Sedang Membaca
Meneroka Agama di Zaman Silikon

Meneroka Agama di Zaman Silikon

Ren Muhammad

Manakala bertandang ke beberapa masyarakat ulayat yang masih bertahan di negeri Khatulistiwa ini, kami sering kali tercenung menyaksikan pola hidup yang mereka jalani. Dalam komunitas itu tak dikenal istilah stres. Putus asa. Ancaman bom. Masyarakat tan rumah. Kejahatan. Tawanan. Makanan sampah. Polusi. Utang luar negeri. Pun kemiskinan. Padahal warga dunia modern menyebut mereka: primitif.

Mereka memang kerap disambangi kelompok masyarakat dari mana saja. Terutama yang berasal dari perkotaan. Orang kota melihat mereka sebagai artefak dari masa lalu. Sementara mereka yang dituduh hidup primitif itu, malah betah dengan “ketertinggalannya dalam laju peradaban”.

Lebih unik lagi, satu dan yang lainnya tak saling memengaruhi. Usai saling bertemu, kedua golongan ini sama-sama melanjutkan jalan yang sudah ditempuh. Kendati lebih sering kenyataannya, orang-orang dari kota teramat ingin bisa hidup seperti masyarakat ulayat itu.

Kami ingin mengajak rekan pembaca sekalian melatih nalar dan imajinasi barang sejenak. Anda kami tawari dua paket liburan wisata.

Pertama, Paket Zaman Batu. Pada hari perdana, Anda akan mendaki selama sepuluh jam di sebuah hutan perawan, mendirikan tenda untuk menginap malam itu di sebuah dataran dekat sungai.

Pada hari kedua, Anda akan naik kano menyusuri sungai selama sepuluh jam, lalu berkemah di tepi sebuah danau kecil. Pada hari ketiga, Anda akan belajar dari penduduk asli untuk memancing di danau dan mencari jamur di hutan terdekat.

Kedua, paket Zaman Modern. Hari pertama, Anda akan bekerja selama sepuluh jam di sebuah pabrik tekstil sarat limbah-polusi, melewatkan malam dalam blok apartemen kumuh. Hari kedua, Anda akan bekerja selama sepuluh jam sebagai kasir di pusat belanja modern, pulang untuk tidur di blok apartemen yang sama. Hari ketiga, Anda akan belajar dari penduduk asli cara membuka rekening bank dan mengisi formulir pengajuan kredit rumah, juga kendaraan.

Manakah dari kedua paket liburan itu yang akan Anda pilih?

Berdasar catatan ilmiah para saintis, dunia kita setidaknya telah melintasi beberapa fase yang merentang panjang ke belakang sana. Manusia masa lampau telah memulainya dari Zaman Batu. Dilanjutkan Zaman Perunggu. Dientaskan oleh Zaman Besi, dan kini kita semua berada tepat di jantung Abad Informasi. Lazim juga dikenal sebagai Zaman Silikon. Nyaris semua yang berhubungan dengan pranata hidup kita hari ini, masuk ke dalam sistem itu.

Baca juga:  Shulhul Jama'atain: Bantahan Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau untuk Sayyid Utsman Batavia (1893)

Masa jaya dewa-dewi sudah tertinggal dalam mitos. Bahkan perangkat keagamaan pun sisa jula-juli saja. Kita membutuhkan agama hanya sebagai pelarian dari masalah dunia yang membentur dalam pikiran yang sesak. Berdentam-dentam menghajar perasaan yang sengak.

Ritus keagamaan tak lagi ampuh sebagai pusaka. Orang-orang beragama malah menggemari retreat di puncak gunung. Menghadiri majelis akbar saban pekan demi mendapatkan siraman jiwa. Lantas apakah dampak dari laku beragama kita sehari-hari?

Banyak orang kesulitan mencari makna hidupnya sendiri. Dunia jungkir balik yang kita hadapi, telah jua menjerumuskan bangunan makna yang terpatri dalam simbol & metafora lama. Hari ini kita sedang berurusan dengan jaringan logaritma internet. Apa yang ditampakkan piksel, tidak sebagaimana yang sejatinya.

Anda boleh tersenyum lebar dalam foto yang diunggah ke akun Instagram—di sebuah lokasi wisata ternama. Warganet pun akan berlomba membubuhkan tanggapannya. Tapi Anda tetap tak bisa menyembunyikan jeratan utang hipotek yang harus ditanggung seumur hidup.

Mengamati rekam jejak dunia kita setengah abad silam, bolehlah kiranya kita nyatakan bahwa kekacauan terparah peradaban manusia modern disebabkan oleh mereka yang mengaku sebagai umat beragama. Entah itu Muslim, Nasrani, Yahudi, Hindu, Buddha, Sikh, dan lainnya. Sudah tak terhitung lagi jumlah korban kebiadaban yang mengatasnamakan agama itu dalam kancah perang global di Timur Tengah sana.

Ironisnya, Saudi Arabia yang menjadi tonggak kelahiran agama rahmat, Islam, malah turut terlibat dalam perang berantai yang tak pernah jelas juntrungannya. Mereka memerangi Syiah yang dianut sebagian besar warga negara Iran. Namun juga menerima visa kunjungan mereka saat menunaikan ibadah haji setahun sekali. Absurd.

Baca juga:  Bencana Kepandiran Manusia

Amerika pun sama tak jelasnya. Mereka mendaku sebagai umat Kristian pecinta kasih-sayang. Namun dalam setiap peperangan yang sudah dan masih berkobaran, mereka adalah pemantik api pertikaiannya.

Penganut Yahudi tak kalah sengit menantang perseteruan di mana saja mereka bisa. Selalu saja ada faksi-faksi kecil yang mereka danai untuk saling berbunuhan, atas nama kebenaran agama. Padahal mereka mengaku sebagai bangsa pilihan Tuhan.

Kami tidak sedang menunjuk agama sebagai biang kerok kehancuran manusia. Tidak. Kami hanya sedang mengajukan pertanyaan sederhana, yang menuntut jawaban adekuat. Sebab telah ada kabar dari Langit tentang hidup manusia dari masa ke masa:

“Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang sebelum mereka—yang lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekasannya di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong sama sekali.” (QS. al-Mu’min [40]: 82)

Keindahan Hidup

Pusparagam kehidupan manusia sejak zaman awal kakinya menginjak bumi, melulu tentang pertanyaan tentang kehadiran. Kenapa kita harus di sini, padahal sebelumnya di langit? Mengapa kita harus lahir bila kemudian mati? Siapakah kita sesungguhnya? Apakah kita akan bagaimana?

Harus kita bagaimanakan hidup yang hanya sekelebat ini? Senda gurau sajakah ini semua? Merujuk pada Alquran surah Muhammad [47] ayat 36, sayangnya jawaban pertanyaan terakhir itu adalah, iya.

Baca Juga

Segelintir pertanyaan itulah yang kelak memantik pikiran menyembul dari sarangnya. Seorang pemuda Kan’an gamang merenungi penciptaan. Jadilah ia Ibrahim sahabat Tuhan. Sakyamuni gelisah dengan karma. Ia pun menjelma Buddha Gautama.

Seorang manusia Iram merenungi kejahatan dan kebaikan. Hidup menuntunnya pada Zaratustra. Lelaki Athena tekun mencari dirinya sendiri di tengah kemunafikan. Sejak itu ia dikenang sebagai Socrates yang begawan.

Anak Nazaret bergelut dengan nafsu angkara. Maryam mengurapinya menjadi Isa Sang Mesiah. Pangeran Makkah dilamun gundah gulana menyaksikan kebobrokan masyarakatnya, ia berubah Muhammad kekasih Tuhan. Khawarizmi tenggelam dalam bangunan alam semesta. Ia menemukan matematika.

Baca juga:  Pendidikan Agama Perlu Dihapus atau Hanya Butuh Pembaharuan?

Seorang Yahudi menyenangi keajaiban ruang-waktu. Kita mengenalnya sebagai Einstein. Anak Jawa kelahiran Jombang gelisah tiada tara melihat perpecahan umat manusia. Ia pun tampil sendiri sebagai pembela. Dunia mengenalnya sebagai Gus Dur.

Mereka semua sekadar perwakilan belaka dari panggung dunia fana. Hidup akan terus menawarkan keniscayaan baru. Sekian kemungkinan tak hingga yang tiada sudah. Hidup manusia adalah apa yang ia pikirkan. Bukan kerana berpikir maka ia ada, namun ke-ada-annya adalah tentang pikiran yang memikirkan dirinya sendiri yang sedang berpikir. Afala tatafakkarun.

Keunikan itulah yang menyublim dalam keragaman. Kita jadi berbeda. Meskipun tiap manusia tampak sama. Kita jadi seolah sama. Padahal jelas berbeda. Pikiran yang bijak bestari pasti menumbuhkan keindahan sejati. Siapa pun yang berhasil menemukan pikiran nan indah, ia menjelma kehidupan berbunga-bunga.

Kita perlu merenung lebih dalam terkait agama—Islam misalnya, yang sudah melintang hampir selama satu setengah milenium dalam kancah adab manusia. Kenapa Islam yang semula hadir sebagai mata air jernih kemanusiaan, kini penganutnya tergeragap mengikuti perkembangan zaman?

Kendati masih ada, namun sudah sedikit sekali kita dapati para kumara mendalami laku hidupnya di puncak gunung. Para sêsanti yang menggali khazanah igamanya di hutan rimba belantara, di bawah bimbingan seorang Rsi sejati.

Kini agama adalah data yang diolah jadi informasi. Anda bisa mengaksesnya kapan saja, sesuka hati. Lalu gunakanlah sebagai dalil tuk menghakimi liyan.

Sebelum kami pungkasi risalah kecil ini, mari kita simak sebuah siloka yang ditinggalkan leluhur kita dari masa nun jauh di sana, “Dididik di gunung sangkan teu adigung, diatik di leuweung sangkan teumalaweung: Dididik di gunung agar tidak sesumbar, diajar di hutan agar tidak melantur.”

Pertanyaannya, gunung dan hutan apakah yang dimaksudkan siloka tersebut? Silakan Anda pecahkan maknanya. Kami mau undur diri. Rahayu. []

Depok, 22 Februari 1941 Çaka

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top