Sedang Membaca
Romo Louis Leahy dan Manusia Rohani
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Romo Louis Leahy dan Manusia Rohani

Ulil Abshar Abdalla

Waktu saya mengambil kelas “extension course” filsafat dan teologi di STF Driyarkara dulu (pada tahun 90an awal), ada seorang dosen filsafat di sana yang menarik perhatian saya, baik melalui buku-bukunya, kuliah-kuliahnya, maupun gaya hidupnya. Siapa dia?

Dia adalah Louis Leahy, seorang pater Jesuit yang berasal dari Kanada, tetapi kemudian tinggal dan mengajar dalam waktu yang lama di Vietnam dan, belakangan, di Indonesia. Selain di STF, dia, waktu itu, juga mengajar di UI. Ia wafat tahun 2012. Warisannya masih bisa kita nikmati, yakni lebihn dari 20 buku, tak kurang dari 10 bukunya berbahasa Indonesia, selebihnya ada yang berbahasa Prancis dan Vietnam (memang pernah tinggal di Vietnam).

Buku pertama Romo Leahy yang langsung menarik perhatian saya kala itu adalah karya dia yang berjudul “Aliran-Aliran Besar Ateisme: Tinjauan Kritis”. Buku ini saya baca dengan penuh antusiasme. Buku ini jelas ditulis dari posisi seorang beriman (lah wong Prof. Leahy ini seorang “romo”, masak ndak beriman?) sebagai kritik atas paham-paham yang cenderung ateistik dalam pemikiran Barat.

Selain membaca buku ini, saya juga ikuti kuliah-kuliah dia, terutama yang berkenaan dengan ateisme. Buku lain yang ditulis oleh Romo Leahy dan menarik minat saya adalah “Manusia Sebuah Misteri: sintesa filosofis tentang makhluk paradoksal”.

Baca juga:  Saat Lebaran, Apakah Baca Buku Jadi Agenda?

Baca juga:

Hal lain yang menarik dari sosok ini adalah gaya hidupnya. Saya selalu melihat Romo Leahy (seorang profesor) datang dan pergi untuk mengajar di kampus STF (terletak di kawasan Rawasari, Cempaka Putih) dengan mengendarai sepeda onthel.

Bagi saya, ini pemandangan yang ganjil: seorang profesor, mengajar di ibukota dengan mengendarai sepeda onthel yang sudah tua. Saya jadi ingat guru ilmu balaghah (teori sastra Arab) di kampung dulu, Kiai Yasir, yang juga pulang-pergi ke sekolah dengan “ngonthel”.

Di kampung saya di Pati, tahun 80an, ngonthel adalah hal yang lazim. Tetapi ini di ibu kota, kok ada seorang dosen mengajar dengan mengendarai sepeda. Ganjil sekali.

Tetapi keganjilan ini sekaligus menimbulkan rasa kagum dan respek pada diri saya terhadap Romo Leahy. Saya mengagumi kesederhanaan ini.

Tetapi, yang lebih mengagumkan lagi adalah cara dia membahas dan menganalisis suatu masalah, terutama masalah ketuhanan. Meskipun bahasa Indonesia jelas bukan bahasa ibunya (bahasa pertama Romo Leahy adalah Prancis), tetapi Romo Leahy bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan sangat baik, gamblang, tidak mbulet, padahal bidang yang dia bahas potensial melahirkan ulasan yang ruwet, yaitu filsafat agama.

Baca Juga

Dua buku yang saya sebut tadi merupakan kritik atas ateisme, tetapi, ini yang saya suka, kritik Romo Leahy atas ateisme tidaklah kritik yang polemis, tidak kritik yang kesannya mau “gelut” –kecenderungan yang meluas di era medsos sekarang ini. Kritiknya tajam, tetapi “humble”, andap asor.

Buku yang kedua, yaitu “Manusia Sebuah Misteri” sangat saya suka karena merupakan kritik atas kecenderungan yang deterministik dalam perkembangan filsafat dan pengetahuan modern, terutama sains kealaman.

Dulu, agama sering dicemooh karena sebagian mengajarkan wawasan teologis yang cenderung “Jabariah”, deterministik. Tetapi, anehnya, kecenderungan “Jabariah” ini sekarang meluas dalam percakapan sains modern. Jadi, jabariyyah relijius ditinggalkan, digantikan dengan Jabariah saintifik (science-based determinism).

Di mata Romo Leahy (dan saya setuju), paham Jabariah, baik atas nama agama atau sains modern, keduanya berlawanan dengan martabat manusia yang dikaruniai Tuhan dengan kebebasan kehendak yang menjadi fondasi dari “taklif” atau tanggung jawab moral.

Jabariah dalam bentuk apapun adalah dehumanisasi, merendahkan manusia. Dan oleh karena itu, bukan jalan yang lurus untuk menjadi “manusia rohani”.

Lihat Komentar (1)

Komentari