Sedang Membaca
Masjid Pesantren Tambakberas, Saksi Sejarah Pejuang Revolusi
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Masjid Pesantren Tambakberas, Saksi Sejarah Pejuang Revolusi

Mahbib Khoiron

Jika ditanya, adakah tempat ibadah yang sekaligus menjadi tempat perjuangan di zaman revolusi? Jawabannya bukan hanya ada, namun banyak. Dan Masjid Tambakberas salah satu jawabannya.

Ia pernah menjadi tempat persembunyian para patriot yang sedang berkorban demi kemerdekaan. Ketika Jepang mulai menancapkan cakar-cakar kolonialismenya di Bumi Pertiwi pada tahun 1942, masjid ini dipandang sebagai lokasi yang paling aman.

Masjid Tambakberas pun menjelma semacam “markas” bagi pejuang untuk menyelamatkan diri untuk kemudian merumuskan strategi pertempuran menumpas kaum penjajah.

Sejumah pahlawan nasional seperti KH Muhammad Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan ulama-ulama kharismatik lain kerap menggelar rapat-rapat penting di masjid yang berlokasi di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Desa Tambakberas, Kecamatan Kota Jombang, Jawa Timur ini. Masjid Tambakberas juga termasuk saksi bisu proses pendirian ormas terbesar Islam, Nahdlatul Ulama (NU).

KH Abdul Wahab Chasbullah semula mendirikan masjid tersebut pada awal abad ke-20 sebagai tempat shalat dan mengaji para santri. Suasana pergolakanlah yang membuatnya merangkap fungsi sebagai basis persembunyian para pejuang. Apalagi, Kiai Wahab merupakan salah seorang pemrakarsa berdirinya barisan Hizbullah yang memperkuat pasukan Pembela Tanah Air alias Peta.

Serambi Masjid Tambakberas adalah sarana yang sejak awal didesain sebagai tempat saalat dan belajar para santri. Di bagian inilah Kiai Wahab mulai mengajar sepulang dari belajar di Makkah pada tahun 1915 dan melakukan reformasi pendidikan di pesantren dengan menerapkan sistem pendidikan klasikal.

Baca juga:  Zaid bin Amr, Non-Muslim yang Dijanjikan Surga
Masjid Tambakberas ketika awal-awal berdiri

Di masjid itu madrasah pertama yang ia dirikan bernama “Madrasah Mubdil Fan”. Pola pendidikan madrasah bisa dikatakan sebuah terobosan kebijakan di pesantren pada zaman itu yang didominasi pembelajaran model halaqah. Kiai Wahab memelopori penggunaan penjelasan tertulis dalam proses mengaji meski saat itu hanya berbekal daun pitu yang disulap menjadi papan tulis. Namun, materi yang diajarkan tak berubah, masih seputar ilmu gramatika Arab (nahwu dan sharaf), fikih, tauhid, dan lain-lain.

Madrasah itu sempat tidak mendapat restu dari sang ayah, KH Hasbullah, karena dianggap menyerupai model pendidikan yang dilakukan penjajah Belanda. Sampai akhirnya proses pembelajaran madrasah pun dipindah ke lokasi sekitar 300 meter sebelah barat masjid.

Atas tekad yang kuat, Kiai Wahab berhasil meyakinkan ayahnya dan hasil rintisannya pun berkembang pesat hingga kini menjadi pesantren besar yang disegani. Dari masjid sederhana muncul Pondok Pesantren Bahrul Ulum dengan ragam lembaga pendidikan mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Tampilan arsitektur Masjid Tambakberas yang kita lihat kini tak mengalami banyak perubahan dari kondisi awal. Gaya bangunan kuno masih mendominasi di berbagai sudut. Pemugaran dilakukan sebatas pada sisi-sisi yang memang perlu diselamatkan karena dimakan usia.

Layaknya masjid klasik pada umumnya, bangunan Masjid Tambakberas berbentuk kotak dengan atap yang meruncing ke atas. Atap masjid adalah tajuk tumpang dua dengan kubah berdiameter hanya sekitar satu meter di pucuknya.

Baca juga:  Kelenteng dan Masjid Bersanding di Bangka, Simbol dan Nilai Kerukunan

Dinding yang mengelilingi Masjid Tambakberas masih asli. Perbaruan dilakukan hanya pada lapisan-lapisan dinding yang mengelupas. Jeruji besi memagari lubang-lubang jendela dengan dua daun pintu kayu yang menempel di kedua sisinya. Gaya desain Jawa kuno terasa sekali pada bagian ini.

Baca Juga

Ruang interior masjid bisa dibagi menjadi tiga, yakni ruang utama dengan empat tiang penyangga utama struktur atas masjid, ruang mirip aula di bagian tengah, dan teras depan. Dua ruangan yang disebut terakhir sampai kini masih ditempati para santri mengaji.

Yang tampak mencolok dari di bagian luar masjid ini adalah menara tunggal pada bagian pintu masuk di sisi timur. Menara setinggi 15 meteran ini dibangun sebagai tempat adzan. Di atas menara itu kini bertengger beberapa pengeras suara yang mengarah ke segala penjuru mata angin. Tak seperti umumnya menara berlanggam Timur Tengah, menara Masjid Tambakberas memiliki ukuran lebih pendek dibanding diameter silindernya cukup gemuk.

Tentang menara masjid ini, cerita unik pernah disampaikan sejarawan Zainul Milal Bizawie (2016:20) dalam Masterpiece Islam Nusantara. Kiai Chasbullah Said, ayah Kiai Wahab, suatu saat memberi pesan yang dituliskan di bangunan yang kini dikenal dengan menara Masjid Pondok Induk itu. Seusai menuliskan pesan tersebut, Kiai Chasbullah menutupinya dengan kain satir dan berwasiat kepada kepada para santri agar tidak ada yang membukanya.

Baca juga:  Asal-usul Salib
Empat huruf keramat (Elik Ragil/Alif)

Beberapa tahun kemudian mejelang wafatnya, Kiai Chasbullah berpesan lagi kepada santri, “Lek misale aku mati omongono nang Wahab kongkon buka tulisan nak menara tahun 1948 (kalau misalnya aku sudah meninggal, katakan kepada Wahab untuk membuka tulisan di menara tahun 1948).” Beberapa bulan kemudian ia wafat. Pada tahun 1948, wasiat Kiai Chasbullah itu pun dilaksanakan. Dengan didampingi para santri yang terus mengumandangkan Shalawat Burdah, ia membuka satir yang diikat di menara masjid. Di balik satir itu terdapat ukiran huruf hijaiyah ha ra ta mim (حر تم).

Huruf-huruf yang menempel di menara tersebut jika disambung akan terbaca hurun taamun yang berarti kemerdekaan yang sempurna. Benar, pada tahun 1948 kemerdekaan Indonesia mulai diakui dunia, agresi militer juga telah berhasil dipukul mundur. Hingga kini, tulisan tersebut masih lestari di dinding menara yang sekarang juga dikenal sebagai Masjid Jami Bahrul Ulum itu.

Lebih dari sebatas situs sejarah atau tempat ibadah, Masjid Tambakberas adalah monumen bagi spirit kebangsaan yang tumbuh dari rahim ketaatan beragama. Ia adalah simbol sinergitas antara nasionalisme dan Islam.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top