Sedang Membaca
Kado Natal dari Lucy (Catatan Perjalanan dari Melbourne)
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kado Natal dari Lucy (Catatan Perjalanan dari Melbourne)

Neng Yanti Khozana
Kado Natal dari Lucy (Catatan Perjalanan dari Melbourne) 1

Hari masih gelap. Ini musim panas yang ketiga. Para pemimpi masih tertidur dalam lelap ketika alarm membangunkannya. Pukul empat pagi. Di musim panas, pada jam itu subuh sudah dimulai. Pagi terasa cukup hangat.

Suasana seperti itu berbeda dengan musim dingin, yang terasa lebih berat. Pada jam yang sama, selimut tebal dengan electric blanket ibarat surga. Siapa pun enggan beranjak dari kehangatan tempat tidur yang melelapkan. Di musim dingin, lembayung pagi penanda subuh baru akan terbit pada pukul enam pagi.

Meski tidak sedingin winter, bangun pukul empat pagi di musim panas untuk siap-siap bekerja pasti membutuhkan tekad yang besar. Apa daya, casual job, pekerjaan sampingan yang biasa dilakoni oleh sebagian besar international student maupun pasangannya, lumayan untuk menambah uang jajan. Demi menyambung hidup di negri orang. Berjihad mencari rejeki yang halal. Terlebih, Melbourne termasuk dalam daftar kota termahal di dunia. Jadilah, selimut tebal terpaksa disingkirkan.

Bagi para pencari, hidup memang tidaklah selalu mudah. Tapi justru dalam ketidakmudahan itu terdapat banyak sisi untuk memaknai arti ‘berjuang’. Begitulah rutinitas pagi yang harus dijalani oleh para petualang di negeri orang. Sebagai pengantar koran atau delivery newspaper, misalnya. Delivery man, sebut saja namanya demikian.

***

Berikutnya adalah kisah mengenai sang delivery man itu, yang saya kenal pada satu perjumpaan di suatu pagi.

Sejak media online marak, para pelanggan media cetak makin berkurang. Ini pun menjadi kelugan utama bos newspaper agency tempat delivery man bekerja. Tentu para pekerja selalu menjadi yang pertama terkena imbas, yakni berkurangnya komisi dari setiap koran pagi yang dilempar.

Ya, dilempar. Di sini, koran-koran itu digulung memanjang lalu  dibungkus rapi dengan plastik untuk menghindari kerusakan jika terpercik air hujan atau berembun. Koran-koran biasanya dilemparkan dari jendela mobil ke halaman para pelanggan. Syarat menjadi delivery man memang harus punya mobil.

Baca juga:  Guruku Orang-Orang dari Pesantren Dikoleksi 100 Perpustakaan di Jepang

Lemparan-lemparan itu tak selalu akurat. Kadang masuk ke rumput-rumput yang tinggi sehingga si pelanggan marah-marah dan menelpon  bos pemilik agensi koran karena tak menemukan korannya. Tak jarang juga mengenai kaca rumah, lampu halaman, mobil dan lain-lain.

Pernah suatu ketika lemparan delivery man mengenai lampu taman hingga pecah. Ia pun ditelepon bosnya agar mendatangi pemilik rumah yang marah. Tak ada jalan lain selain mengganti lampu taman yang pecah itu dari koceknya sendiri. Hal seperti itu bukanlah tanggung jawab perusahaan, demikian kata si bos.

Delivery man bercerita, bahwa para pelanggannya rata-rata orangtua lajut usia, selain sekolah-sekolah, toko, dan perkantoran. Para manula inilah yang termasuk kategori para pembaca setia media cetak karena dunia online terlalu rumit bagi mereka. Tak sedikit di antara para pelanggan manula itu yang berjalan saja susah payah, harus menyeret tubuhnya perlahan menuju pintu untuk mengambil koran. Ada juga yg tak bisa lagi berjalan dan harus menggunakan kursi roda.

Untuk pelanggan yang  repot berjalan, delivery man berinisitif untuk tidak melemparkan koran itu, tapi mengantarkannya sampai depan pintu rumah agar memudahkan pelanggan yang renta itu untuk mengambil koran. Ini berarti memakan waktu lebih lama dari biasanya. Namun, delivery man dengan senang hati melakukannya.

Namun rupanya, tak semua pelanggannya senang dengan perlakuan sopannya. Seorang kakek menegurnya pada suatu pagi. “Lemparkan saja di halaman. Tak perlu kau menaruhnya di depan pintu rumahku,” teriaknya dengan suara parau. Delivery man kaget. “Hanya dengan cara inilah aku bisa menggerakkan tubuhku meski beberapa langkah saja,” ucap si kakek lagi beralasan. Delivery man pun tersenyum, mafhum.

Hampir tak ada interaksi antara seorang delivery man dengan pelanggannya karena umumnya mereka masih tertidur pulas. Serta, lemparan memang tak membutuhkan interaksi. Tetapi, delivery man satu ini memang cukup unik. Kebiasaannya mengobservasi sesuatu membuatnya tak sekedar ingin bekerja melempar koran. Ia ingin belajar sesuatu. Melalui pekerjaannya yang tampak tidak bergengsi itu, ia mempelajari budaya Australia, karakter masyarakatnya melalui pelanggan-pelanggannya.

Baca juga:  Khilafah di Indonesia: Bukan Pilihan Kita

“Aku bertemu hampir sebagian dari pelangganku,” katanya suatu hari. Ia tampak bangga menceritakan hal itu. “Aku tak ingin hanya mendapat lelah dari bekerja. Kehangatan sapaan para pelanggan seringkali membuat lelahku hilang. Dan, salah satu pelanggan yang dengan setia berlari ke pagar saat mendengar suara mobil di pagi hari itu bernama Lucy. Lucy setiap pagi menyapaku. Saat kulihat tatapan mata Lucy, rasa lelahku hilang. Jika sehari saja aku tak melihat Lucy, aku merasa kehilangan,” katanya melanjutkan.

Waktu terus berlalu. Tak terasa persahabatan antara dirinya dengan Lucy pun terjalin. Meski tanpa kata-kata.

Begitulah, dunia terus berputar. Berganti hari, bulan dan tahun. Banyak hal berubah. Namun satu hal yang sama, setiap Natal tiba, suasana kemeriahan di negeri kanguru ini begitu terasa. Tak ubahnya seperti suasana lebaran di tanah air. Pohon Natal ada di mana-mana. Dengan aneka rupa hiasan. Coklat lezat beraneka rupa dan rasa memenuhi toko-toko dan meja di rumah-rumah. Ibarat ketupat dan kue lebaran. Orang-orang sibuk merayakannya.  Berbagi hadiah, berbagi kebahagiaan.

Dalam budaya masyarakat Barat, tentu Natal adalah momen perayaan terbesar, seperti halnya perayaan lebaran di Indonesia. Di tanah air, bukankah lebaran telah menjelma menjadi sebuah tradisi besar? Bukan lagi semata-mata sebuah perayaan keagamaan, tetapi telah menjadi budaya yang amat khas. Lihatlah tradisi mudik yang luar biasa. Tradisi membuat macam-macam masakan hingga saling mengunjungi kerabat dan tetangga. Semua bagian dari tradisi lebaran di Indonesia.

Tak ada kemeriahan lebaran sebesar kemeriahan tradisi di Indonesia. Bahkan, di Timur Tengah sekalipun tak ada. Saat lebaran, ucapan seperti “Selamat Idul Fitri” dan “mohon maaf lahir dan batin” telah menjadi budaya yang khas. Tidak saja di kalangan orang Islam. Saat bertemu dengan kolega atau sahabat yang berbeda agama pun saling sapa khas lebaran itu terjadi.

Baca Juga

Baca juga:  Wisata Religi, Bukan Sekadar Rekreasi

Bagaimana dengan Natal di negri orang? Ya, seperti halnya ekspresi perayaan lebaran yang telah menjadi budaya di Indonesia, kemeriahan Natal pun telah menjadi ekspresi budaya masyarakat Barat. Pada hari-hari itu, orang-orang yang bertemu akan saling bersapa dan mengakhirinya dengan ucapan “Merry Christmas”.

Sebagai minoritas, kaum Muslim pun tak jarang menerima ucapan itu, seperti saat selesai bertransaksi di toko, di bank, atau bertemu di jalanan. Semua tak lain karena itu bagian dari tradisi. Setidaknya beberapa kali seorang teman menerima ucapan itu. “Tentu mereka  tak sempat berpikir apa agamaku, meski sudah jelas aku berjilbab. Itu karena, menurutku, ucapan natal telah menjadi ekspresi budaya masyarakat Barat,” seorang gadis berjilbab berparas manis bercerita pada suatu waktu.

Bahkan, si boy (anak saya), saat bersekolah di SD, beberapa kali juga menerima kartu natal dari sekolahnya. Natal adalah tradisi dan ekspresi kebahagiaan.

Ekspresi yang sama juga dirasakan delivery man. Setiap menjelang tanggal 25, ia selalu mendapat hadiah dan kartu ucapan yang istimewa dari pelangganya yang setia, Lucy, seekor anjing besar yang lucu. Lucy beserta majikannya  ingin berbagi kebahagiaan dengan mengirimkan kartu.

Kebahagian Lucy, majikannya, dan delivery man sama belaka dengan kebahagiaan kita kaum muslimin saat merayakan Lebaran. Dan, kita tak perlu tahu nama atau agama seseorang saat ingin berbagi kebahagiaan.

Lucy pun menuliskan di kartu ucapannya: To our special paper delivery man.

 

Melbourne,
23/12/14

Lihat Komentar (0)

Komentari