Sabilus Salikin (126): Tarekat Ahmadiyah

Redaksi

Tarekat ini dinisbatkan kepada seorang wali kutub (pemimpin wali) terkenal yang bernama al-Sayyid al-Hasib al-Nasib Abu al-Abbas Sayyid Ahmad al-Badawi al-Syarif Ra. Beliau masih keturunan Rasulullâh dari jalur Sayyidina Husain bin Ali.

Nasab beliau adalah sebagai berikut: Syaikh Ahmad al-Badawi bin Ali bin Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakar bin Isma’il bin Umar bin Ali bin Utsman bin Husain bin Muhammad bin Musa al-Kâdzim bin Yahya bin Isa bin Ali bin Muhammad bin Hasan bin Ja’far bin Ali bin Musa bin Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib Krw.

Sayyid Ahmad al-Badawi Ra. dilahirkan di kota Fes (dalam bahasa Arab Fas) Maroko pada tahun 596 H./1199 M. kakeknya hijrah dari kota Hijaz (Yaman) ke Maroko untuk menghindari penganiayaan al-‘Abasin untuk memuliakan al-‘Alawiyyin. Keluarganya menetap di negara Maroko dan bertempat tinggal di Fes pada tahun 535 H.

Kota Maroko sebagai saksi telah lahir Qutb al-Aqthâb Abi al-Fatyani Nadirat al-‘Ashri wa Ghauts al-Zaman (Sayyid Ahmad al-Badawi), (A’lâm as-Shûfiyah, halaman: 501). Kemudian pada tahun 603 H. Ali bin Ibrahim, ayahnya pergi meninggalkan Fez (Maroko) bersama dengan anak dan isterinya untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun 607 H. Ketika itu Syaikh Ahmad al-Badawi baru berusia 11 tahun.

Kemudian Syaikh Ahmad al-Badawi tinggal di Makkah dan dikenal dengan sebutan al-Badawi karena biasa memakai cadar. Beliau memakai dua cadar yang tidak pernah dilepas, Ketika ditawari menikah oleh saudaranya, ia menolak dan tidak menikah sama sekali. Lalu ia bimbing saudaranya itu dan disuruh mempelajari Alquran. Pada saat tinggal di Mekah ia terkenal sebagai pemberani sehingga dijuluki si pemberani dan si watak keras.

Baca Juga:  Sufi, Tafsir Mimpi, dan Imaginasi (1)

Setelah menghafal Alquran Syaikh Ahmad al-Badawi disibukkan dengan mencari ilmu. Untuk beberapa tahun lamanya ia mengikuti madzhab Syafi’i sampai terjadi sesuatu hal padanya kemudian ia tinggalkan itu semua. Jika memakai baju atau sorban, ia tidak melepasnya baik di waktu mandi atau waktu yang lainnya sampai sorban tersebut basah, setelah sorban yang ia kenakanan hancur barulah ia melepasnya dan mengganti dengan baju yang lain.

Dia juga tidak membuka kain cadarnya, kemudian Abdul Majid bertanya kepada dia: berilah tahu wajahmu kepadaku, dia berkata: “Kami membuka setiap pandangan dengan orang laki-laki”, kemudian Abdul Majid bekata: “Ya aku telah mengetahuinya, maka ketika mati bukaklah cadar ini”, kemudian beliau mati seketika, (al-Thabâqat al-Kubra, Juz 1, halaman: 185 dan al-Kawâkib al-Durriyah fi Tarjami al-Sâdat al-Shûfiyah, juz 2, halaman: 145).

Lalu terjadi suatu hal pada dirinya sehingga tingkahnya berubah dan menjauhi orang-orang dan selalu berdiam diri. Ia tidak berkata kecuali dengan bahasa isyarat. Senantiasa berpuasa dan bangun malam selama 40 hari ia tidak makan, minum, dan tidur kemudian turun dari tempat tidurnya. Dari waktu ke waktu ia selalu memandang ke langit sampai kedua matanya merah membara.

Kemudian mendengar suara berkata tiga kali: “Berdirilah dan berhadaplah ketempat munculnya matahari, ketika sudah menemukannya maka berhadaplah ke tempat tenggelamnya matahari”. Dia berjalan sampai ke kota Thanta (Mesir) tempat makam as-Sayyid Ahmad al-Badawi. Beliau keluar dari daerah Faisya al-Munarah kemudian anak-anak kecil mengikut beliau diantaranya yaitu bernama Abdul ‘Al dan Abdul Majid, (Nûr al-Abshâr, halaman: 261 dan al-Kawâkib al-Durriyah fi Tarjami al-Sâdat al-Shûfiyah, juz 2, halaman: 144).

Sebagian ulama yang arif berkata bahwa ia berhasil menyatukan segala konsentrasinya hanya pada Allâh Swt. Hal ini ia lakukan dari waktu ke waktu selalu mengalami peningkatan (Nûr al-Abshâr, halaman: 262. Lihat juga al-Kawâkib al-Durriyah fi Tarjami al-Sâdat al-Shûfiyah, juz 2, halaman: 144).

Baca Juga:  Sabilus Salikin (68): Silsilah Tarekat Qadiriyah

Ibnu al-Laban pernah mengingkarinya, maka dicabutlah Alquran, ilmu, dan iman darinya. Maka Ibnu al-Laban tidak henti-hentinya meminta pertolongan kepada beberapa orang wali. Namun tak seorang pun dari mereka mampu menolong sehingga mereka menunjuk Sayyid Yaqut al-Arsyi.

Lalu Sayyid Yaqut al-Arsyi mengajak Ibnu al-Laban berziarah ke makam Syaikh Ahmad al-Badawi. Di depan makam Syaikh Ahmad al-Badawi, Sayyid Yaqut al-Arsyi berkata, “Wahai Syaikh Ahmad al-Badawi, kembalikan modal orang ini.”

Dari dalam kubur Syaikh Ahmad al-Badawi menjawab, “Akan aku kembalikan dengan syarat ia bertaubat.” Ibnu al-Laban segera melaksanakan syarat tersebut. Ia bertaubat dari kesalahannya sehingga akhirnya dikembalikanlah aI-Qur’an, ilmu dan iman yang telah dicabut darinya (Jâmi’ al-Karâmât al-Auliyâ’, Juz 1, halaman: 416).

Imam al-Matbuli berkata, “Rasulullâh Saw. bersabda kepadaku, ‘Tidak ada wali di Mesir setelah Imam Syafi’i yang sangat pemaaf melebihinya (Syaikh Ahmad al-Badawi), lalu Sayyidah Nafisah, Syaikh Syarifuddin al-Kurdi, dan al-Manufi’” (Nûr al-Abshâr, halaman: 266).

Baca Juga
Sabilus Salikin (24): Taubat 2

Dengan terbukanya tabir Syaikh al-Badawi, ia mengetahui anak-anaknya yang akan lahir. Hal itu beliau lakukan untuk menguatkan hujjah atas muridnya agar dapat mengambil keputusan sendiri. Namun, jiwa murid tidak sekuat jiwa guru. Syaikh Ahmad al-Badawi selalu mendoakan muridnya hingga khudur.

Kemudian al-Badawi berkata, bahwa sesungguhnya Syaikh Muhammad al-Sarawi Ra adalah gurunya dan khudur beliau tertunda satu tahun. Beliau berkata bahwa tempat khudur Rasulullâh Saw, para nabi, sahabat, dan para wali itu sebagaimana khudur murid-muridnya.

Syaikh Muhammad Ra pun keluar ke tempat kelahirannya, dan menyaksikan orang-orang yang sedang pulang. Beliau terlambat berkumpul, lalu beliau menyentuh pakaian mereka, kemudian beliau bersembunyi di belakang mereka.

Sayyid Abdul ‘Aziz ketika ditanya tentang Sayyid Ahmad al-Badawi Ra, beliau menjawab,  “Dia adalah lautan yang tidak ditemukan dasarnya, berita dan kedatangan beliau dengan perjalanan malam itu dari Eropa, menolong seseorang dari perampok dan aku”.

Baca Juga:  Sufi Perempuan: Kurdiyah dari Bashrah

Sayyid Abdul ‘Aziz berkata, “Sungguh aku telah menyaksikan dengan mataku pada tahun 945 H, seseorang tawanan di menara Sayyid Abdul `Al Ra. Ia dibelenggu dan dirantai padahal dia adalah orang yang linglung”.

Syaikh Abdul ‘Aziz kembali berkata, “Pada suatu hari aku berada di Eropa pada akhir malam, aku menghadap kepada Sayyid Ahmad al-Badawi, tiba-tiba aku bersama beliau. Kemudian beliau membawa aku terbang dan menurunkan aku di sini, kemudian beliau diam selama dua hari, sedangkan kepala beliau terasa berputar di atasnya karena kuatnya sambaran” (at-Thabâqat al-Kubrâ, halaman: 264).

Lihat Komentar (0)

Komentari