Malam Terakhir Khalifah Utsman bin Affan

Fadh Ahmad Arifan M.Ag

Utsman bin Affan bukan sekedar Sahabat Rasulullah saw. Beliau juga menantu yang pertama. Bedanya dengan Khalifah Ali bin Abi thalib, Usman menikahi dua putri Rasulullah yakni Ruqayyah dan Ummi Kulsum. Sehingga Utsman punya julukan “Dzun nurain”, yang memiliki dua cahaya.

Disebutkan Majid Ali Khan dalam Sisi hidup Para khalifah Saleh (Risalah Gusti, 2000), Utsman dikenal memiliki akhlak yang luhur, selalu membantu orang miskin. Tidak ragu membelanjakan hartanya demi melenyapkan kesengsaraan orang miskin dan sebelum memeluk Islam, tidak pernah minum khamr. Rasulullah saw pernah berkomentar tentang Utsman:

“Utsman adalah orang pertama dari umatku yang hijrah (karena Allah) dengan keluarganya.”

Sebelum Umar wafat, beliau membentuk Majelis syura yang ditugasi memilih dan mengangkat khalifah berikutnya. Terdiri dari Abdurrahman bin auf, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah, Saad bin Abi Waqqash dan Zubair bin Awwam. Singkat cerita, Usman ditakdirkan oleh Allah swt menjadi pengganti Amirul mukminin, Umar bin khattab.

Utsman menjadi khalifah ketiga saat menginjak umur 70 tahun. “Apakah beliau berambisi?” Menurut pandangan Khalid Muhammad Khalid dalam buku Kehidupan para Khalifah teladan (Pustaka Amani, 1995), Umur 70 tahun bukanlah masa yang cocok buat ambisi dan bukan masa berkembangnya kesukaan terhadap kekuasaan.

Baca juga:  Bagaimana Ulama Terdahulu Menulis Sejarah Islam?

Apa prestasi yang telah ditorehkan khalifah Utsman? Selama 12 tahun periode kepemimpinannya, beliau mampu membangun armada kapal laut. Kapal-kapal ini digunakan untuk ekspansi ke Siprus dan Rhodes. Usman termasuk khalifah pertama yang merenovasi masjidil Haram dan masjid Nabawi.

Prestasi beliau yang bisa dirasakan manfaatnya hingga sekarang yakni kodifikasi mushaf Alquran. Kala itu, Usman membuat naskah mushaf berdasar kepada suhuf yang disimpan oleh Hafsah. Versi lain ditulis M.M. al-Azami dalam Sejarah Teks al-Quran dari Wahyu sampai Kompilasi (Gema insani, 2005), Usman membentuk panitia yang terdiri dari 12 orang yang berasal dari suku Quraish dan Anshar. Diantara mereka adalah Ubay dan Zaid bin tsabit.

Utsman juga mengambil Suhuf yang ada di bawah pengawasan Siti Aisyah sebagai perbandingan.

Namanya pemimpin sekalipun bertitel “Khalifah” tentu tak sepi dari tudingan miring. Tudingan bahwa beliau melakukan nepotisme. Usman mengangkat sanak saudara dalam jabatan strategis. Contohnya Muawiyah yang menjadi gubernur Syam. Abdulah ibn amir jadi gubernur Basrah dan Walid ibn Uqbah menjadi menjadi gubernur di Kufah. Faktanya, Muawiyyah sebelumnya ditunjuk Umar karena kecakapannya.

Terkait Kufah, dijelaskan M. Abdul karim dalam buku Sejarah pemikiran dan Peradaban Islam (Pustaka book, 2007), semasa kepemimpinan Usman terjadi 6 kali pergantian gubernur. Saad ibnu Waqqas yang digantikan oleh Walid, karena menyalah gunakan jabatan. Pinjam uang dari kas provinsi dan tidak lapor ke khalifah Usman. Gubernur Walid yang konon adalah saudara sepersusuan Usltsman, seiring perjalanan waktu juga diberhentikan. Karena ia peminum khamr dan pembawaannya kasar. Pengganti Walid adalah Said ibnu al-Ash. Ia ditunjuk karena berprestasi dalam penaklukan Azerbaijan.

Baca juga:  Menapak Jejak Musik Klasik Dinasti Abbasiyah

Jadi, nepotisme yang dituduhkan kepada Khalifah Utsman tidak terbukti. Pengangkatan sanak familinya itu berdasar dari prestasi atau kinerja di lapangan. Tetapi masih menurut M. Abdul Karim “memang pada akhir kepemimpinan Utsman, para gubernur yang diangkat tersebut bertindak sewenang-wenang terutama di bidang ekonomi. Hidup mewah orang Umayyah dan keluarga usman diprotes, sikap protes salah satunya dilakukan oleh Abu dzar al-Ghifari”.

Baca Juga

Kisah bagaimana wafatnya Khalifah Usman adalah yang paling tragis dibandingkan Umar dan Khalifah Ali. Meski gerbang rumahnya dijaga Hasan, Husein bin Ali dan Abdullah bin Zubair, sebagian pemberontak yang komandoi Muhammad bin Abu Bakar berhasil memanjat tembok belakang rumah.

Mereka memasuki ruangan dimana Khalifah Usman sedang membaca ayat suci Alquran. Inilah malam terakhir sang Khalifah. Salah seorang diantara pemberontak memukul kepalanya dengan kapak, sementara yang lain menyerang dengan pedang.

Dalam keadaan luka-luka berat karena serangan pemberontak, kepala Usman dipenggal oleh Amr bin Hamq. Beliau mati syahid pada hari Jumat, 17 Dzulhijjah 35 H.

Pasca membunuh Khalifah Utsman, para pemberontak menguasai Madinah dan mereka juga merampok Baitul Mal.

“Orang-orang Madinah takut terhadap mereka dan tidak keluar rumah. Jenazah Khalifah Utsman selama dua hari belum bisa dikuburkan. Akhirnya ada beberapa orang masuk ke dalam rumah dan melakukan penguburan,” tulis Majid ali Khan. Wallahu’allam.

Lihat Komentar (0)

Komentari