Sedang Membaca
Khutbah Jumat: Haji dan Kemiskinan
Penulis Kolom

Penulis pernah mengajar di SMKN 2 Jepara, dan mengabdi di Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kabupaten Jepara. Pernah juga diamanahi menjadi Ketua MWC NU Kota Jepara. Kolom Khutbah Jumat adalah kumpulan naskah-naskah yang pernah disampaikan oleh almarhum dalam mimbar Jumat. Naskah itu kini diketik ulang supaya bermanfaat dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Lahu-alfaatihah..

Khutbah Jumat: Haji dan Kemiskinan

Kaum muslimin yang berbahagia

Mari kita hayati sejenak firman Allah yang sering kita dengar, dan hadist kanjeng rasul Muhammad Saw untuk memotivasi diri kita masing-masing, agar diri kita lebih berkualitas untuk masa yang akan datang.

Di dalam surat al-Ma’idah ayat 2 Allah berfirman:

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”.

Yang kedua, di dalam surat al-Hujurat ayat 10 disebutkan:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.

Kemudian, ada hadis kanjeng rasul Saw yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir berbunyi:

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Artinya: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Kemudian disusul wasiat kanjeng Rasul saw yang diriwayatkan oleh At-Turmudzi,

Baca juga:  Catatan Perjalanan: Foto-foto Masjid Nusantara Terpajang 10 Hari di Belanda

اَحِبَّ لِلنَّاِس

“Berkasihlah kamu dengan sesama manusia”

مَاتُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا

“Seperti engkau mengasihi dirimu sendiri, sesungguhnya engkau akan menjadi muslim sejati”.

Dari dasar firman Allah di atas, dan hadis kanjeng rasul Muhammad Saw serta wasiatnya kanjeng rasul saw tersebut, kemudian ada pertanyaan besar kepada kita, apakah ada hubungannya antara ibadah haji dengan kemiskinan itu? Sebab di antara keduanya itu bertolak belakang.

Karena seseorang yang akan pergi haji itu salah satu syaratnya adalah hidupnya kecukupan atau mampu, sedangkan seseorang dikatakan hidup dalam kemiskinan, karena mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, baik meliputi sandang, pangan, papan dan kebutuhan lainnya.

Kaum muslimin yang berbahagia

Maka pada kesempatan ini, akan kami ceritakan kisah ulama’ termasyhur yang bernama Abdullah bin Mubarok, yang hidup pada abad ke-12, tepatnya tahun 1118 Masehi, yang terdapat dalam kitab An-Nawadir, karya Ahmad Sihabuddin bin Salman Al-Qulyubi, di sana diceritakan bahwa ketika Abdullah bin Mubarok berangkat haji bersama rombongan haji, beliau melewati berbagai daerah, hingga ayam yang dibawanya mati, beliau lalu memerintahkan seorang sahabatnya untuk melemparkannya ke tempat sampah. Sejenak kemudian, setelah ayam dilempar tiba-tiba datanglah seorang perempuan mengambil ayam yang telah mati itu.

Kemudian Abdulloh bin Mubarok heran. Lalu beliau menanyakan alasan mengapa ia sudi mengambil bangkai ayam tersebut? Kemudian perempuan miskin tadi menceritakan bahwa kami melakukan dengan sangat terpaksa karena kami dan kawan-kawan tidak mendapatkan makanan sejak beberapa hari.

Baca juga:  Al Aqsa, Masjid Para Malaikat

Mendengar penjelasan perempuan tersebut, Abdulloh bin Mubarok kembali ke kampung halamannya. Ia bahkan mengatakan: ini lebih baik, ini lebih baik daripada ibadah haji kita tahun ini.

Dari kisah di atas dapat dilihat, bagaimana para ulama’ terdahulu berusaha mencari amalan yang paling besar pahalanya serta paling dicintai Allah Swt.

Bagi Abdullah bin Mubarok, dapat memberikan makanan orang kelaparan adalah sebuah kewajiban yang harus didahulukan, ini merupakan pembelajaran bagi kita umat islam zaman sekarang ini.

Adapun melaksanakan ibadah haji dan umroh yang kedua, ketiga, dan seterusnya itu sunnah hukumnya.

Jadi muslim yang sejati dan mengamalkan agamanya adalah mereka yang mengutamakan membantu menyelematkan saudaranya yang miskin dan kelaparan daripada hal-hal yang dianggap penting secara pribadi atau hanya memuaskan nafsu semata. Padahal ada sesuatu yang lebih penting , demi menjaga keselamatan hidup dan menjaga keimanan dalam beragama bagi sesama muslim.

Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang mudah terketuk dan mau membantu semua perjuangan di jalan Allah, di mana saja kita berada sesuai kemampuan kita masing-masing. Dan semoga kita semua beruntung baik di dunia maupun di akhirat, serta dapat terhindar dari siksa api neraka. Allahhumma Amien..

Masjid Kapolres Jepara, 2 November 2012

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
2
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top