Sedang Membaca
Sabilus Salikin (32): Zikir (2)

Sabilus Salikin (32): Zikir (2)

Redaksi
Sabilus Salikin (21): Pembahasan Tasawuf

Zikir sendiri terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan tingkat atau derajat, yaitu sebagai berikut:

وَالذِّكْرُ وَهُوَ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: ذِكْرُ الْعَامِّ وَهُوَ بِاللِّسَانِ وَقَلْبُهُ غَافِلٌ، وَذِكْرُ الْخَاصِّ وَهُوَ بِاللِّسَانِ وَقَلْبُهُ حَاضِرٌ، وَذِكْرُ اْلأَخَصِّ وَهُوَ بِالْقَلْبِ حَاضِرٌ، (جامع الأصول في الأولياء، ص: 78).

Tiga kategori tersebut adalah:

1) Zikirnya orang awam, yaitu dengan lisan, sedangkan hatinya lupa.

2) Zikirnya orang khash (khusus), yaitu dengan lisan sedangkan hatinya hadir,

3) Zikirnya orang akhash (paling khusus), yaitu dengan hati yang hadir (tanpa lisan), (Jami’ul Ushul fil Auliy’, halaman: 78).

Baca juga:  Sabilus Salikin (31): Zikir (1)

Selain itu, dijelaskan pula empat pembagian zikir yang diterangkan di dalam kitab Nasy’atut Tasawuf;

  1. Zikir dengan lisan
  2. Zikir dengan qalbi
  3. Zikir dengan sirrî
  4. Zikir dengan h

Apabila “zikir ruh” sudah benar, maka “zikir sirri”, qalbi, dan lisan akan diam dari zikir. Inilah yang kemudian disebut dengan zikir musyahadah. Dan apabila “zikir sirri” sudah benar, maka hati dan lisan diam tidak berzikir dan hal ini disebut dengan zikir haibah dan apabila zikir qalbi sudah benar, maka lisan akan lamban untuk berdikir dan inilah yang disebut dengan zikir allai dan zikir na‘mai. Dan apabila hati lupa ber-zikir, maka yang zikir adalah lisannya dan hal ini disebut dengan zikir ibadah, (Nasy’atu al-Tasawuf al-Islami, halaman: 162).

Kemampuan hati dapat terasa dan semakin jernih tatkala secara ajeg dan rutin terus diajak untuk berzikir. Zikir tidak hanya menjadikan hati lebih jernih, zikir juga bisa menjadi obat penenang tatkala hati sedang gunda. Segala penyakit hati seperti hasud, sombong, buruk sangka, dan berbagai penyakit hati lainnya dapat sembuh dengan zikir.

قَالَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ: ذِكْرُ اللهِ شِفَآءُ الْقُلُوْبِ، (جامع الأصول في الأولياء، ص: 164)

Nabi SAW bersabda: Berzikir kepada Allah SWT adalah pengobat hati, (Jami’ul Ushul fi al-Auliya’, halaman: 163).

Disamping zikir menjadikan hati tenang, zikir juga menjadikan hidup seseorang menjadi lebih mudah. Sebagaimana hal ini sering kita jumpai pada orang-orang khash, hidup mereka lebih tentram dan tenang, hidup mereka sederhana namun tercukupi.

وَقَالَ: «مَجَالِسُ الذِّكْرِ تَنْزِلُ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَتَحُفُّ بِهِمْ الْمَلآئِكَةُ وَتَغْشَاهُمْ الرَّحْمَةُ وَيَذْكُرُ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ»….وَقَالَ: «وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا»، (جامع الأصول في الأولياء، ص: 165).

Rasulullah SAW bersabda: “Majelis zikir diturunkan kepada mereka ketenangan, para malaikat mengitari mereka, mereka diliputi Rahmat, dan Allah SWT pun berzikir di Arsy-Nya”….. Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa berpaling dari zikir kepada-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit”, (Jami’ul Ushul fi al-Auliya’, halaman: 165).

وقال: لَمْ أَجِدْ السُّرُوْرَ إِلَّا فِى ثَلَاثِ خِصَالٍ: التَنَعُّمُ بِذِكْرِ اللهِ، وَاليَأْسُ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَالطُّمَأْنِيْنَةُ قَبْلَ أَنْ تَتَرَكَّهُ.

Yahya bin Muadz berkata, “aku tidak menemukan kebahagiaan kecuali tiga hal. (a) menemukan kenikmatan dalam berzikir. (b) putus asa dari manusia. (c) merasa tenang dengan zikir yang dijanjikan Allah”, (Hilyatul Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, juz 8, halaman: 129).

Baca juga:  Sabilus Salikin (8): Tarekat, Teknik Berzikir Efektif

Salah satu keuntungan yang didapat dari majelis zikir adalah adanya jaminan keselamatan akhirat bagi siapapun yang turut serta dalam majelis itu. Baik yang ahli ibadah, maupun yang tidak, Allah SWT akan memenuhi permintaan dan memberikan ampunan bagi setiap orang yang turut serta dalam majelis zikir tersebut.

Baca Juga

وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ لِلهِ مَلاَئِكَةً سَيَّارَةً فُضْلًا يَتَّبِعُوْنَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوْا مَجْلِسًا فِيْهِ ذِكْرٌ قَعَدُوْا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَؤُوْا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَإِذَا تَفَرَّقُوْا عَرَجُوْا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ فَيَسْأَلُهُمْ اللهُ  عَزَّ وَجَلَّ – وَهُوَ أَعْلَمُ – : مِنْ أيْنَ جِئْتُمْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي اْلأَرْضِ، يُسَبِّحُوْنَكَ ويُكَبِّرُوْنَكَ وَيُهَلِّلُوْنَكَ وَيَحْمَدُوْنَكَ وَيَسْألُوْنَكَ. قَالَ: وَمَاذَا يَسْألُوْنِيْ؟ قَالُوْا: يَسْألُونَكَ جَنَّتَكَ. قَالَ: وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِيْ؟ قَالُوْا: لَا، أَيْ رَبِّ. قَالَ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِيْ؟ قَالُوْا: ويَسْتَجِيْرُوْنَكَ. قَالَ: وَمِمَّ يَسْتَجِيْرُوْنِيْ؟ قَالُوْا: مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ. قَالَ: وَهَلْ رَأَوْا نَارِيْ؟ قَالُوْا: لَا، قَالَ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِيْ؟ قَالُوْا: وَيَسْتَغفِرُوْنَكَ؟ فَيَقُوْلُ: قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ، وَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوْا، وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوْا. قَالَ: فَيَقُوْلُوْنَ: رَبِّ فِيْهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ. فَيَقُوْلُ: وَلَهُ غَفَرْتُ، هُمُ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ. (رياض الصالحين، ص 548)

Di dalam riwayat Muslim dikatakan, dari Abu Hurairah RA., dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Sungguh Allah mempunyai malaikat-malaikat yang mulia yang selalu berjalan-jalan mencari majelis zikir, apabila mereka mendapatkan suatu majelis yang dipergunakan untuk berzikir, maka mereka duduk di situ dan masing-masing malaikat membentangkan sayapnya, sehingga memenuhi ruangan yang berada di antara ahli zikir dan langit dunia. Apabila ahli zikir itu telah kembali ke rumah masing-masing, maka para malaikat itu naik ke langit, dan kemudian ditanya oleh Allah ‘azza wa jalla padahal Allah telah mengetahui: “Dari mana kalian datang?” Para malaikat menjawab: “Kami baru saja mendatangi hamba-Mu di bumi yang membaca tasbih, takbir, tahlil, tahmid dan memohon kepada-Mu.” Allah bertanya: “Apakah yang mereka minta?” Malaikat menjawab: “Mereka minta surga.” Allah bertanya: “Apakah mereka pernah melihat surga-Ku?” Para malaikat menjawab: “Belum pernah.” Allah bertanya: “Bagaimana jika mereka pernah melihat surga-Ku?” Para malaikat menjawab: “Mereka juga mohon diselamatkan.” Allah bertanya: “Mereka mohon diselamatkan dari apa?” Para malaikat menjawab: “Dari neraka-Mu.” Allah bertanya: “Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?” Para malaikat menjawab: “Belum pernah.” Allah bertanya: “Bagaimana seandainya mereka pernah melihatnya?” Para malaikat menjawab: “Mereka juga memohon ampun kepada-Mu.” Allah berfirman: “Aku telah mengampuni mereka, maka Aku akan memenuhi permohonan mereka dan akan menjauhkan mereka dari apa yang mereka mohon untuk diselamatkan.” Para malaikat berkata: “Wahai Tuhan, di dalam majelis itu ada si Fulan, seorang hamba yang banyak berdosa, ia hanya lewat kemudian ikut duduk bersama mereka.” Allah berfirman: “Kepada Fulan pun Aku mengampuninya. Mereka semua adalah termasuk ahli zikir, yang tidak seorang pun yang duduk di situ akan mendapatkan celaka”, (Riyadhus-Shalihin, halaman: 548).

يَرْجُوْ النَّجَاةَ وَلَمْ يَسْلُكْ مَسَالِكَهَا v إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَاتَجْرِى عَلَى الْيَبِسِ

Seseorang berharap keselamatan namun tidak mau berjalan di jalan keselamatan. Sungguh, perahu tidak berjalan di atas daratan (Tanwir al-Qulub, halaman: 443).

Baca juga:  Sabilus Salikin (9): Lafal Dzikir yang Paling Utama

Berikut ini adalah Hadis yang menjelaskan etika berzikir dengan menggunakan tasbih;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِى عَمْرٌو أَنَّ سَعِيْدَ بْنَ أَبِى هِلَالٍ حَدَّثَهُ عَنْ خُزَيْمَةَ، عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ سَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ، عَنْ أَبِيْهَا: أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ: أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا اَوْ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: سُبْحَانَ اللهُ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِى السَّمَاءِ، وسُبْحَانَ اللهُ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِى الْأَرْضِ، وسُبْحَانَ اللهُ عَدَدَ مَا خَلَقَ بَيْنَ ذَلِكَ وسُبْحَانَ اللهُ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ، وَاللهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ، وَالْحَمْدُ لِلهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَلَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ مِثْلَ ذَلِكَ، وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ مِثْلَ ذٰلِكَ، (سنن أبى داود، ج 1، ص: 348).

Ahmad bin Shalih menceritakan kepadaku, Abdullah bin Wahbin menceritakan kepadaku, Amr mengabariku bahwa Sa’id bin Abi Hilal menceritakan kepadanya dari Khuzaimah, dari ‘Aisyah binti Sa’ad bin abi Waqash dari bapaknya ‘Aisyah: Sesungguhnya dia (ayahnya) bersama Rasûlullâh telah mendatangi seorang perempuan dan kedua tanganya terdapat biji kurma dan batu kecil (kerikil) untuk membaca tasbih, Nabi bersabda: “Aku mangabarimu dengan sesuatu yang lebih mudah (daripada biji kurma atau batu kecil) dan yang lebih utama? Nabi bersabda:

سُبْحَانَ اللهُ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِى السَّمَاءِ، وسُبْحَانَ اللهُ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِى الْأَرْضِ، وسُبْحَانَ اللهُ عَدَدَ مَا خَلَقَ بَيْنَ ذَلِكَ وسُبْحَانَ اللهُ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ، وَاللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ، وَالْحَمْدُ لِلهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَلَآ اِلَهَ إِلَّا اللهُ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ، وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top