Sedang Membaca
Sabilus Salikin (29): Zuhud
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sabilus Salikin (29): Zuhud

Redaksi
Sabilus Salikin (24): Taubat 2

Zuhud adalah kosongnya hati dari sesuatu yang tidak ada padanya (Risâlah al-Qusyairiyah, halaman: 116). Syaikh Dhiya’uddin Ahmad Musthafa al-Kamasykhânawi mendefinisikan zuhud menjadi tiga golongan. 

وَالزُّهْدُ وَهُوَ عَلىَ ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: فَزُهْدُ الْعَامِّ تَرْكُ الْحَرَامِ، وَزُهْدُ الْخَاصِّ تَرْكُ الْفُضُوْلِ مِنَ الْحَلاَلِ، وَزُهْدُ اْلأَخَصِّ تَرْكُ مَا يُشْغِلُهُ عَنِ اللهِ تَعَالَى.

Zuhud ada tiga macam. Pertama,  zuhud orang ‘awâm yaitu dengan meninggalkan yang haram. Kedua,  zuhud orang khâsh, yakni meninggalkan berlebih-lebihan dalam perkara halal. Ketiga,  zuhud orang akhâsh yaitu dengan meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkan (memalingkan) dirinya dari Allâh SWT, (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 76).

Tidak mudah tergiur dengan kenikmatan dan gemerlap dunia, akan menjadikan diri kita lebih nyaman, sehingga diri tak tersiksa dan hati pun menjadi tenang. Sebaliknya, menuruti keinginan nafsu dan mencintai seluruh kesenangan duniawi menjadikan diri semakin tersiksa, hati menjadi tidak tenang karena takut kenikmatan dunia yang dimiliki menjadi sirna.

Jika semua hal ini dapat kita pahami dengan baik, maka kita tidak akan mudah terbujuk oleh kepalsuan duniawi. Rasulullah bersabda;

اَلزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا يُرِيْحُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ، وَالرَّغْبَةُ فِي الدُّنْيَا تُطِيْلُ الْهَمَّ وَالْحَزَنَ.

“Zuhud akan membuat hati dan badan menjadi nyaman. Dan mencintai dunia semakin menambah kesedihan dan kesusahan”, (Faydh al-Qadîr, juz 4 halaman: 96).

Salah satu faedah zuhud adalah dicintai Allah dan dicintai manusia. Rasulullâh SAW bersabda:

عَنْ سَهَلْ بِنْ سَعِدْ: أَنَّ رَجُلًا اَتَى النَّبِيَ صلعم: فَقَالَ: يَا رَسُوْلُ اللهِ دُلُّنِيْ عَلَى عَمَلٍ اِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيْ اللهُ وَ أَحَبَّنِيْ النَّاسُ. قَالَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ. وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ.

Diriwayatkan dari Sahal bin Sa‘id, sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabî lalu bertanya: ”Wahai Rasûlullâh SAW tunjukkanlah kepadaku satu amal, yang ketika saya amalkan maka Allâh dan manusia mencintaiku”.

Rasûlullâh SAW menjawab: “Berzuhudlah di dunia, maka Allâh akan mencintaimu, berzuhudlah terhadap sesuatu yang dimiliki manusia maka manusia akan mencintaimu”.

Orang yang cinta harta benda menjadikan dirinya buta, tak kenal kawan, tak kenal keluarga. Harta lebih berharga baginya dibandingkan kawan dan keluarga yang dimilikinya. Demi harta, orang tersebut rela memutus tali persahabatan dan kekeluargaan karena cinta butanya pada dunia.

Seringkali kita temui di masyarakat, perpecahan keluarga yang disebabkan perebutan harta warisan, atau lahan bisnis yang semuanya tak lain adalah bagian dari gemerlap kenikmatan dunia.

Sementara itu, ada juga orang-orang yang lebih memilih untuk mengedepankan harta ketimbang pendidikan. Mereka menganggap bahwa harta yang melimpah akan menjadi jaminan kebahagiaan di masa mendatang.

Mereka lupa bahwa kenikmatan dunia yang mereka miliki, sewaktu-waktu dapat sirna dari genggaman mereka. Mereka juga lupa, bahwa harta melimpah tanpa diimbangi ilmu pengetahuan untuk mengelolanya, hanya akan menjadikan harta itu semakin menipis dan habis.

Mereka lebih memilih kaya harta, namun minim ilmu. Bukankah segala urusan baik urusan dunia maupun akhirat harus dipahami ilmunya?

Dua hal di atas, mementingkan kenikmatan dunia dan merelakan keadaan yang minim ilmu (bodoh) adalah dua hal yang kemudian oleh Abu Hasan al-Syadzili dipandang sebagai hal yang sangat berbahaya yang dapat menjadikan seseorang itu celaka.

وَقَالَ: لَا كَبِيْرَةَ عِنْدَنَا إِلَّا فِي اثْنَيْنِ حُبِّ الدُّنْيَا بِالْإِيْثَارِ وَالْمَقَامِ عَلَى الْجَهْلِ بِالرِّضَا، لِأَنَّ حُبَّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ كَبِيْرَةٍ، وَالْمَقَامُ عَلَى الجَهْلِ أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ، (جامع الأصول في الأولياء، ص: 45).

Abu Hasan al-Syadzili berkata: Tidak ada kerusakan yang besar bagiku kecuali dua perkara. Yaitu, memilih cinta dunia dan rela dengan deRajad kebodohan. Karena, mencintai dunia merupakan pangkal setiap dosa besar dan kebodohan adalah pangkal setiap kemaksiatan, (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 45).

Dunia ini, jika semakin kita terus membenamkan diri di dalamnya, maka semakin dalam kita terjerumus dalam kepalsuannya. Sebaliknya, jika kita menggunakan dunia ini sebatas kebutuhan kita untuk mengabdikan dan menyembahkan diri kepada Allâh SWT, maka dunia ini yang akan mencari dan mengabdi kepada kita.

Betapa banyak orang-orang yang mengabdikan dirinya kepada Allâh SWT, hidup mereka tentRAm, serba kecukupan. Dunia menjadi pelayan mereka, bukan mereka yang menjadi pelayan dunia. Hal ini sesuai dengan firman Allâh SWT kepada dunia ketika menciptakannya: “Barangsiapa mengabdi kepada-Ku, maka layanilah dia. Dan barangsiapa mengabdi kepadamu (dunia), maka mintalah pengabdiannya”.

فَمَنْ أَرَادَ اللهُ أَنْ يَتَّخِذَهُ وَلِيًّا كَرِهَ إِلَيْهِ الدُّنْيَا وَوَفَقَهُ لِلْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَسَهَّلَهَا عَلَيْهِ كَمَا وَقَعَ لِبَعْضِهِمْ فَإِنَّهُ خَرَجَ يَتَصَيَّدُ فِى بَرِيَةٍ وَإِذَا شَابٌ رَاكِبٌ أَسَدًا وَحَوْلَهُ سِبَاعٌ فَلَمَّا رَأَتْهُ اِبتَدَرَتْ نَحْوَهُ فَزَجَرَهَا الشَّابُ ثُمَّ قَالَ: مَا هَذِهِ الْغَفْلَةُ؟ اِشْتَغَلْتَ بِهَوَاكَ عَنْ أُخْرَاكَ وَبِلَذَّتِكَ عَنْ خِدْمَةِ مَوْلَاكَ، أَعْطَاكَ الدُّنْيَا لِتَسْتَعِيْنَ بِهَا عَلَى خِدْمَتِهِ فَجَعَلْتَهَا ذَرِيْعَةً لِلْاِشْتِغَالِ عَنْهُ، ثُمَّ خَرَجَتْ عَجُوْزٌ بِيَدِهَا شُرْبَةُ مَاءٍ فَشَرِبَ وَنَاوَلَهُ فَسَأَلَهُ عَنْهَا فَقَالَ: هِىَ الدُّنْيَا وُكِّلَتْ بِخِدْمَتِيْ. أَمَّا بَلَغَكَ أَنَّ اللهَ لَمَّا خَلَقَهَا قَالَ: مَنْ خَدَمَنِيْ فَاخْدِمِيْهِ وَمَنْ خَدَمَكَ فَاسْتَخْدِمِيْهِ. فَخَرَجَ عَنْ الدُّنْيَا وَسَلَكَ الطَّرِيْقَ وَصَارَ الْأَبْدَالَ، (تنوير القلوب، ص: 448).

Apabila Allâh SWT menghendaki seorang hamba untuk dijadikan kekasihnya, maka Allâh SWT akan menjauhkan dunia darinya, dan Allâh SWT memberikan pertolongan serta kemudahan baginya untuk melakukan amal-amal yang baik.

Sebagaimana terjadi pada seorang kekasih Allâh SWT Yaitu ketika dia keluar untuk berburu, tiba-tiba dia bertemu dengan seorang pemuda yang menunggangi harimau yang dikelilingi oleh binatang buas. Ketika hewan-hewan buas itu melihatnya dan hendak menerkamnya, maka pemuda tersebut mencegahnya.

Baca Juga
Sabilus Salikin (1): Islam, Tasawuf, dan Tarekat 1

Lalu pemuda itu berkata: Apakah ini tergolong lupa? Kamu sibukkan dirimu untuk menuruti hawa nafsu, kesenangan dunia dan meninggalkan akhirat serta meninggalkan pengabdian kepada sang pencipta. Allâh SWT memberimu dunia untuk membantumu dalam mengabdi kepada-Nya. Akan tetapi, engkau jadikan dunia ini sebagai perantara yang menyibukkan dirimu jauh dari-Nya.

Kemudian keluarlah seorang perempuan tua yang membawa air, pemuda itu pun meminumnya. Laki-laki itu bertanya kepada pemuda tentang perempuan itu, lalu pemuda itu berkata: “Dia adalah dunia yang dipasrahkan kepadaku karena pengabdianku (kepada-Nya). Tidakkah telah sampai kepadamu ketika Allâh SWT menciptakan dunia, lalu Allâh SWT berfirman: “Barangsiapa mengabdi kepada-Ku maka layanilah dia. Dan barangsiapa mengabdi kepadamu (dunia), maka mintalah pengabdian darinya”.

Setelah itu, laki-laki tersebut meninggalkan dunia dan menjalani tarekat, hingga dia menjadi seorang wali abdal, (Tanwîr al-Qulûb, halaman: 448).

Berikutnya adalah penjelasan Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi mengenai etika/akhlak seorang sâlik untuk tidak mencintai jabatan dan kedudukan;

وَمِنْهَا تَرْكُ حُبِّ الْجَاهِ وَالرِّيَاسَةِ لِأَنَّهَا قَاطِعَةٌ عَنْ طَرِيْقِ الْحَقِّ. عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ ضَارِيَانِ بَانَا فِيْ زُرَيْبَةِ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الشَّرَفِ وَالْمَالِ لِدِيْنِهِ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتُّرْمُذِىّ

Di antara tata krama seorang sâlik terhadap dirinya sendiri adalah meninggalkan cinta jabatan dan kepemimpinan. Karena hal itu menjadi pencegah dirinya dari jalan yang benar.

Diriwayatkan dari Rasûlullâh SAW: “Tiadalah dua harimau yang lapar lagi galak yang semalaman berada di kandang kambing itu lebih berbahaya daripada kerakusan seseorang pada kemuliaan dan harta atas agamanya”, (Tanwîr al-Qulûb, halaman: 533).

Dan selanjutnya adalah perintah atau anjuran bagi seseorang untuk menyembunyikan jati diri;

(اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِيْ أَرْضِ الْخُمُوْلِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لاَ يُدْفَنُ لاَ يَتِمُّ نِتَاجُهُ) لاَ شَيْءَ أَضَرُّ عَلَى الْمُرِيْدِ مِنَ الشُّهْرَةِ وَانْتِشَارِ الصَيْتِ لِأَنَّ ذَلِكَ مِنْ أَعْظَمِ حُظُوْظِهِ الَّتِيْ هُوَ مَأْمُوْرٌ بِتَرْكِهَا وَمُجَاهَدَةِ النَّفْسِ فِيْهَا وَقَدْ تَسْمَحُ نَفْسُ الْمُرِيْدِ بِتَرْكِ مَا سِوَى هَذَا مِنَ الْحُظُوْظِ وَمَحَبَّةُ الْجَاهِ وَإِيْثَارُ اْلاِشْتِهَارِ مُنَاقِضٌ لِلْعُبُوْدِيَّةِ الَّتِيْ هُوَ مُطَالَبٌ بِهَا قَالَ إِبْرَاهِيْمُ بْنُ أَدْهَمَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا صَدَّقَ اللهُ مَنْ أَحَّبَ الشُّهْرَةَ، (شرح الحكم، ج 1، ص: 11).

Pendamlah dirimu dalam kesamaran (tidak dikenal orang), karena sesuatu yang tumbuh dari yang tak dipendam tidak akan sempurna hasilnya. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi sâlik dibandingkan kemasyhuran (terkenal) diri dan nama, karena hal itu termasuk bagian terbesar yang diperintahkan untuk ditinggalkan dan memerangi nafsu di dalamnya, dan terkadang hati sâlik masih tolerir untuk meninggalkan selain kemasyhuran.

Mencintai jabatan dan memilih kemasyhuran itu bertentangan dengan tuntutan ibadah atas dirinya. Ibrâhîm bin Adham RA. berkata: “Allâh SWT tidak membenarkan orang yang mencintai kemasyhuran”, (Syarh al-Hikam, juz 1, halaman: 11).

Pada zaman Nabi, orang-orang yang zuhud, ahli ibadah, dan orang yang ahli taubat mempunyai beberapa keistimewaan yaitu senang dan bersungguh-sungguh untuk melakukan ibadah.  Mereka itu di antara adalah:

  • Abdullâh Ibnu Umarmelakukan puasa di siang hari dan ibadah malam harinya dan menghatamkan Alquran setiap malam, dia bercita-cita untuk tidak kawin.
  • Utsman bin Mazh’un, dia senang beribadah sehingga meninggalkan rumah dan tidak kawin
  • Bahlul Ibnu Dzu’aib, beliau datang kepada Nabi dalam keadaan menangis karena dosa-dosa yang telah dilakukan, apabila Allâh mengambilku dengan sebagian dosaku maka Aku akan selamanya berada di neraka Jahannam, kemudian saya pergi ke gunung untuk menghapus dosa-dosaku dengan mengikat kedua tangan ke leher menggunakan besi, kemudian dia mengeluh kepada Allâh : Ya Tuhanku Ya Tuanku, saya adalah Bahlul yang telah terbelenggu dengan Rantai yang mengakui terhadap dosa-dosanya.
  • Haula’ binti Tuait, beliau mengikat badannya dengan tambang agar supaya tidak tertidur dalam Rangka untuk beribadah dan Siti ‘Aiysh melaporkan hal tersebut kepada Nabi kemudian Nabi berkata: lakukanlah sesuatu sesuai dengan kemampuan karena Allâh itu tidak condong sampai kita condong kepadanya, dan amal yang dicintai oleh Allâh itu langgeng meskipun sedikit, (Nasy’atu al-Tasawuf al-Islâmî, halaman: 89).
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top