Sedang Membaca
Strategi Dakwah Rasulullah Saw Ketika yang Mualaf Masih Sedikit
Nur Hasan
Penulis Kolom

Mahasiswa Islamic Studies International University of Africa, Republic Sudan, 2017. Sekarang tinggal di Pati, Jawa Tengah.

Strategi Dakwah Rasulullah Saw Ketika yang Mualaf Masih Sedikit

Berbicara tentang strategi dakwah Rasulullah Muhammad saw ketika pengikutnya atau mualafnya masih segelintir orang, tentu tidak bisa lepas dengan bagaimana awal mula beliau mendapatkan wahyu. Ya, cara atau strategi dakwah tak jarang langsung dibimbing Allah Swt melalui malaikat Jibril.

Tepat ketika beliau berumur 40 tahun, ketika sedang berkontemplasi di Gua Hira, yaitu pada 17 Ramadan 11 M, Malaikat Jibril hadir menyampaikan wahyu pertama yaitu Bacalah Dengan Nama Tuhanmu yang telah mencipta atau surah al-Alaq ayat 1-5.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada awal turunnya wahyu yang diberikan kepada Rasululllah saw, isinya bukanlah sebuah perintah untuk menyeru kepada sebuah agama baru yang bernama Islam. Bahkan beliau juga belum diberitahu oleh Allah Swt, kalau beliau adalah utusan Allah Swt. Lantas apa dakwah pertama kali Rasulullah?

Tiada lain kecuali perintah membaca: Iqra! Bacalah!

Ayat tersebut mempunyai kesan luar biasa, yaitu perintah untuk membaca yang mempunyai arti yang sangat luas. Sehingga setelah mendapatkan wahyu tersebut, Rasulullah saw kembali ke rumah dengan keadaan gemetar. Namun, beliau kembali lagi ditemui Jibril, dan perintah untuk membaca sebagaimana wahyu yang diturunkan pertama tersebut.

Baca juga:

  1. Strategi dakwah Rasulullah Saat di Madinah
  2. Strategi dakwah Rasulullah Saat di Mekkah

Setelah turunnya wahyu tersebut, Rasulullah saw kemudian kembali mendapatkan wahyu dari Allah Swt yang isinya adalah untuk mendakwahkan Islam. Penjelasan tentang hal ini bisa dilihat penafsiran-penafsiran terhadap surah al-Mudatsir ayat 1-7.

Baca juga:  Islamisasi Jawa: Mati Bersama Cahaya

Setelah mendapatkan wahyu tersebut, Rasulullah saw kemudian mendakwahkan ajaran Islam. Namun di masa awal dakwah tersebut, pengikut beliau masihlah sedikit. Sebab penduduk Mekkah dan para kafir Quraisy sangat menentang ajaran-ajaran baru, termasuk ketika dakwah Islam masuk ke wilayah tersebut.

Para penentang keras dakwah Rasulullah adalah para pembesar Quraisy sendiri, sebab hal tersebut bisa membahayakan posisi-posisi sentral para pemuka Quraisy.

Dalam kitab Durrotun Nasihin, bahkan ada sebuah penjelasan bahwa seorang kafir Quraisy pernah menceritakan ketika ditanya raja Habib bin Malik, kalau Rasulullah saw sebelum umur 40 tahun adalah seorang yang baik, tidak melawan agama nenek moyangnya. Namun setelah beliau umur 40 tahun, menjadi berubah dan menjelek-jelekkan agama nenek moyangnya.

Akibat berbagai tuduhan yang menimpanya, Rasulullah saw akhirnya melakukan dakwahnya dengan diam-diam. Pada saat ini, pengikut Rasulullah saw tentu sangat sedikit, bahkan bisa jadi ajaran yang didakwahkan beliau belum diterima oleh siapa pun.

Akhirnya, beliau mendakwahkan Islam kepada keluarga terdekatnya dan para sahabat-sahabat terdekatnya. Hal tersebut dilakukan oleh Rasulullah juga atas perintah Allah Swt, melalui firman-Nya surah asy-Syu’ara ayat 214 yang artinya; “dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat”.

Dari sinilah, orang-orang yang pertama kali menerima dakwah beliau dan masuk Islam adalah keluarga dan sahabat terdekatnya, seperti Siti Khadijah istri beliau, Ali bin Abi Thalib sepupu beliau, Abu Bakar sahabat beliau, Zaid bin Haritsah budak yang diangkat anak, Ummu Aiman yang merupakan pengasuh beliau.

Baca juga:  Berharap Tuah Singa-Singa Muda

Setelah berhasil mengislamkan orang-orang terdekatnya, mereka yang sudah Islam juga mempunyai peran penting dalam mendakwahkan Islam kepada yang lainnya. Misalnya Abu Bakar yang berhasil mengislamkan Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqash, Thalhah bin Ubaidillah dan Al-Arqam bin Abi al-Arqam. Dari sini, kita tahu, Nabi tidak selalu berperan secara langsung mengislamkan orang.

Tiga tahun pertama setelah beliau diangkat menjadi rasul untuk mendakwahkan Islam dan pengikutnya masih sangat sedikit. Untuk melakukan dakwahnya, beliau memilih rumah Arqam sebagai tempat dakwah sembunyi-sembunyi tersebut.

Sebab dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw banyak mendapat perlawanan dan pertentangan, baik itu dari kalangan kafir Quraisy maupun penduduk Mekkah. Bahkan para kafir Quraisy tidak segan-segan untuk menyiksa, dan membunuh orang-orang dari kalangan mereka yang mengikuti Nabi Muhammad. Tak peduli orang yang berasal dari keluarga mereka sendiri, seperti yang terjadi pada diri Sumayyah.

Ketika menggunakan rumah Arqam atau yang biasa disebut dengan Baitul Arqam, banyak orang yang mendengar ajaran beliau dari mulut ke mulut. Maka sedikit demi sedikit orang-orang tertarik untuk mengukti ajaran agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah. Walaupun mereka mengikutinya dengan keadaan sembunyi-sembunyi, dengan nyawa sebagai taruhannya, lama kelamaan yang mualaf makin banyak.. Hingga turunlah wahyu yang memerintahkan beliau untuk berdakwah secara terang-terangan, yaitu surah al-Hijr ayat 94.

Baca juga:  Karomah Mbah Kholil Bangkalan untuk Mbah Hasyim Asy'ari

Jadi, ketika pengikut Rasulullah saw masih sedikit menggunakan cara dakwah dengan sembunyi-sembunyi. Namun cukup efektif, meski dilakukan sembunyi-sembunyi. Beberapa orang, terutama Abu Bakar dan Khadijah berperan aktif menyokong dan menyebarkan dakwah beliau.

Beruntung, meski sedikit, para pengikut Nabi di masa awal adalah orang-orang yang berpengaruh, seperti dua nama yang saya sebut tadi. Sehingga, pelan tapi pasti, banyak orang merapat untuk mendengarkan syiarnya. Setelah itu juga, banyak orang-orang baik laki-laki maupun perempuan yang masuk Islam sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah-nya.

Dalam berdakwah, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah saw yang menjadi objek dakwah adalah orang-orang terdekat, sebab secara psikologis mempunyai hubungan emosional erat dengan sang pendakwah. Dan tentu saja hal tersebut sesuai dengan perintah Allah Swt.

Namun dalam perkembangannya, hubungan emosional yang dekat bukan hanya ada dalam diri orang-orang terdekat seperti keluarga, sahabat dan lainnya. Tetapi juga yang mempunyai pemikiran dan tujuan yang sama, khususnya dalam mendakwahkan Islam yang penuh dengan kasih sayang.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top