siapa? Kita mobilisasikan terutama dari badan-badab otonom yang ada, misal Muslimat, Fatayat, Ansor, Ishari, JIH. Mereka itulah yang menjadi pelaksana di lapangan. Jangan berpikir seni budaya dalam pengertian membuat produk, tapi membangun narasi,” tegas Gus Yahya.

Pelajaran dari almarhum Mbah Maemoen Zubair yang mengulik ayat terakhir dari Surat Al-Fath, kembali Gus Yahya sampaikan, karena ayat tersebut sangat menarik. Terdapat dua bagian dalam ayat tersebut dan dipisah di tengah memakai kata dzalika. Dzalika matsluhum fit taurati, lalu wa matsaluhum fil injil. “Itu menggambarkan dua era yang terpisah satu sama lain”.

Kemudian dilanjutkan dengan kazar’in akhroja syathahu faazarohu .... terjemahannya adalah benih padi-padian yang mengeluarkan tunas2 yang menumbuhkan tunas-tunas lalu tunas-tunas itu makin kuat. ” Akhirnya tumbuh di mana saja seluas peradaban kita,” kata Gus Yahya.

Jika kita melihat, kurang dari 50 tahun saja, wadah peradaban Nusantara yang tadinya didominasi Hindu Budha serta keyakinan lokal, kemudian berubah menjadi kaya karena ada wajah peradaban Islam. Kita membawa panji-panji dari era kedua peradaban Islam. Jika dunia ingin melihat peradaban, dunia akan melihatnya di Nusantara. Ini tentang memikul tanggung-jawab bersama.

Baca juga:  Rakernas Lesbumi-NU di Setu Babakan: Tauhid Menumbuhkan Kebudayaan, Menyuburkan Pohon Kehidupan

Dalam sambutannya, Restu mengatakan bahwa visi dan misi Lesbumi NU sudah satu napas dengan pemajuan kebudayaan yang menjadi kebijakan Kemdikbudristek. Oleh karena itu, sinergi ke depan tetap harus makin dikembangkan. “Mari bersama-sama kita garap kebudayaan demi kehidupan yang berkelanjutan,” kata Restu.

Ketua Lesbumi NU M Jadul Maula menekankan perlunya mencontoh leluhur demi memajukan kebudayaan. Lesbumi itu beribu bumi dan berayah langit.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Scroll To Top