Sedang Membaca
Sufi Perempuan: Kurdiyah bint ‘Amr
Penulis Kolom

Muhammad Iqbal. Sejarawan. Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam IAIN Palangka Raya. Editor Penerbit Marjin Kiri. Menulis dua buku: Tahun-tahun yang Menentukan Wajah Timur (Yogyakarta: EA Books, 2019), dan Menyulut Api di Padang Ilalang: Pidato Politik Sukarno di Amuntai, 27 Januari 1953 (Yogyakarta: Tanda Baca, 2021).

Sufi Perempuan: Kurdiyah bint ‘Amr

Kurdiyah berasal dari Bashrah (atau juga Ahwaz). Ia biasa menjadi pelayan dari Sya’wanah.

Kurdiyah mengisahkan, “Suatu ketika aku menginap di rumah Sya’wanah. Tatkala aku tertidur, ia menendangku lalu berkata, ‘Bangunlah, hai Kurdiyah! Ini bukan negeri untuk tidur! Sesungguhnya, tidur tempatnya di dalam kubur!’”

Ditanyakan kepada Kurdiyah, “Berkah apa yang kau peroleh dari melayani Sya’wanah?”

Ia menjawab, “Sejak aku menjadi pelayannya, aku tidak lagi mencintai dunia; aku tidak pernah menyibukkan pikiranku dengan rezekiku; aku tidak pernah memuliakan satu pun dari pembesar-pembesar dunia, karena menginginkan apa yang mereka miliki; dan aku tidak pernah sedikit pun mengurangi hak seorang Muslim”.

Sumber: Abu ‘Abdurrahman as-Sulami, Early Sufi Women (Fons Vitae, Louisville, Kentucky, USA, 1999), dialihbahasakan oleh Rkia F. Cornell, dari kitab Dzikr an-Naswah al-Muta’abbidat ash-Shufiyat.

Baca juga:  Bagaimana Tasawuf Memandang Perempuan?
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top