Sedang Membaca
Kepada: Para Ayah yang Baik (Pameran Lukisan Budi Karmanto)
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kepada: Para Ayah yang Baik (Pameran Lukisan Budi Karmanto)

Silmy Nonton Lukisan

Ayah yang baik mampu mengeksekusi banyak hal baik, sehingga hasilnya pasti akan baik. Mungkin ada yang menyanggah dengan nada bertanya, bagaimana dengan ibu yang baik? Bukankah ibu adalah bumi, tempat segala sesuatu disemai dan dipelihara? Semuanya betul. Menjadi manusia yang baik adalah keinginan semua orang. Namun, kali ini seorang Budi Karmanto ingin mengapresiasi para lelaki yang telah menjadi ayah yang baik, sekaligus melecut para ayah agar tetap menjadi baik.

Dalam pameran tunggal ke-9 yang dibuka pada Selasa, 18 Juli 2023 di Darmin Kopi, Duren Tiga Raya Jakarta Selatan, Budi Karmanto memilih 18 lukisan yang rata-rata berukuran 50X60 centimeter. Dengan tema “The Good Father”, Budi Karmanto yang akrab disapa Budi Kodok menggambarkan berbagai bentuk kasih sayang dan tanggung-jawab para bapak, kegiatan para bapak, hingga bagaimana para bapak mengatasi situasi sulit dalam hidup. Seperti khalayak ketahui, identitas lukisan Budi Kodok adalah kodok. Semua lukisan ada kodoknya, apakah kodok-kodok saja sebagai personifikasi para bapak, ataupun bapak bersama kodok.

Whatsapp Image 2023 07 09 At 22.30.06

“Ada ayah untuk sebutan di keluargaku, ada ayah yang bukan ayahku tapi sudah seperti ayahku sendiri, ada ayah yang mengayomi lingkungan kampung, dan lain sebagainya,” kata Budi Kodok. Ia menceritakan sosok ketua RW di tempat tinggalnya, Perumahan Taman Harapan Baru Bekasi, Pak Deden, yang kebapakan mengayomi warganya. “Seniman mau berkarya, ia bantu,” ujar Budi sambil menunjuk lukisan Pak Deden sedang bersama pelukis kodok.

Baca juga:  Wayang dari Kacamata Gus Dur: Medium Transformasi Nilai-Nilai Masyarakat

Benar jika pengalaman hidup yang dihayati mampu menjadi sumber inspirasi yang brilian. Tampak sederhana, tapi menyentuh kesejatian. Budi Kodok biasa bermain kartu remi bersama warga di pos satpam, dan pada perkembangannya mampu menjadi sarana hiburan dan persaudaraan. Saling mendoakan, dan di situlah Budi melihat bapak-bapak yang berbuat baik dengan caranya masing-masing. Sederhana.

20230718 203308 (1)
Budi Karmanto (memegang mikrofon) dan Puguh Warudju

Kurator pameran, Puguh Warudju menuliskan dalam catatan kuratorialnya, lukisannya menggambarkan citra kejenakaan, karakter personal yang prasaja. Intuisinya cukup tajam dalam membaca kelindannya fenomena sosial yang menghampiri dirinya dan keadaan aktual yang menghampar dewasa ini. Puguh, dosen Seni Rupa di FBS Universitas Indraprasta Jakarta telah mengenal Budi dengan segudang karya yang semua pasti ada kodoknya itu. “Seakan fabel visual itu makin kontemporer,” katanya.

Kodoknya Makin Bagus

Kurator dan pelukis Syakib Sungkar memuji kekonsistenan Budi Kodok dalam menggambarkan identitas dirinya. Dulu ia menentang perupa yang menciptakan identitas dalam kartanya, misalnya Budi Karmanto yang selalu menggambar kodok. Ia memandang hal itu tidak perlu, karena seharusnya pelukis akan menggambarkan apa pun dengan gayanya tanpa harus menekankan identitasnya secara nyata.

“Tapi itu dulu, sekarang saya ralat. Budi Karmanto dengan lukisan kodok adalah pilihannya dan itu kita hargai. Saya akui, kodoknya makin bagus,”katanya.

Baca juga:  Lukisan Nabi Muhammad dalam Lintasan Sejarah
20230718 205114
Kodok-kodok yang baik

Menciptakan identitas (bukan semata ciri khas) bukan perkara gampang, karena harus konsisten. Sejak pameran tunggal pertama tahun 1994 di Hilton Executive Club Jakarta bertema “Dalam Diam Ada Gerak, Dalam Gerak Jangan Diam”, sudah berapa ratus kodok dilukis. Kodok cantik, kodok ganteng, anak kodok, kodok dengan aneka rupa warna, kodok tertawa, kodok menangis.

Satu lukisan yang menjadi pilihan saya adalah kodok dengan bayangannya. Narasinya, “Mengejar bayangan yang ada di depan adalah sesuatu yang tak mungkin, tapi buat seorang ayah semua itu adalah tanggung-jawab, untuk kehidupan yang lebih baik demi anak dan istri”.

Bisa jadi tidak ada hidup yang ideal, karena hanya tepat jika tetap di alam ide. Hidup selalu tidak sempurna. Dalam perjalanannya, muncul kesadaran tentang Tuhan yang Maha Baik, yang membimbingnya agar terus menjadi ayah yang baik. Puguh melihat karya-karya Budi di pameran ini juga sebentuk apresiasi pada dirinya sendiri, yang telah menuntaskan pendidikan dua anak tertuanya hingga mandiri dan anak bungsunya sudah masuk perguruan tinggi pula.

Bagi pecinta seni rupa dan penasaran dengan lukisan kodok Budi Kodok, silakan datang ke Darmin Kopi. Pameran berlangsung hingga tanggal 31 Juli 2023.

 

 

 

 

 

Baca juga:  Selir dalam Islam (2): Harem dalam Catatan Lady Mary Mortley Montagu

 

 

 

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top