Sedang Membaca
Cerita Masjid Agung Jatisobo di Sukoharjo
Penulis Kolom

Menulis dalam dua bahasa: Indonesia dan Jawa. Sekarang mukim di Tulungagung. FB: Zuly Kristanto, Instagram: zuly_kristanto

Cerita Masjid Agung Jatisobo di Sukoharjo

Kawasan Bekonang yang secara administrasi termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu tempat yang diistimewakan oleh Sunan Paku Buana (PB) IV dari Kraton Kasunanan Surakarta. Di sana banyak ditemukannya situs atau petilasan bangunan-bangunan yang dibangun oleh raja sekaligus pujangga dari Surakarta tersebut.

Di era sekarang hanya sedikit yang tersisa dalam keadaan utuh. Salah satu yang masih utuh dan lestari adalah sebuah masjid yang dinamakan Masjid Agung Jatisobo.

Masjid Agung Jatisobo merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Berdasarkan sejumlah catatan yang ada, masjid ini dibangun atas perintah Sunan Paku Buana IV yang saat itu memegang kendali Kraton Kasunanan Surakarta. Tujuan awal mula pendirian Masjid ini adalah untuk memfasilitasi salah satu ulama sekaligus penghulu dari Kraton Kasunanan Surakarta untuk ikut menyebarkan agama islam di kawasan Bekonang.

Baca juga:

Ulama sekaligus penghulu yang mendapat tugas itu bernama Kyai Ketib Biman. Dalam sebuah catatan disebutkan bahwa Kyai Ketib Biman adalah ulama kesayangan Sunan PB IV. Sehingga hampir semua keinginan sang ulama selalu dikabulkan oleh Sunan PB IV.

Sosok Kyai Ketib Biman dianggap sebagai salah satu ulama kesayangan oleh PB IV karena kelebihan sang ulama yang tidak banyak dimiliki oleh ulama-ulama lain.

Kelebihan yang membuat Kyai Ketib Biman dipandang istimewa oleh Sunan PB IV adalah kemampuannya dalam menghafal Alquran. Tidak itu saja, banyak ilmu-ilmu agama islam yang dikuasai dengan baik oleh Kyai Ketib Biman.

Baca juga:  Masjid Keramat: Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Awal mula kisah berdirinya Masjid Jatisobo atau yang juga dikenal dengan nama Kyai Ketib Biman adalah sebagai berikut: Setelah bertahun-tahun berada di dalam Kraton Kasunanan Surakarta, timbullah keinginan Kyai Ketib Biman untuk keluar dari lingkungan kraton dengan tujuan lebih banyak orang yang mengenal dan kemudian memeluk agama Islam.

Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya Sunan PB IV mengizinkan Kyai Ketib Biman keluar dari wilayah kraton sesuai dengan yang diinginkannya.

Saat itu tempat yang dipilih oleh Kyai Ketib Biman adalah sebuah daerah yang bernama Jatisari. Letak daerah ini berada di sebelah timur Bengawan Solo. Sesampainya ditempat ini Kyai Ketib Biman yang membuka pesantren memiliki murid yang sangat banyak.

Oleh karena tempat tinggalnya dirasa sudah tidak cukup lagi untuk menampung santri. Kyai Ketib Biman lantas mengajak para santirnya pindah ke sebuah tempat yang bernama Kayuapak.

Saat pergi ke daerah yang bernama Kayuapak ini Kyai Ketib Biman diikuti oleh beberapa santri yang masih setia dengannya. Sebenarnya tempat kedua yang ditempati oleh Kyai Ketib Biman ini tidaklah bernama. Ihwal pernamaan Kayuapak ini terjadi karena ada salah satu muridnya yang berasal dari Bagelen merasa heran dengan kayu besar yang dilihatnya.

Saat melihat kayu yang ukurannya sangat besar, santri tadi bertanya kepada kawannya, “Kanca, kayu samono dhuwur iku kayu apak?” (Teman, kayu yang setinggi itu kayu apa?”)

Baca juga:  Sejarah Umat Islam: Wabah Semakin Parah Setelah Berkumpul untuk Doa Bersama

Pertanyaan dari santri yang berasal dari bagelen kepada kawannya itu didengar oleh Kyai Ketib Biman. Dan sesudah itu sang kyai pun mengambil keputusan tempat yang sempat digunakan untuk istirahat itu diberinama Kayuapak.

Kyai Ketib Biman beserta santrinya tidak begitu lama berada di daerah yang bernama Kayuapak ini. Ada sesuatu yang membuat Kyai Ketib Biman memutuskan untuk memindahkan lagi tempat yang dijadikannya pesantren. Alasan yang membuat Kyai Ketib Biman memindahkan letak pesantrennya ini adalah keberadaan sungai yang sering digunakan santri-santrinya mandi terbilang curam dan menakutkan. Banyak santri dari Kyai Ketib Biman tewas saat akan mandi atau bersuci di sungai tersebut pada malam hari.

Banyaknya peristiwa yang mengancam jiwa santrinya ini membuat Kyai Ketib Biman berniat memindahkan pesantrennya di tempat yang kini dinamakan Jatisobo. Mulanya niatan tersebut hanya dipendam dalam hati saja. Akan tetapi meski dipendam dalam hati. Rupanya keinginan itu dapat dibaca oleh Sunan Paku Buwana IV. Dan benar saja, begitu niatan itu diketahui oleh raja yang sangat mencintainya. Kyai Ketib Biman pun dihadiahi sebidang tanah yang lumayan luas.

Menurut Mbah Ngisom, sebagai salah satu pewaris masjid agung Jatisobo, ia mengatakan bahwa dulu, Kyai Ketib Biman yang saat itu telah berada di daerah Jatisobo memiliki sebatang pohon Jati yang memiliki keanehan.

“Pohon jati tersebut sangatlah tinggi, sampai-sampai bayang-bayang dari pohon jati itu sampai ke dalam kraton. Bayang-bayang pohon jati yang sampai ke kraton itulah yang membuat nama desa ini dinamakan Jatisobo. Nama Jatisobo berasal dari Jatisebo yang berarti datang ke kraton. Jati yang unik ini diminta oleh raja dari Solo. Permintaan itu akhirnya dikabulkan. Dan sebagai imbalan atas kesediaan Kyai Ketib Biman memberikan pohon jati unik tadi. Kyai Ketib Biman diberikan sebatang pohon jati dengan ukuran sangat besar yang diambil dari Hutan Donoloyo.”

Baca juga:  Jejak-Jejak Erros Djarot: Dari Politik Seni hingga Konflik dengan Megawati

Menurut Mbah Ngisom pohon jati yang dijadikan pengganti dari tanaman jati yang diminta oleh pihak kraton ini sangatlah besar. Begitu besarnya ukuran kayu yang dijadikan ganti rugi. Satu batang kaya itu cukup digunakan untuk membangun Masjid Agung Jatisobo.

Pada mulanya bentuk dari Masjid Agung Jatisobo tidaklah seperti sekarang. Perubahan yang ada pada bangunan fisik dari Masjid Agung Jatisobo ini dikarenakan Sunan PB IV ingin Masjid Agung Jatisobo memiliki kesamaan bentuk dan wujud arsitektur dengan Masjid Agung Kraton Kasunanan Surakarta.

Keluarnya perintah lantas membuat Kyai Ketib Biman mengubah wujud bangunan masjid yang baru diselesaikannya. Perombaan yang dilakukan terhadap masjid agung tersebut membuat banyak perubahan. Hal yang paling mencolok adalah ukuran masjid agung menjadi lebih besar daripada ukuran yang semula. Dan setelah dirombak secara total wujud dari Masjid Agung Jatisobo sama dengan ukuran Masjid Agung Kraton Kasunanan Surakarta di era kepemimpinan Sunan PB IV. Sekilas kedua masjid agung tersebut hampir sama. Bedanya hanya terletak pada bagian tiang saja. Tiang masjid Agung Surakarta berbentuk bulat sedangkan masjid agung Jatisobo berbentuk persegi.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top