Sedang Membaca
NU dan Anak-anak Kita
Penulis Kolom

Penulis Buku Kisah Ulama Pendiri Bangsa dan Founder Penerbit Semesta Kreatif Alala

NU dan Anak-anak Kita

NU dan Anak-anak Kita

Saya baru saja selesai diskusi dalam forum pembaca buku Kisah Ulama Pendiri Bangsa (KUPB) tepat pada Harlah NU ke-95. Buku ini merupakan buku bergambar tentang sejarah pendirian Nahdlatul Ulama. Buku ini memang didesain untuk dibaca anak bersama orang tua. Saya menyebutnya sebagai proses pewarisan nilai.

Dari cerita para pembaca, ada banyak celetukan anak-anak ketika membaca buku ini.

“NU itu apa?”

“Kenapa kita kok harus NU-NUan?”

“Ulama itu apa?”

“Kiai Hasyim Asy’ari itu siapa?”

“Bangsa itu apa?”

Orang tua pun tergagap menjawabnya. Oh ternyata aku  merasa sudah NU, melakukan amaliyah NU, tapi ternyata itu tidak cukup membuat anak tahu apa itu NU.

Setelah mereka mulai menemukan sesuatu yang sudah mereka kenali dalam buku itu, baru anak-anak ini merasa terhubung.

“Oh ini logo NU to, ada di rumah kita.”

“Oalah, aku tahu kalo Ya Lal Wathon.”

Bagaimana Kita Menjadi NU?

Saya lahir di Jombang dan tumbuh seperti anak di kalangan santri pada umumnya. Ketika kecil mengaji Iqro’, besar sedikit belajar fasholatan dan mengaji nadzom-nadzom seperti Alala, Aqidatul Awam, Syifaul Jinan, belajar menulis arab dan pegon, dan lain-lain. Besar lagi sedikit belajar maknani kitab kuning dimulai dari Mabadi’ Fiqh, Jawahirul Kalamiyah, mulai kenal shorof dari Al-amtsilah At-Tashrifiyah dan kenal nahwu dari Nahwu Wadlih atau Jurumiyah. Lebih besar lagi mulai ngaji Taqrib, Imrithy, Fathul Majid, Bulughul Marom, dan seterusnya. Proses belajar ngaji anak-anak di kalangan santri mungkin berbeda-beda. Tapi kurang lebih begitu tahapannya.

Dengan mengaji kitab kuning dan mengenyam tradisi ini, seakan kita sudah menjadi NU dengan sendirinya. Orang seperti saya menjadi NU karena keturunan. Tapi di kota-kota, ada banyak orang tua mulai mengeluh, khawatir anaknya berbelok ke kelompok lain.

Beberapa waktu lalu saya diskusi via WAG dengan ibu-ibu Fatayat anak cabang sebuah kota pinggiran Jakarta. Ada pertanyaan, “bagaimana caranya agar tidak ada lagi ibunya NU, tapi anaknya ikut kajian PKS?” Saya sedang bedah buku KUPB diberi pertanyaan seperti itu. Sebuah pertanyaan yang cukup tidak terduga.

Apakah dengan mengaji ala pesantren tidak cukup menjaga ke-NU-an kita? Apa dengan aktif dalam organisasi NU tidak cukup meyakinkan anak kita untuk tetap di NU saja? Apalagi kalau tidak pernah mengaji di pesantren dan tidak aktif di NU, apa sewajarnya mengkhawatirkan anak kita ikut arus kelompok lain?

Baca juga:  Sabilus Salikin (52): Tarekat Ghazaliyah

Dalam acara Launching buku KUPB November 2020 lalu, Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen menceritakan dinamika NU di sebuah kota. Ada sejumlah yang kiai tidak diragukan keilmuannya, tapi tidak cukup pantas untuk menjadi syuriah karena dianggap kurang spirit ke-NU-annya. Jadi, dari mana spirit itu kira-kira berasal? Apa tidak cukup dengan menguasai ilmu-ilmu?

Kita tahu bahwa salah satu wasilah populernya lagu Ya Lal Wathon beberapa tahun belakangan ini tidak lepas dari kisah yang diriwayatkan Kiai Maimoen Zubair. Mbah Maimoen sering mengulang cerita tentang hari lahirnya yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Rasa kebangsaan kita sebagai kaum santri menemukan perjumpaan dengan masa lalu berkat kisah dan pengalaman Mbah Maimoen. Keluasan ilmu Mbah Maimoen yang bertemu dengan wawasan kebangsaan memberikan khazanah yang berharga bagi generasi saya, generasi millenial.

Lalu apa yang bisa didapat oleh generasi di bawah saya, adik-adik dan anak-anak kita?

Generasi NU Abad Kedua

Saya sangat bersemangat menulis buku KUPB yang saya niatkan sebagai jembatan antarabad. Buku ini bertugas membawa kisah seabad lalu kepada generasi abad selanjutnya. Buku ini diharapkan bisa menemani anak-anak yang sedang melanjutkan proses belajar ngajinya dengan wawasan sejarah ulama masa lalu. Mengapa aku harus ngaji? Mengapa ikut NU? Mengapa mondok? Buku ini tidak akan menjawab semua pertanyaan itu. Tapi dengan menghadirkan kisah keteladanan ulama masa lalu, anak-anak diharap dapat mendapat contoh; kiai dan santri ternyata beneran ikut melawan penjajah, kiai kalau disakiti kok sabar tidak marah, kiai ternyata dulu juga kecil seperti aku lalu mondok baru bisa jadi ulama. Gambaran-gambaran sederhana seperti itu yang diharapkan.

Ini bukan buku anak biasa yang berisi bunga-bunga atau kisah petualangan. Ini buku yang ingin membawa sejarah dalam format lebih sederhana tanpa kehilangan konteksnya. Salah satu konsekuensinya buku ini tak bisa dibaca sendirian oleh anak. Anak mungkin bisa membaca kata-katanya, tapi proses membaca lebih dari itu. Butuh diskusi dan refleksi untuk memahami sepenuhnya.

Padahal ada banyak anak yang belum dibiasakan dengan buku. Bagaimana mau memahami buku yang sulit? Dalam diskusi tadi, moderator punya kalimat yang menarik. Buku ini adalah buku yang akan berkali-kali dititilik, tidak hanya sekali tilik. Ketika anak menemukan sesuatu tentang NU, dia akan kembali mengingat dan membuka buku ini lagi.

Baca juga:  Resensi Buku: Perempuan di Titik Nol, Perlawanan atas Tirani Patriarki

Pesantren adalah NU kecil dan NU adalah pesantren besar, kalimat demikian sering diungkapkan. Yang ‘mengisi’ NU dengan kader-kader adalah pesantren-pesantren. Siapa yang mengisi pesantren-pesantren? Anak-anak kita.

Sebagian dari kita mungkin pernah terlibat perdebatan, anak kita boleh tidak nonton Nussa Rara? Yang membolehkan dikata apa tidak takut terpengaruh sebelah. Yang tidak membolehkan dibalas daripada nonton yang tidak-tidak.

Tantangan generasi anak NU abad kedua memang tidak hanya soal identitas. Apa mereka tetap menjadi NU atau tidak, bukan hanya itu. Di masa depan, apalagi anak-anak kita setahun ini harus berdiam di rumah karena pandemi, akan menghadapi dunia yang semakin cepat berubah. Apakah mereka bisa mengatasi berbagai kesulitan dan tekanan di masa depan? Tentang apa saja. Tentang ekonomi, identitas, kesehatan fisik dan mental, perubahan iklim, dan sebagainya.

Tapi jika kita mau setidaknya menjaga satu hal yang utama, saya teringat pada dawuh Gus Baha’. Beliau bilang sudah sangat gembira anaknya mau sholat membaca Allahu Akbar dan bersujud. Kita menjaga dan menyenangkan anak kita semata-mata memandang bahwa mereka adalah penerus sujud dan penerus kalimat tauhid.

Gus Baha’ selalu berhasil mengajak kita memandang lebih luas. Kalimat beliau itu menyadarkan saya bahwa mengawal anak untuk mengaji, sholat, mondok, dan seterusnya itu meneruskan penyembahan terhadap Allah di muka bumi. Anak kita belajar dari kita. Kita belajar dari orang tua dan guru kita. Guru kita belajar dari gurunya guru kita, dan seterusnya. Menjadi santri adalah melanjutkan sanad ilmu kesantrian dan keulamaan. Tepat di situ makna menjadi NU, yaitu melanjutkan tradisi ngaji yang sadar dari mana tali-temali keilmuan ini berpangkal. Bagaimana Islam yang hari ini kita amalkan berasal.

Pendek kata, mengawal anak mengaji agama sebaiknya dibekali juga dengan wawasan sanad dan sejarah. Ini berguna agar menjadi alas untuk berdirinya bangunan keilmuan yang mengambang di atas ketidaktentuan masa mendatang. Anak berdiri dengan dua kaki tradisi, yaitu ilmu-amaliyah dan sejarah. Sejarah adalah cerita dan anak-anak selalu menyukai cerita. Apalagi jika kita berhasil membuatnya terhubung dengan cerita itu.

Melanjutkan Terobosan

Dua dekade ini, kita sibuk berbenah untuk menyiapkan terobosan dakwah pesantren ke ranah digital. Kita sibuk membangun berbagai situs islam wasathiyah, membangun jejaring santri di sosial media, bahkan menyiapkan jaringan televisi. Semua media kita masuki karena setiap media adalah medan dakwah. Tidak hanya kita yang berdakwah, berbagai kelompok pun menggunakannya. Kita berusaha memperbarui cara tidak hanya agar tidak ketinggalan, melainkan juga memimpin. Usaha itu tidak sia-sia. NU Online mulai memimpin, berbagai situs-situs baru seperti Alif ini juga bermunculan dan terus bertahan.

Baca juga:  Sabilus Salikin (109): Corak Pemikiran dan Gaya Ibnu Arabi (Tarekat Akbariyah)

Kita hanya perlu melanjutkan untuk masuk ke tingkat yang lebih bawah. Ketika perdebatan Nussa Rara mencuat, kita harus mengaku bahwa kita tidak membuat yang serupa. Hari ini pasar kelas menengah Islam, tidak hanya menyasar orang dewasa, melainkan juga anak-anak. Selain platform digital yang terus bertumbuhan, media anak yang terus langgeng adalah buku. Penerbit buku anak sedang naik daun beberapa tahun belakangan. Industri buku anak dan buku parenting sedang sangat berkembang. Bahkan ketika Nussa Rara berhenti memproduksi video, bukunya terpesan sebanyak 20.000 eksemplar.

Yang perlu kita lakukan adalah melanjutkan terobosan yang sudah berhasil. Di antara kita harus ada yang bergerak untuk menggarap semesta pikiran anak-anak. Kita tidak perlu mengeluh karena tidak ada buku anak yang sesuai dengan tradisi NU. Buku yang tidak ada memang tidak bisa kita baca, tapi bisa kita buat. Itu salah satu yang mendorong saya memulai jalan ini. Saya berjumpa dengan beberapa ibu muda, pembaca KUPB, yang juga sefrekuensi ingin menulis buku anak NU. Mari kita lakukan.

Ketika anak-anak kita sudah kenal Youtube, kita perlu bekerja lebih keras bagaimana mereka mau mengenal konten tentang kitab Akhlaq lil Banin/Banat, Aqidatul Awam, Mabadi Fiqh dan lain sebagainya. Jika sulit memulainya, kita bisa membangun pintu gerbangnya. Kita perlu mengemasnya dengan cara yang sudah lebih familiar bagi mereka yaitu visualisasi dengan ilustrasi yang menarik dan narasi yang menyenangkan. Jika kita tidak ingin anak kita suka dengan sesuatu yang lain, kita bikin anak kita sayang dengan yang kita buat.

Kita sampai pada zaman yang kita harus gigih merebut perhatian anak kita sendiri dari sesuatu yang tidak bisa kita kontrol. Kita tidak bisa mengontrol segala seuatu terakait anak selamanya. Kita hanya bisa mengarahkan mereka pada jalan ilmu yang akan menjadi sensor diri ketika mereka sudah mandiri.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top